
Sepanjang perjalanan pulang Mia hanya diam tidak bersuara apapun.Pandangannya tertuju keluar jendela sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Adrian menoleh sebentar ke Mia lalu kembali fokus ke jalan.
“Kamu kenapa?” tanya Adrian sambil membelai kerudung Mia dengan tangan kirinya.
“Mas, Mia takut terjadi apa-apa dengan anak kita,” jawab Mia.
“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Kita berdoa saja,” kata Adrian. Wajar Mia merasa ketakutan dengan kehamilannya karena mamahnya meninggal setelah melahirkan Mia.
Mia merebahkan kepalanya di bahu Adrian.
“Mas,” panggil Mia.
“Hm,” jawab Adrian dengan pandangannya fokus ke depan.
“Mia laper,” jawab Mia dengan manja.
“Kamu mau makan apa?” tanya Adrian sambil fokus menyetir mobil.
“Mau makan soto mie,” jawab Mia dengan manja.
“Mana ada yang jual soto mie malam-malam? Ini sudah malam, sudah jam sembilan,” ujar Adrian.
“Kalau begitu baso, deh. Pake krewetnya yang banyak,” kata Mia.
“Tukang baso juga sudah tutup,” ujar Adrian.
“Terus Mia makan apa?” tanya Mia dengan manja.
“Makan prasmanan di hotel mau, nggak? Di sana restaurantnya buka dua puluh empat jam,” jawab Adrian.
“Nggak mau. Makan di tempat begitu terus. Sekali-kali makan di pinggir jalan,” jawab Mia dengan wajah cemberut.
“Terus mau makan apa?” tanya Adrian dengan sabar.
“Hm. Apa, ya?” Mia berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau kita makan nasi uduk?” tanya Adrian. Mia menoleh ke Adrian.
“Ada yang jual nasi uduk malam-malam?” tanya Mia tidak percaya. Di Sumedang penjual nasi uduk biasanya jualan pagi-pagi.
“Ada dong, sayang. Makannya pakai ayam goreng atau bebek goreng dan pake sambel di atas nasi ditaburi bawang goreng,” jawab Adrian.
“Kedengarannya enak. Mau dong, Mas,” kata Mia yang tertarik dengan nasi uduk.
“Siap, Bu bos,” jawab Adrian. Adrian mengarahkan mobilnya menuju ke jalan Radio Dalam.
Adrian memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah makan nasi uduk. Adrian belum mematikan mesin mobilnya tapi Mia sudah cepat-cepat turun dari mobil. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah makan. Perutnya sudah keroncongan ingin segera menyantap nasi uduk. Adrian pun menyusul Mia.
Di dalam rumah makan masih banyak pembeli. Mia mencari tempat yang nyaman. Seorang karyawan restaurant menghampiri mereka dan memberikan daftar menu. Mia membaca daftar menu.
“Mau makan apa?” tanya Adrian.
__ADS_1
“Mia mau pesannnn.” Mia menyebutkan satu persatu yang diinginkannya. Adrian membiarkan Mia memesan semua yang penting Mia tidak stress memikirkan kehamilannya.
“Mas mau pesan apa?” tanya Mia.
“Mas mau nasi uduk dan ayam goreng,” jawab Adrian. Setelah mencatat pesanan mereka pelayan itupun pergi.
Mia memperhatikan sekeliling rumah makan banyak pegawai kantor yag baru pulang bekerja mampir untuk makan di sana.
“Mas sering makan di sini?” tanya Mia.
“Sering setelah pulang kerja janjian sama teman-teman bertemu di sini,” jawab Adrian.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Karyawan rumah makan menaruh makanan di atas meja makan. Meja mereka penuh dengan makanan pesanan Mia. Adrian membiarkan istrinya memakan semua makanan yang ia pesan. Kalau tidak habis dibungkus dan dibawa pulang.
Mia mencoba makanannya satu persatu.
“Hm, nasi uduknya enak. Mestinya nasinya pesan dua,” kata Mia.
“Mau pesan lagi nasinya?” tanya Adrian.
“Tidak usah! Nanti kekenyangan,” jawab Mia. Mia melanjutkan makannya.
