
“Ada orang yang berbuat jahat kepada papa. Dan sekarang orang itu sedang dikejar oleh polisi,” ujar Karima.
“Oh, pantesan di rumah nenek banyak polisi,” kata Hari.
Karima sengaja tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada anak-anaknya. Ia takut anak-anaknya akan menjadi shock jika tau apa yang terjadi kepada papa mereka. Biarlah mereka hanya tau kalau ada orang yang berbuat jahat kepada papa mereka.
Tak lama kemudian Daniel masuk ke dalam rumah. Ia memberikan kunci mobil Karima.
“Saya berangkat ke hotel, ya. Saya mau bertemu arsitek,” ujar Daniel.
“Terima kasih sudah menangantar kami pulang,” ucap Karima.
“Sama-sama, Bu Karima,” jawab Daniel.
Kemudikan Daniel beralih kepada anak-anak. “Anak-anak. Om kerja dulu, ya,” ujar Daniel.
Hari dan adik-adiknya menghampiri Daniel. Mereka mencium tangan Daniel satu persatu.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima dan anak-anak.
Daniel berjalan keluar rumah. Karima mengantar Daniel sampai di depan rumah. Daniel masuk ke dalam mobil lalu mobilpun berjalan meninggalkan rumah Karima.
***
Karima menaruh tasnya di dalam lemari meja kerja. Hari ini ia sudah kembali bekerja setelah dua hari tidak masuk kerja. Ia melanjutkan pekerjaannya yang kemarin belum sempat ia selesaikan.
Karima menyalakan komputer dan mulai mengetik. Baru setengah jam ia mengetik tiba-tiba ponselnya berbunyi. Karima mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Tertulis di layar ponselnya Kak Mirna calling.
Ada apa Kak Mirna nelepon? tanya Karima di dalam hati.
Karima menjawab telepon Mirna.
“Assalamualaikum, Kak,” ucap Karima.
“Waalaikumsalam, Karima. Lagi sibuk, ya?” tanya Mirna.
“Tidak sibuk, Kak. Biasa saja,” jawab Karima.
“Kakak menelepon kamu untuk memberitahu kamu kalau pembunuh Yarfin sudah tertangkap,” ujar Mirna.
“Alhamdullilah,” ucap Karima.
“Orang itu namanya Dadi. Dia pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Yarfin,” ujar Miirna.
Karima kaget mendengarnya. Ada yang menginginkan kematian Yarfin.
“Siapa orang yang menyuruh membunuh Bang Yarfin?” tanya Karima.
“Orang itu adalah Winny. Winny ditangkap tadi malam di bandara Soekarno Hatta. Ia hendak kabur ke Singapura,” jawab Mirna.
“Astagfirullahaladzim. Rima tidak menyangka Bu Winny sekejam itu dengan Bang Yarfin,” ucap Karima.
__ADS_1
“Dia membunuh Yarfin dengan alasan dia sakit hati karena dilaporkan oleh Yarfin ke polisi sebagai pencuri uang,” ujar Mirna.
“Walaupun demikian tetap saja tidak boleh membunuh orang dengan sembarangan. Benar-benar tidak manusiawi,” kata Karima.
Tiba-tiba Daniel keluar dari dalam liff . Ia berjalan menuju ke ruangannya. Ia melihat Karima sedang menelepon, namun ia membiarkan Karima menelepon. Daniel masuk ke dalam ruangannya.
“Sudah dulu ya, Rim. Kakak hanya mau memberitahukan berita itu saja kepada kamu,” ujar Mirna.
“Terima kasih, Kak. Atas informasinya. Sekarang Karima sudah lega karena pembunuh Bang Yarfin sudah tertangkap,” ucap Karima.
“Sama-sama, Rima. Sudah dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Mirna.
Mirna mengakhiri pembicaraannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima.
Karima beranjak dari tempat duduknya lalu ia berjalan menuju ke ruang kerja Daniel. Ia mengetuk pintu ruang kerja Daniel.
“Masuk.” Terdengar suara Daniel dari dalam ruang kerjanya.
Karima membuka pintu pintu ruang kerja Daniel lalu ia masuk ke dalam ruangan. Karima mendekati meja kerja Daniel. Ia berdiri di depan meja kerja.
“Ada apa?” tanya Daniel.
“Tadi Kak Mirna menelepon. Kata Kak Mirna pembunuh Bang Yarfin sudah tertangkap,” jawab Karima.
