
“Ayo ditest dulu! Kasihan suami kamu penasaran,” kata Pak Dandi. Mia mengambil salah satu testpack lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Adrian menunggu di depan kamar mandi dengan cemas. Tujuh menit kemudian Mia keluar dari kamar mandi sambil membawa bungkus testpack yang sudah dibuka.
“Bagaimana?” tanya Adrian dengan penasaran.
“Nih,” Mia memberikan bungkus testpack kepada Adrian lalu ia duduk kembali di sebelah papahnya. Adrian memegang bungkus testpack dengan bingung. Ia melihat ke dalam bungkus testpack. Ia melihat sebuah stik berwarna putih di dalam bungkus testpack. Ia mengeluarkan stik lalu memandangi stik itu. Ada dua garis merah di stik itu.
“Artinya apa?” tanya Adrian sambil menunjukkan stik itu kepada Mia.
“Artinya positif. Mia hamil,” jawab Mia.
“Hamil? Alhamdullilah.” Adrian langsung sujud syukur.
“Ayo. Sekarang kita ke rumah sakit ke dokter kandungan,” ajak Adrian.
“Kalau sore harus ke tempat praktek pribadi,” sahut Pak Dandi.
“Waduh, berarti harus cari tahu dulu dong,” kata Adrian.
“Coba tanya ke Bunda. Barang kali Bunda tau tempat praktek pribadi dokter kandungan,” sahut Daniel.
“Oh iya. Sebentar Papah telefon Bunda.” Pak Dandi mengambil ponselnya yang ia simpan di atas nakas. Ia menelepon istrinya.
“Assalamualaikum,” ucap Ibu Gita di seberang sana.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Dandi.
“Bun. Tau tempat praktek dokter kandungan, nggak?” tanya Pak Dandi.
“Untuk apa Papah tanya dokter kandungan?” tanya Ibu Gita dengan curiga. Dulu suaminya tidak pernah tanya dokter kandungan tapi diam-diam punya istri baru. Sekarang terang-terangan nanya dokter kandungan, jangan-jangan punya istri baru lagi.
“Bukan untuk apa-apa. Papah tanya karena Mia mau pergi ke dokter kandungan,” jawab Pak Dandi dengan sabar.
“Jangan bohong ya, Pah! Bunda tidak mau dibohongi Papah lagi!” seru Ibu Gita.
“Astagfirullahaladzim. Papah nggak bohong. Lihat sendiri kalau tidak percaya!” Pak Dandi mengubah menjadi video call. Ibu Gita melihat Mia berada di sebelah Pak Dandi.
“Assalamualaikum, Bunda,” sapa Mia.
“Waalaikumsalam, sayang,” jawab Ibu Gita.
“Maafkan Bunda. Bunda jadi suudzon. Tadi Papahmu ijin mau makan siang dengan Adrian, tapi kenapa sekarang malah bertanya dokter kandungan ke Bunda. Bunda jadi curiga,” ujar Ibu Gita.
“Tidak apa-apa, Bunda. Mia mengerti perasaan Bunda,” jawab Mia.
“Tadi kamu tanya dokter kandungan untuk apa? Kamu hamil?” tanya Ibu Gita.
“Iya, Bunda. Mia hamil. Mia sedang mencari dokter kandungan untuk periksa kandungan,” jawab Mia.
“Alhamdullilah. Selamat ya, sayang,” ucap Ibu Gita.
“Bunda tidak tau dokter kandungan yang bagus. Bunda sudah lama tidak pernah ke dokter kandungan. Nanti Bunda tanya ke teman Bunda. Kalau nggak salah ada anak teman Bunda yang sedang hamil. Nanti Bunda tanya dia suka periksa ke dokter siapa. Kalau sudah dapat alamatnya nanti Bunda kirim alamatnya ke Mia,” ujar Ibu Gita.
“Iya, Bunda. Terima kasih, Mia sudah merepotkan Bunda,” ucap Mia.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, sayang. Bunda senang bisa membantu kamu,” jawab Ibu Gita.
“Sudah dulu ya, Bunda. Assalamualaikum,” ucap Mia.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Gita.
Mia mengakhiri video call.
”Bagaimana?” tanya Adrian dengan tidak sabar.
“Bunda mau tanya ke temannya dulu,” jawab Mia.
“Kalau begitu kita sholat ashar dulu! Kita sholat berjamaah,” ujar Pak Dandi.
“Adrian jadi imam,” sahut Daniel.
“Kok gue, sih?” tanya Adrian. Ia malu menjadi imam di depan mertuanya maklum ia baru dua bulan mulai sholat lagi.
“Kan kalau sholat ashar bacaannya tidak dikeraskan. Jadi Papah tidak tau kalau bacaan surat pendek lu cuma itu-itu saja,” kata Daniel.
“Elu tau saja,” kata Adrian membenarkan ucapan Daniel.
“Tau, dong. Elu kan b4j1ngan yang baru insaf,” jawab Daniel.
“Sialan, lu!” umpat Adrian.
“Sudah, jangan bercanda terus! Sekarang kita wudhu dulu,” ujar Pak Dandi. Pak Dandi beranjak keluar kamar untuk berwudhu diikuti oleh Daniel dari belakang.
