Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
44. Lanjutan Cerita Pak Dandi


__ADS_3

Pak Dandi mengambil tissue yang berada di atas meja makan lalu mengelap air matanya. Ia menoleh ke Adrian.


“Adrian, Om rasa kamu yang tau bagaimana keadaan anak Om sekarang,” kata Pak Dandi kepada Adrian.


Adrian menghela nafas.


“Dia masih hidup dan dalam keadaan sehat wal afiat dan sudah menikah. Anak itu.” Adrian berhenti sejenak.


“Adalah Mia,” lanjut Adrian. Daniel kaget mendengarnya dan menoleh ke Adrian.


“Jangan bercanda, lu!” kata Daniel yang tidak percaya dengan perkataan Adrian.


“Gue nggak bercanda. Gue serius,” jawab Adrian.


“Elu tau semua ini? Bagaimana caranya elu bisa tau?” tanya Daniel.


“Tentu saja tau. Gue kan suaminya Mia. Terlalu banyak kejanggalan semenjak emak datang ke rumah gue. Apalagi setelah mendapatkan gue mendapatkan data-data papah Mia,” jawab Adrian.


Sekarang Daniel mengerti mengapa Adrian berada di sini. Ternyata Adrian adalah suami dari anak Tante Erin, istri siri papanya.


“Mia tau semua ini?” tanya Daniel. Ia khawatir kalau Mia mengetahui semua ini, Mia pasti akan kecewa.


“Dia tidak tau semua ini. Dia hanya tahu papahnya sudah meninggal dunia. Gue tidak tega untuk memberitahu dia kalau papahnya masih hidup dan memutuskan tali silahturahmi dengannya,” jawab Adrian.


“Sejak kapan elu tau semuanya?” tanya Daniel.


“Sejak emak memperhatikan lu. Tadinya gue pikir emak lebih memilih lu untuk menjadi suami Mia karena emak sangat perhatian sama lu. Ternyata gue salah, emak bersikap seperti itu karena beliau tau elu anak papahnya Mia. Beliau pernah bertanya ke gue siapa nama bokap lu. Ketika gue beritahu nama bokap lu, emak langsung bernafas lega dan mengucapkan alhamdullilah. Gue bingung kenapa emak sampai mengucapkan alhamdullilah mendengar nama bokap lu. Tapi setelah gue perhatikan lagi muka lu dan Mia ada kemiripan. Belum lagi elu bilang kalau bokap lu suka bolak balik ke Sumedang. Ngapain coba bokap lu ke Sumedang? Padahal tidak punya bisnis di sana,” jawab Adrian dengan panjang lebar.


“Bisa saja bokap gue healing di Sumedang,” kata Daniel.


“Healing ke makam mamahnya Mia?” tanya Adrian.


“Maksud lu apa?” tanya Daniel.


“Gue nemu buket bunga mahal di atas makam mamah Mia. Mia pernah bercerita kalau ia sering menemukan buket bunga seperti itu di atas makam mamahnya. Itu buket bunga yang sangat mahal. Gue sering beli buket bunga seperti itu kalau ziarah ke makam nyokap bokap gue. Dan gue yakin di Sumedang nggak ada yang jual buket bunga seperti itu kecuali beli di Bandung dan Jakarta,” jawab Adrian. Pak Dandi hanya diam mendengarkan cerita Adrian.

__ADS_1


“Yang paling lucu Om Dandi membuat makam fiktif dengan data-data dirinya sendiri. Makam itu sampai sekarang masih ada dan pajaknya selalu dibayar tiap tahun oleh Om Dandi,” kata Adrian.


“Gue pernah janji akan membantu Mia mencari makam papahnya. Tapi sayang gue udah keduluan sama lu,” kata Daniel sambil melayangkan pandangannya ke beberapa bulan yang silam.


“Emak masih hidup?” tanya Pak Dandi kepada Adrian dan Daniel. Ia penasaran karena dari tadi Adrian dan Daniel menyebut nyebut emak.


“Tentu saja masih hidup. Apa Papah mengharapkan emak meninggal sehingga tidak saksi hidup kalau Papah sudah menelantarkan Mia?” jawab Daniel dengan kesal.


“Papah merasa bersalah kepada emak karena sudah berpura-pura meninggal dan menelantarkan Erin serta Mia. Padahal Papah sudah berjanji kepada emak dan bapak untuk menjaga Erin dan menyayangi Erin. Serta berlaku adil kepada bunda dan Erin,” ujar Pak Dandi.