“Alhamdullilah kalau pembunuhnya sudah tertangkap. Jadi keluarga Bung Yarfin sudah tenang kalau pembunuhnya sudah tertangkap,” ucap Daniel.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Daniel.
“Winny nekad sekali. Tapi syukurlah kalau sudah tertangkap. Tinggal dihukum yang seberat-beratnya karena menghilangkan nyawa orang,” lanjut Daniel.
“Sudah ya, Pak. Saya hanya mau memberitahu itu saja,” kata Karima.
Karima membalikkan badannya lalu ia berjalan menuju ke pintu. Ketika ia hendak membuka pintu Daniel memanggil Karima.
“Karima.”
Karima membalikkan badannya lalu kembali menghampiri meja kerja Daniel.
“Bapak perlu sesuatu?” tanya Karima.
Daniel menatap wajah Karima.
“Bagaimana dengan lamaran saya? Apakah Bu Karima sudah mempunyai jawab atas lamaran saya?” tanya Daniel.
Karima diam sejenak. “Sudah, Pak,” jawab Karima.
“Tapi saya tidak mungkin menjawab di sini,” kata Karima.
“Oke. Kalau begitu nanti siang kita makan siang di luar. Sekalian saya harus ke kantor saya yang di jalan Rasuna Said,” ujar Daniel dengan bersemangat.
“Makan di restaurant hotel lagi?” tanya Karima.
__ADS_1
“Iya,” jawab Daniel.
Karima menghela napas.
“Kenapa harus restaurant yang ada di hotel?” tanya Karima dengan tidak bersemangat.
“Tidak apa-apa. Hanya saja tempatnya enak untuk ngobrol. Kalau di café-café terlalu berisik. Nanti saya tidak bisa mendengar suara Bu Karima,” jawab Daniel.
“Baiklah kalau menurut Bapak di sana lebih baik. Saya ikut saja apa kata Pak Daniel,” ujar Karima.
Daniel tersenyum menatap Karima.
“Kalau begitu sebentar lagi kita berangkat. Saya mau menanda tangani beberapa dokumen dulu,” kata Daniel.
“Baik, Pak.” Karima keluar dari ruang kerja Daniel. Ia kembali ke mejanya.
Setengah jam kemudian Daniel keluar dari ruangannya sambil membawa map.
“Ayo kita berangkat sekarang!” ujar Daniel.
Karima cepat-cepat mematikan komputernya lalu membereskan meja kerjanya. Setelah itu ia mengambil tas miliknya yang berada di lemari meja kerja lalu ia beranjak dari kursi kerjanya.
“Saya bawakan mapnya, Pak,” kata Karima.
“Tidak usah. Saya bisa bawa sendiri,” ujar Daniel.
Mereka pun berjalan menuju ke liff. Daniel menekan tombol liff, beerapa saat kemudian pintu liff terbuka. Karima dan Daniel masuk ke dalam liff. Selama di dalam liff mereka hanya diam saja.
Akhirnya liff berhenti di lantai dasar. Karima dan Daniel keluar dari dalam liff. Daniel menghampiri meja operator lalu memberikan map yang ia bawa kepada Tya.
“Tolong antarkan ke devisi masing-masing,” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Tya.
“Kalau ada yang menanyakan saya, bilang saya pergi dengan Bu Karima! Nanti sore saya baru kembali lagi ke sini,” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Tya.
Setelah itu Daniel dan Karima berjalan menuju ke mobil Daniel yang diparkir di depan lobby kantor. Daniel membukakan pintu untuk Karima, Karima masuk ke dalam mobil. Setelah itu barulah ia maauk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah kanan Karima. Pak Min menjalankan mobil meninggalkan halaman kantor.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang banyak mereka bicarakan. Mereka lebih banyak diam. Sejam kemudian mereka sampai di kantor Daniel. Pak Min menghentikan mobil di depan lobby gedung perkantoran. Karima dan Daniel turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam gedung.
Daniel dan Karima keluar dari liff. Mereka berjalan menuju kantor Daniel. Daniel membuka pintu kantornya dengan menggunakan kartu. Ketika mereka masuk ke dalam kantor, Dini petugas operator langsung berdiri.
“Selamat siang, Pak,” ucap Dini.
“Siang, Din,” jawab Daniel.
“Di dalam ada Pak Dandi, Pak,” kata Dini.
“Oh, kapan beliau datang?” tanya Daniel.
“Sejam yang lalu,” jawab Dini.
__ADS_1