
Bulan Ramadhan telah tiba. Sehari sebelum puasa Pak Dandi dan Ibu Gita mengundang anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka untuk mengikuti acara munggahan di rumah mereka. Tahun lalu acara munggahan terasa sepi karena hanya dihadiri oleh Daniel, Mia. Adrian dan Safina. Tapi acara munggahan tahun ini terasa ramai karena personil keluarga mereka bertambah. Ada Karima dan anak-anaknya sebagai tambahan personil.
Karima sedang makan sendiri. Tadi sewaktu anggota keluarga sedang makan malam, Karima sibuk menyuapi kedua anaknya. Setelah selesai barulah ia bisa makan. Ibu Gita menghampiri Karima. Ia duduk di sebelah Karima.
“Sudah ada tanda-tandanya belum?” tanya Ibu Gita.
Karima menoleh ke Ibu Gita. Ia tidak mengerti maksud Ibu Gita.
“Tanda-tanda apa?” tanya Karima.
“Tanda-tanda kalau kamu sudah hamil,” ujar Ibu Gita. Kini Karima mengerti apa yang ditanyakan oleh Ibu Gita.
“Belum, Bun,” jawab Karima.
Terlihat wajah Ibu Gita sedih mendengar jawaban Karima. Karima merasa tidak enak melihat Ibu Gita sedih. Tapi bagaimana ia mau hamil, ia dan Daniel belum lama menikah. Baru menikah dua minggu, jadi belum ada tanda-tanda ia sudah hamil atau belum. Kecuali sebelum mereka menikah Daniel sudah menanam saham di perutnya.
Rachel datang mendekati Karima.
“Mama, Lahel mau minum,” kata Rachel sambil menggoyangkan badannya seperti menahan mau pipis.
“Rachel mau pipis?” tanya Karima.
“Iya,” jawab Rachel.
“Bun, Rima antar Rachel pipis,” kata Karima.
“Iya,” jawab Ibu Gita.
Karima beranjak dari tempat duduk lalu mengajak Rachel ke kamar mandi. Daniel datang ke ruang makan. Ia seperti sedang mencari Karima. Ia mendekati Ibu Gita.
“Bun. Lihat Rima, nggak?” tanya Daniel.
“Lagi mengantar Rachel ke kamar mandi,” jawab Ibu Gita.
“Daniel, duduk sini. Bunda mau bicara.” Ibu Gita menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Daniel duduk di sebelah Ibu Gita.
“Ada apa, Bun?” tanya Daniel.
“Istri kamu belum hamil?” tanya Ibu Gita.
“Belum, Bun. Kan Daniel dan Karima baru menikah dua minggu,” jawab Daniel.
“Oh. begitu, ya? Bunda lupa, Bunda kira kalian sudah menikah sebulan,” ujar Ibu Gita.
“Bisa saja baru nikah dua minggu Karima sudah hamil,” kata Daniel.
“Bagaimana caranya?” tanya Ibu Gita penasaran.
“Kalau Daniel sudah menanam saham di perut Karima sebelum menikah,” jawab Daniel dengan seenaknya.
Ibu Gita langsung memukul kaki Daniel.
“Astagfirullahaladzim. Istigfar!” Ibu Gita melotot ke arah Daniel.
“Habis Bunda nanya yang nggak-nggak,” kata Daniel.
__ADS_1
Karima dan Rachel keluar dari kamar mandi. Karima mengambilkan Rachel minum lalu mereka duduk di sebelah Daniel. Rachel meminum minumannya sampai habis.
“Rachel, kita ke kakek, yuk! Kita baca doa dan surat-surat pendek,” kata Ibu Gita kepada Rachel.
“Karima, kamu habiskan dulu makanannya! Baru bergabung dengan yang lain,” ujar Ibu Gita kepada Karima.
“Iya, Bun,” jawab Karima.
Ibu Gita mengajak Rachel menghampiri Pak Dandi yang sedang mengajak bicara Hari dan Gathan. Adrian dan Mia turut berbicara dengan Hari dan Gathan. Karima melanjutkan makannya yang belum selesai. Daniel memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sedih.
“Kamu kenapa?” tanya Daniel.
Karima menoleh ke Daniel. “Rima tidak apa-apa,” jawab Karima. Karima melanjutkan makannya.
Tapi Daniel tidak percaya dengan perkataan istrinya, sebab wajah istrinya terlihat lain dengan perkataannya.
“Pasti gaa-gara Bunda, ya?” tanya Daniel.
Karima menoleh ke Daniel.
“Pasti Bunda tanya kamu sudah hamil atau belum,” ujar Daniel.
“Kok, Mas tau?” tanya Karima.
“Tau, dong. Tadi juga Mas ditanya sama Bunda,” jawab Daniel.
“Terus Mas jawab apa?” tanya Karima.