Daniel menghela nafas mendengar perkataan papahnya.


“Bunda tau semua ini?” tanya Daniel. Ia khawatir jika bundanya belum mengetahui pasti akan mempengaruhi kesehatan sang bunda.


“Bunda sudah lama tau. Makanya bunda suka ikut Papah ke Sumedang untuk berziarah ke makam Erin,” jawab Pak Dandi.


Daniel membayangkan sewaktu bundanya tau kalau papah pernah menikah lagi. Pasti bunda akan merasa sakit hati dan sedih karena sudah dibohongi oleh papah walaupun Tante Erin sudah meninggal dunia.


“Bunda pernah menyuruh Papah untuk mencari tahu Mia. Tapi Papah tidak berani untuk mencari tahu. Papah terlalu pengecut untuk menerima kenyataan yang terjadi pada Mia,” ujar Pak Dandi.


“Sekarang Papah mau apa setelah mengetahui keadaan Mia?” tanya Daniel.


“Kalau Mia tidak mau memaafkan Papah apa yang akan Papah lakukan?” tanya Daniel.


“Papah akan terima jika Mia tidak mau memaafkan Papah. Semua ini salah Papah. Papah yang sudah menyebabkan semua ini terjadi,” jawab Pak Dandi.


Daniel menoleh ke Adrian. “Bagaimana, Dri. Boleh tidak bokap gue ketemu dengan Mia?” tanya Daniel.


“Tentu saja boleh. Gue tidak akan melarang Om Dandi bertemu dengan Mia. Hanya saja gue tidak bisa menjamin Mia akan memaafkan dan menerima Om Dandi setelah tau apa yang telah Om Dandi perbuat pada mamah dan Mia,” jawab Adrian.


“Terima kasih, Adrian,” ucap Pak Dandi.


“Sekarang mendingan kita makan dulu untuk menyiapkan energy untuk mengadapi Mia,” kata Adrian.


“Memangnya kenapa?” tanya Daniel bingung.

__ADS_1


“Mia sangat mengerikan kalau sudah marah. Pintu ruang kerja gue pernah dia banting gara-gara Sinta datang ke kantor gue,” jawab Adrian.


Daniel langsung tertawa mendengar perkataan Adrian.


“Sukurin!” ledek Daniel.


“Untung Mia tidak membatalkan rencana pernikahan kami,” kata Adrian.


“Rasain! Makanya jadi orang jangan suka mempermainkan perasaan perempuan,” kata Daniel.


“Siapa yang mempermainkan perasaan Mia? Gue setia banget sama dia,” kata Adrian.


“Sudah bercandanya! Sekarang kita makan dulu, nanti makanannya jadi tidak enak kalau sudah kelamaan,” kata Pak Dandi. Adrian dan Daniel berhenti berbicara mereka menyantap makanan mereka.


***


Adrian berjalan menuju pintu rumahnya. Pak Dandi dan Daniel mengikuti Adrian dari belakang. Tak lama kemudian pintu itu dibuka dari dalam rumah. Asih berdiri di depan pintu.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Asih.


“Mia mana?” tanya Adrian sambil masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh Pak Dandi dan Daniel dari belakang.


“Ada, Pak. Sedang di kamar. Tadi Ibu bilang kepalanya sakit dan perutnya mual,” jawab Asih.


Adrian menoleh ke Asih. “Dari kapan Mia sakit? Tadi pagi Mia baik-baik saja,” tanya Adrian.


“Tadi sewaktu sedang masak. Kepalanya mendadak sakit dan mual mencium bau bawang merah,” jawab Asih.


“Duduk dulu, Om. Saya mau lihat keadaan Mia,” kata Adrian. Pak Dandi dan Daniel duduk di kursi ruang tamu. Asih kembali ke dapur. Adrian berjalan masuk ke dalam rumah.


“Asih!” Adrian memanggil Asih.


“Ya, Pak.” Asih menghampiri Adrian.

__ADS_1


“Tolong buatkan minum untuk tamu!” kata Adrian.


“Baik, Pak,” jawab Asih. Asih kembali ke dapur untuk membuatkan minuman. Adrian berjalan menuju ke kamarnya.


__ADS_2