Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
25. Keinginan Mia.


__ADS_3

Adrian berjalan menuju pintu ruang tamu, tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu. Mia berdiri di depan pintu. Adrian tersenyum melihat Mia yang membuka pintu.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Mia.


Adrian memberikan tas kerjanya kepada Mia lalu masuk ke dalam rumah.


“Kok sepi? Emak kemana?” tanya Adrian ketika masuk ke dalam rumah. Biasanya Emak sedang menonton televisi.


“Lagi ada di dapur sedang masak,” jawab Mia.


“Kamu sudah bilang ke Emak tentang rencana kita mau pergi nanti malam?” tanya Adrian.


“Sudah. Kata Emak boleh pergi. Tapi tidak boleh sampai larut malam!” jawab Mia.


“Tenang saja, tidak akan pergi sampai larut malam,” kata Adrian.


“Saya mandi dulu, ya,” ujar Adrian. Mia menjawab dengan mengangguk.


Adrian masuk ke dalam kamarnya. Mia menuju ke ruang kerja Adrian untuk menyimpan tas kerja Adrian.


***


Setelah selesai sholat magrib Mia bersiap-siap untuk pergi. Ia memilih baju yang ia nilai sopan dan masih terlihat bagus. Ia menggunakan bedak tipis di wajahnya dan menggunakan lipstik tipis. Lalu ia menggunakan kerudung segiempat yang warnanya cocok dengan warna pakaiannya.


Ibu Titin masuk ke dalam kamar Mia.  Ia duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikan MIa yang sedang berdandan.


“Cantik sekali cucu Emak,” puji Ibu Titin.


“Kamu mirip seperti dengan mamahmu,” lanjut Ibu Titin.


“Pantas saja kamu jadi rebutan Tuan Adrian dan Tuan Daniel karena kamu sangat cantik,” lanjut Ibu Titin.


“Mak, jangan memuji Mia berlebihan,” ujar Mia.


“Emak bukan memuji. Tapi memang kenyataannya demikian. Dulu juga papahmu terpikat dengan kecantikan mamahmu,” jawab Ibu Titin.


“Mak, apa Emak tidak ingat sama sekali tempat makam Papah?” tanya Mia.


“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tempat makam papahmu?” tanya Ibu Titin.


“Mia ingin tau saja. Suatu hari nanti Mia akan mencari makam papah. Mia ingin berziarah ke makam papah,” jawab Mia.


Ibu Titin menghela nafas mendengar keinginan Mia.


“Mia, makam di Jakarta sangat banyak, tempatnya luas dan padat. Kalau kita tidak hafal dimana letak makam papahmu, kita akan kesulitan mencarinya,” kata Ibu Titin yang mencoba memberi pengertian kepada Mia.


“Kalau Mia ingin mendoakan papah tidak harus datang ke makam. Cukup doakan saja setiap selesai sholat dan setiap kali Mia ingat papah. Doa anak soleha pasti akan didengar oleh Allah SWT,” lanjut Ibu Titin.


“Sekarang Mia siap-siap! Kasihan Tuan Adrian sudah menunggumu di luar,” kata Ibu Titin.

__ADS_1


“Iya, Mak,” jawab Mia. Mia mengambil tas selempangnya.


“Mia pergi dulu.” Mia mencium tangan Ibu Titin.


“Iya, hati-hati,” jawab Ibu Titin.


Mia keluar dari kamarnya, Adrian yang sedang menunggu di ruang tengah langsung menoleh ke arah kamar Mia. Pandangannya terpaku pada gadis cantik yang berpenampilan sederhana. Mia menghampiri Adrian. Tatapan mata Adrian masih tertuju pada Mia.


“Kenapa? Penamipilan Mia kampungan, ya?” tanya Mia.


Mendengar pertanyaan Adrian langsung sadar.


“Nggak. Kamu cantik sekali,” jawab Adrian.


“Mia tidak punya pakaian lagi yang pantas untuk makan malam di restaurant,” kata Mia.


“Itu juga sudah bagus. Sudah jangan dandan terlalu cantik!  Nanti banyak laki-laki yang melirik kamu,” kata Adrian.


“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Adrian.


“Mak, kami berangkat dulu,” pamit Adrian.


“Iya. Hati-hati nyetir mobilnya. Jangan pulang larut malam!” pesan Ibu Titin.


