Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
60. Bertemu Hari


__ADS_3

Karima dan Daniel berjalan menuju mobil Daniel. Karima membuka pintu mobil dengan menggunakan remote. Ia dan Daniel masuk ke dalam mobil. Daniel duduk di sebelah Karima. Karima menyalakan mesin mobil lalu ia mengeluarkan mobil dari tempat parkir.


Karima menyetir mobil dengan tenang. Mobil meluncur di jalan raya Ciater Tangerang Selatan. Mobil itu mengarah ke sebuah institute tehnologi yang berada daerah Serpong Tangerang Selatan.


Daniel memperhatikan cara Karima yang menyetir dengan begitu tenang seolah ia sudah biasa menyetir mobil milik Daniel. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


“Pak, kos-kosannya nomor berapa?” tanya Karima sambil fokus menyetir mobil.


Daniel membaca kertas yang ia pegang. “Nomor seratus lima,” jawab Daniel. Karima menyetir sambil memperhatikan nomor rumah. Akhirnya sampailah mereka ke tempat kos milik PT Cipta Kerja Utama. Karima memarkirkan mobil di pinggir jalan.


“Apa tidak apa-apa mobil Bapak di parkir di sini?” tanya Karima. Karima takut mobil Daniel lecet karena terserempet oleh kendaraan yang lewat.


“Terus mau parkir dimana? Di genteng?” tanya Daniel.


“Sudah biarkan saja. Kalau mobil saya lecet saya minta ganti ke Pak Dandi,” ujar Daniel lalu turun dari mobil.


Dasar anak papa! Seru Karima di dalam hati.


Karima pun turun dari mobil dan menyusul Daniel. Daniel masuk ke dalam kos-kosan memperhatikan kos-kosan milik perusahaan papanya. Kos-kosan itu terlihat rapih dan bersih.


“Lumayan juga,” puji Daniel.


Seorang pemuda melihat Daniel yang sedang memperhatikan sekeliling kos-kosan.


“Bapak siapa? Mau cari siapa?” tanya laki-laki itu dengan penuh selidik. Gaya Daniel sudah mirip dengan bos-bos yang hendak membeli rumah.


“Saya pemilik kos-kosan yang baru,” jawab Daniel.


“Ah, yang bener? Setahu saya pemilik kos-kosan ini Pak Haji Jaelani,” kata pemuda itu.


“Sudah bukan milik Pak Haji Jaelani. Sekarang milik Pak Dandi,” jawab Daniel.


“Terserah deh, mau milik Pak Haji Jaelani ata milik Pak Dandi. Cuma saya minta jangan setiap bulan uang sewa naik lima ribu rupiah,” kata pemuda itu.


“Kata siapa naik lima rupiah?” tanya Daniel.


“Kata yang suka ambil uang sewa kos. Kalau tidak salah namanya Engkus. Dia saudaranya Pak Haji Jaelani. Dia orang kepercayaannnya Pak Haji,” jawab pemuda tersebut.


Daniel menoleh ke Karima. “Bu Rima, di situ berapa sewa kos-kosan perbulannya?” tanya Daniel.


Karima memperlihatkan data-data kos-kosan. Ternyata di data tersebut tercantum kalau sewa kos-kosan tujuh ratus ribu rupiah. Wajah Daniel berubah menjadi merah menahan marah. Tapi tetap saja dia harus bersikap tenang.


“Boleh saya lihat bukti pembayaran sewanya?” tanya Daniel.

__ADS_1


“Tunggu sebentar. Saya ambil dulu di kamar,” jawab pemuda tersebut. Pemuda itu masuk ke dalam kamar. Tak lama ia memberikan kwitansi pembayaran uang sewa. Kwitansi itu berupa kertas foto copy. Di kertas fotocopy tertera nominal delapan ratus ribu rupiah.


“Loh kok delapan ratus ribu?” tanya Daniel.


“Kan tadi saya sudah bilang setiap bulan naik lima ribu. Nah sekarang sudah hampir dua tahun jadi sudah naik seratus ribu,” jawab pemuda itu.


Daniel mengambil ponselnya dan menelepon Pak Heru. Ia menanyakan apakah benar jika kwitansi uang sewa menggunakan kertas fotocopy. Kata Pak Heru kertas kwitansi bukan berupa fotocopy tapi berupa kwitansi asli. Mendengar hal tersebut Daniel marah besar. Ia menyuruh Pak Heru menahan orang-orang yang ditugaskan untuk menarik uang sewa. Mereka dilarang kemana-mana sebelum Daniel datang. Kemudian Daniel mengakhiri pembicaraannya.


Daniel memberikan kembali kwitansi kepada pemuda tersebut.