Daniel menceritakan apa yang tadi ia bicarakan dengan Ibu Gita.
“Habis Bunda suka nanya yang aneh-aneh saja. Sudah tau kita belum lama menikah,” jawab Daniel.
Daniel merangkul bahu Karima.
“Kamu tidak usah khawatir. Kita lalui semuanya bersama-sama,” bisik Daniel.
“iya, Mas,” jawab Karima. Daniel mengecup kepala Karima.
***
Hari ini adalah hari puasa pertama. Karima bangun jam setengah tiga dini hari untuk menyiapkan saur keluarganya. Tadi malam sepulang dari rumah Ibu Gita, Ibu Gita membawakan makanan untuk Karima sekeluarga. Makanan itu dimasukkan di dalam rantang. Jadi Karima tidak perlu repot-repot memasak makanan untuk saur. Cukup tinggal memanaskan makanan.
Setelah selesai menghangatkan makanan Karima kembali ke kamarnya untuk membangunkan Daniel. Karima duduk di pinggir tempat tidur lalu menepuk lengan Daniel.
“Mas, bangun. Sudah waktunya saur,” ujar Karima.
Namun, Daniel bukannya bangun malah memeluk tubuh Karima.
“Mas, bangun! Nanti kesiangan saur,” ujar Karima.
“Jam berapa?” tanya Daniel dengan mata terpejam.
“Sudah jam setengah empat,” jawab Karima.
Daniel langsung membuka matanya dan bangun dari tempat tidur. Ia mengumpulkan kesadarannya baru beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka. Karima keluar dari kamarnya menuju ke kamar Hari dan Gathan. Karima membangunkan Hari lalu membangunkan Gathan.
__ADS_1
Hari bangun dari tempat tidur. Dangan langkah gontai Hari keluar kamar menuju ke meja makan. Ia pun duduk kursi makan. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan beralaskan kedua tangannya. Lalu melanjutkan tidur. Daniel keluar dari kamar menuju ke meja makan. Ia melihat Hari duduk di kursi makan sambil tidur di atas meja makan.
Daniel duduk di sebelah Hari. Tak lama kemudian Karima keluar dari kamar sambil menggendong Gathan. Ia mendudukkan Gathan di kursi makan. Gathan duduk dengan mata yang terpejam.
“Anak-anak puasa?” tanya Daniel.
“Iya, Mas. Belajar puasa sedikit-sedikit agar kalau sudah dewasa nanti mereka tidak kaget kalau disuruh puasa sehari penuh,” jawab Karima.
Karima berjalan menuju ke kamar Rachel. Tak lama kemudian Karima datang sambil menggendong Rachel. Karima mendudukkan Rachel di kursi makan. Karima mengambil piring lalu diisi dengan nasi, lauk pauk serta sayuran. Ia menyuapi anaknya satu persatu. Daniel mengambil makan sendiri.
“Bang. Bangun, Bang!” Karima memanggil Hari yang tidur di meja makan.
Hari bangun dengan mata tertutup.
“Mau makan sendiri atau disuapi sama Mama?” tanya Karima.
“Suapin,” jawab Hari.
Karima menyuapi Hari. Daniel makan sambil memperhatikan Karima yang sibuk menyuapi ketiga anaknya.
“Anak-anak puasa sampai jam berapa?” tanya Daniel sambil mengunyah makanan.
“Rachel puasa sampai jam sembilan. Gathan puasa sampai jam dua belas. Hari puasa sampai azan magrib,” jawab Karima.
Daniel menoleh ke Hari yang duduk di sampinngnya. Hari sedang mengunyah makanannya.
“Abang kuat puasanya sampai magrib?” tanya Daniel.
“Abang dari kelas satu puasa sampai adzan magrib,” jawab Hari.
“Wah, hebat. Nanti kalau tamat puasanya mau dikasih hadiah apa?” tanya Daniel.
Hari berpikir sejenak. Ia bingung mau hadiah apa.
“Nggak tau,” jawab Hari.
Daniel tersenyum kepada Hari.
“Abang pikirkan dulu saja. Bulan ramadhannya masih panjang,” ujar Daniel.
Rachel menoleh ke Karima lalu mengguncang-guncang tangan Karima.
“Ma, Lahel juga mau hadiah,” kata Rachel.
“Gathan juga, Mah.” Gathan mengguncang-guncang tangan Karima.
Daniel melihat kedua anak sambungnya yang rewel kepada istrinya.
“Nanti Gathan dan Rachel juga dapat hadiah. Kalau puasanya sampai batas waktu yang sudah ditentukan sama Mama!” ujar Daniel.
“Asyik.” Gathan dan Rachel bersorak kegirangan.
“Sudah, sekatang saur dulu. Nanti keburu imsak!” kata Karima.
Mereka melanjutkan makan saurnya.
__ADS_1