“Iya, Mak,” jawab Adrian.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titin.


“Pak, saya pergi dulu,” kata Adrian kepada Pak Suwito.


“Iya, Pak,” jawab Pak Suwito.


Adrian masuk ke dalam mobil lalu ia menyalakan mesin mobilnya. Adrian memasang seat belt sambil menoleh ke arah Mia.


“Mia,” panggil Adrian.


Mia menoleh ke Adrian.


“Seat belt nya dipasang dulu!” kata Adrian.


“Oh iya, lupa.” Mia menarik seat belt lalu memasang seat belt.


“Bisa?” tanya Adrian.


“Bisa. Nih sudah terpasang.” Mia memerlihatkan seat belt yang terpasang di tubuhnya.


“Oke. Kita jalan sekarang.” Adrian menjalankan mobilnya.


Selama dalam perjalanan Mia terlihat hanya diam saja. Gadis itu sedang melamun, ia seperti memikirkan sesuatu. Adrian sesekali menoleh ke arah Mia.

__ADS_1


Ketika mobil sedang berhenti di lampu merah Adrian bertanya kepada Mia.


“Kamu kenapa? Dari tadi seperti melamun saja. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”


Mia menoleh ke Adrian.


“Tuan, apakah benar tempat pemakaman di Jakarta jumlahnya sangat banyak?” tanya Mia.


“Kenapa kamu menanyakan pemakaman di Jakarta?” tanya Adrian.


“Mia ingin mencari makam papah,” jawab Mia.


“Papah kamu di makamkan di Jakarta?” tanya Adrian.


“Iya, Tuan,” jawab Mia. Tiba-tiba lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, Adrian menjalankan mobilnya.


Adrian membelokkan mobilnya ke sebuah gedung perkantoran yang ada di jalan Jendral Sudirman.


“Kenapa ke sini, Tuan? Tuan mau ke kantor teman Tuan?” tanya Mia.


“Restaurantnya ada di gedung ini di lantai empat puluh,” jawab Adrian.


“Wah, tinggi sekali,” ujar Mia.


Adrian mengarahkan mobilnya menuju ke tempat parkir di gedung tersebut. Ia memarkirkan mobilnya di basement.


Adrian mematikan mesin mobilnya lalu menoleh ke arah Mia.


“Kamu tidak usah khawatir. Saya akan bantu kamu mencarikan makam papahmu,” kata Adrian.


“Bukankah pemakaman di Jakarta sangat banyak, bagaimana cara mencarinya?” tanya Mia.


“Itu soal gampang. Ryan tahu cara mencari makam papahmu,” jawab Adrian.


“Jangan, Tuan! Pekerjaan Pak Ryan sudah banyak. Masa harus mencari makam papah saya,” ujar Mia. Ia merasa tidak enak karena pekerjaan kantor harus campur aduk dengan urusan pribadi.


“Kamu tenang saja. Yang penting makam papah kamu bisa ketemu,” kata Adrian.


“Ayo kita turun! Perut saya sudah lapar,” kata Adrian.


Mia hendak membuka pintu mobil namun dicegah oleh Adrian.


“Tunggu dulu! Biar saya yang membukakan pintu,” kata Adrian.


Adrian turun dari mobil, ia berjalan menuju ke pintu sebelah kiri. Ia membuka pintu mobil untuk Mia.


“Silahkan, Nona,” kata Adrian.


Mia tersipu malu diperlakukan dengan manis oleh Adrian.


“Terima kasih, Tuan,” ucap Mia. Mia turun dari mobil lalu Adrian menutup pintu. Adrian mengunci pintu mobil dengan menggunakan remote.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju ke liff yang berada di tempat parkir. Adrian menekan tombol naik, mereka harus menunggu beberapa saat agar pintu liff terbuka. Akhirnya pintu pun terbuka. Adrian mempersilahkan Mia masuk lebih dulu, setelah itu baru Adrian masuk ke dalam liff. Adrian menekan tombol lantai empat puluh. Pintu liff pun tertutup dan liff naik ke lantai atas.


Liff berhenti di lantai empat puluh lalu pintu liff pun terbuka. Mia keluar  dari liff kemudian Adrian keluar dari liff. Mereka jalan beriringan menuju ke restaurant yang dituju.


__ADS_2