“Maaf ya, Mas. Mas sudah ditipu oleh orang yang mengambil uang sewa. Semestinya Mas membayar sewa sebesar tujuh ratus ribu,” ujar Daniel.


“Jadi bagaimana dengan uang lebih yang sudah saya bayar?” tanya pemuda itu.


“Minta saja ke Engkus. Dia tidak menyetorkan uang kelebihannya ke kantor tapi dia ambil uang itu. Kalau Mas mau minta uang Mas kembali, cari saja dia di kantor,” jawab Daniel.


“Terima kasih, Pak,” ucap pemuda itu.


Daniel dan Karima melanjutkan kunjungan mereka ke tempat kos dan rumah kontrakan yang lain. Setelah bertanya-tanya kepada penghuni kos dan rumah kontrakan ternyata mereka sama dinaikkan sewanya setiap bulan sebanyak lima ribu. Daniel kesal mendengarnya. Ia ingin cepat-cepat kembali ke kantor dan memecat para penarik uang sewa. Mereka dengan seenaknya menaikkan uang sewa. Mereka mendapat kepercayaan dari Pak Haji Jaelani karena mereka masih saudara Pak Haji.


Setelah kunjungan terakhir ke rumah kontrakan, Daniel memutuskan untuk kembali ke kantor. Ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berusia delapan tahun mengkayuh sepeda dan mendekati mereka. Anak itu berteriak,” Mama.” Karima dan Daniel menoleh ke anak tersebut.


“Abang,” kata Karima ketika melihat wajah anak tersebut. Anak itu menghampiri Karima.


“Abang lagi, apa? Kok mainnya jauh sekali?” tanya Karima kepada anak laki-laki itu.


“Tapi mainnya jangan terlalu jauh! Main di sekitar rumah aja,” ujar Karima kepada anak tersebut.


Daniel memperhatikan Karima dan anak itu.


“Mama lagi apa?” tanya anak itu.


“Mama lagi kerja,” jawab Karima.


“Kok kerjanya di sini? Kata Mama, Mama kerjanya di kantor,” tanya anak itu kembali.


“Mama lagi antar atasan Mama,” jawab Karima.


“Itu atasan Mama?” Anak itu menunjuk ke Daniel.


“Iya. Abang salam dulu sama Om!” jawab Karima.


Anak itu menghampiri Daniel lalu mencium tangan Daniel. Daniel tersenyum ketika anak itu mencium tangannya. Daniel mengusap kepala anak itu lalu ia mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.

__ADS_1


“Siapa namanya?” tanya Daniel.


“Hari,” jawab anak itu.


“Sudah kelas berapa?” tanya Daniel.


“Kelas tiga,” jawab Hari sambil menunjukkan angka tiga dengan menggunakan jari kanannya.


“Pinter. Sudah besar, dong,” kata Daniel.


“Iya. Sudah bisa jagain Mama dan adik-adik,” jawab Hari.


Karima memperhatikan interaksi Daniel dengan Hari. Daniel sepertinya ramah kepada anak-anak.


“Hari punya adik berapa?” tanya Daniel.


“Punya dua. Namanya Gathan dan Rachel,” jawab Hari.


“Banyak sekali adiknya,” kata Daniel.


“Abang,” panggil Karima.


“Iya, Ma.” Hari menghampiri Karima.


“Abang pulang, ya! Mainnya jangan jauh-jauh. Main di dekat rumah saja. Mama mau kerja lagi,” kata Karima.


“Iya, Ma,” jawab Hari.


Hari menghampiri Daniel. “Om, Abang pulang dulu.” Hari mencium tangan Daniel.


“Hati-hati naik sepedanya!” kata Daniel.


“Iya, Om,” jawab Hari. Lalu Hari mencium tangan Karima. “Assalamualaikum,” ucap Hari.


“Waalaikumsalam,” jawab Karima dan Daniel. Hari bergabung dengan teman-temannya dan meninggalkan tempat itu.


Karima menyetir mobil dengan tenang. Ia dan Daniel dalam perjalanan kembali ke kantor.


“Bapak mau pergi kemana lagi?” tanya Karima.


“Kita rumah makan dulu. Perut saya lapar belum makan siang,” jawab Daniel. Dari pagi ia berkeliling di Tangerang Selatan untuk memeriksa kos-kosan dan rumah kontrakan. Sebetulnya dia bisa saja menuyuruh asistennya untuk memeriksa aset milik papanya. Tapi Daniel tidak bisa melepas tangan begitu saja, ia harus turun tangan melihat langsung aset-aset milik papanya.


“Kita cari masjid dulu. Saya belum sholat dzuhur,” ujar Daniel.

__ADS_1


“Baik, Pak,” jawab Karima. Karima menyetir mobil sambil mencari masjid.



__ADS_2