Setelah sholat magrib Adrian mengantar Mia ke dokter Widyastuti dokter kadungan yang direkomendasikan oleh anak teman Ibu Gita. Sepanjang perjalanan wajah Adrian nampak ceria. Ia bahagia karena istrinya sedang hamil.
Adrian membelokkan mobilnya ke rumah sakit ibu dan anak. Kata Ibu Gita hari ini dokter Wid praktek di rumah sakit ibu dan anak.
“Kamu turun di lobby, ya!” kata Adrian yang mengarahkan mobilnya menuju ke lobby rumah sakit.
“Nggak mau, ah. Mau bareng sama Mas aja,” jawab Mia dengan manja.
“Ya sudah.” Akhirnya Adrian tidak jadi berhenti di depan lobby tapi langsung lurus menuju ke tempat parkir yang berada di basement.
Setelah memarkirkan mobilnya Adrian turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Mia. Kemudian mereka berjalan menuju ke liff yang berada di tempat parkir. Mereka keluar di lantai dasar. Mereka langsung menuju ke tempat pendaftaran yang ada di lantai dasar.
“Istri saya mau ke dokter kandungan Widyastuti,” kata Adrian.
“Sudah pernah diperiksa di sini?” tanya petugas pendaftaran.
“Belum,” jawab Adrian.
Lalu petugas pendaftaran meminta data-data Mia untuk di daftarkan sebagai pasien. Setelah daftar mereka di suruh menunggu di depan ruang periksa dokter Wid. Mia mendapat nomor empat. Beruntung Mia mendapat nomor antrian di bawah nomor sepuluh. Karena pasien dokter Wid biasanya bisa sampai nomor dua puluh. Bisa-bisa mereka pulang jam setengah sebelas malam. Deche kalau ke dokter Wid selalu pulang jam sepuluh malam.
Sambil menunggu dipanggil suster mengukur tekanan darah Mia dan menimbang berat badan Mia serta menanyakan riwayat Mia seperti kapan terakhir haid, apakah punya alergi atau penyakit lainnya. Setelah itu suster menyuruh Mia duduk kembali. Setelah menunggu delapan puluh menit akhirnya nama Mia dipanggil.
“Ibu Mia.” Suster yang bertugas di ruangan dokter Wid memanggil nama Mia.
“Alhamdullilah akhirnya dipanggil juga,” ucap Adrian. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan bayinya.
__ADS_1
Adrian dan Mia berdiri lalu memasuki ruang periksa.
“Selamat malam, Dok,” ucap Adrian.
“Selamat malam,” jawab dokter Wid.
Dokter Wid membaca kartu kasus Mia.
“Usia Ibu sangat muda sekali,” kata dokter Wid. Usia Mia baru dua puluh tahun.
“Apakah berbahaya jika hamil di usia dua puluh tahun?” tanya Adrian dengan cemas.
“Terlalu beresiko, Pak. Tapi mudah-mudahan tidak apa-apa,” jawab dokter Wid.
“Ada keluhan nggak, Bu?” tanya dokter Wid.
“Kalau masak suka pusing dan tidak kuat dengan bau masakan,” jawab Mia.
“Tadi siang dia pingsan, Dok,” sahut Adrian.
“Kenapa sampai pingsan?” tanya dokter Wid.
“Dia sedang emosional,” jawab Adrian.
Dokter Wid membaca kartu kasus Mia. “Tensi Ibu rendah. Berbahaya kalau terlalu rendah.”
“Sekarang Ibu naik ke tempat tidur, kita lihat kandungan Ibu,” kata dokter Wid.
Mia beranjak dari tempat duduk menuju ke tempat tidur. Suster mempersiapkan Mia untu USG. Setelah itu barulah dokter Wid USG perut Mia. Adrian memperhatikan melalui layar televisi yang di sediakan untuk keluarga yang mengantar.
“Kantungnya bayinya sudah ada. Janinnya juga sudah ada tapi masih kecil,” kata dokter Wid sambil memainkan alat USG di atas perut Mia.
“Bayinya ada berapa, Dok? Satu atau dua?” tanya Adrian.
“Satu, Pak,” jawab dokter Wid.
“Bapak berharap anak kembar, ya?” tanya dokter Wid.
“Iya, Dok. Saya ingin punya anak banyak,” jawab Adrian.
“Satu saja dulu, Pak. Apalagi usia Ibu masih sangat muda, kasihan ibu dan anaknya,” kata dokter Wid. Adrian setuju dengan perkataan dokter Wid yang penting keselamatan istri dan bayinya. Kalau ia menginginkan anak lagi tinggal membuat Mia hamil kembali.
Akhirnya dokter Wid selesai memeriksa Mia.
“Dijaga baik-baik kandungannya! Ibu terlalu beresiko. Makan makanan yang bergizi, jangan asal rasanya enak tapi tidak bergizi!” kata dokter Wid.
“Baik, Dok,” jawab Mia.
Dokter Wid memberikan resep obat. “Datang lagi setelah dua minggu,” kata dokter Wid.
“Terima kasih, Dok,” ucap Adrian.
Adrian dan Mia keluar dari ruangan dokter Wid.
__ADS_1