Sejam kemudian Mia berhasil menghabiskan semua makanannya. Adrian khawatir takut istrinya kekenyangan.
“Makanannya enak, Mas. Kapan-kapan kita ke sini lagi,” kata Mia.
“Iya, sayang,” jawab Adrian.
***
Sabtu pagi Ibu Gita menelepon Mia. Ia mengundang Mia dan Adrian makan siang di rumahnya. Sekalian ia ingin mengenal lebih dekat dengan anak sambungnya.
Sekarang mereka sudah sampai di rumah Pak Dandi. Mia dan Adrian masuk ke dalam rumah Pak Dandi.
“Assalamualaikum,” ucap Mia.
“Waalaikumsalam.” Pak Dandi keluar dari rumah. Mia dan Adrian menghampiri Pak Dandi lalu mencium tangan Pak Dandi.
“Ayo masuk.” Pak Dandi mengajak Mia dan Adrian masuk ke dalam rumah.
“Duduk dulu! Bunda sedang masak di dapur,” kata Pak Dandi. Mia dan Adrian duduk di sofa ruang keluarga. Pak Dandi berjalan menuju ke dapur.
“Bun. Bunda. Ini Mia sudah datang.” Pak Dandi memanggil Ibu Gita.
Tak lama kemudian Pak Dandi kembali bersama dengan Ibu Gita.
“Mana putri Bunda?” tanya Ibu Gita sambil menghampiri Mia dan Adrian.
Adrian dan Mia langsung berdiri dari sofa dan menghampiri Ibu Gita.
“Hai sayang,” ujar Ibu Gita ketika melihat Mia dan Adrian.
__ADS_1
Mia mencium tangan Ibu Gita lalu Ibu Gita memeluk Mia dan mencium kedua pipi Mia. Kemudian Adrian juga mencium tangan Ibu Gita.
“Ayo, duduk!” merekapun duduk di sofa.
Ibu Gita melihat kantong plastik putih berukuran besar di atas meja sofa.
“Kalian bawa apa itu?” Ibu Gita menunjuk ke plastik tersebut.
“Itu kue. Tadi kebetulan Mia melewati kue langganan Mia. Jadi Mia mampir untuk membeli oleh-oleh untuk Papah dan Bunda,” jawab Mia.
“Mas nggak dikasih?” tanya Daniel .Tiba-tiba Daniel datang menghampiri mereka. Daniel baru saja turun dari lantai atas.
“Dikasih juga, Mas. Mia bawa kue banyak,” jawab Mia.
“Sudah! Abaikan saja Mas mu. Dia suka bikin pusing orang lain,” sahut Ibu Gita.
“Bagaimana dengan kehamilanmu? Apa kata dokter?” tanya Ibu Gita dengan penuh rasa ingin tau.
“Kata dokter, Mia terlalu masih muda untuk hamil. Kehamilan Mia beresiko,” jawab Mia.
“Jangan dijadikan pikiran. Kita berdoa saja mudah-mudahan semuanya baik-baik saja.Di desa-desa banyak masih muda sudah hamil, tapi ibu dan bayinya baik-baik saja. Asalkan kamu dengarkan apa yang dokter katakan Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Ibu Gita.
“Aamiin,” jawab Mia dan Adrian.
“Adrian! Elu mesti puasa dulu selama empat bulan,” sahut Daniel.
“Kelamaan puasa empat bulan,” protes Adrian.
“Sudah jangan berantem terus!” seru Ibu Gita.
“Daniel! Adik kamu sedang hamil, lalu kapan kamu mau kasih Bunda cucu?” tanya Ibu Gita.
“Istri saja belum punya, bagaimana mau kasih cucu?” jawab Daniel.
“Makanya cepat cari istri!” ujar Ibu Gita.
“Susah cari calon istri yang soleha,” kata Daniel.
“Makanya cari perempuan di tempat yang baik-baik. Jangan cari perempuan di tempat yang nggak-nggak!” sahut Adrian.
“Kayak elu nggak pernah ke tempat yang begituan,” jawab Daniel.
“Sudah, jangan ribut terus!” ujar Ibu Gita.
“Mia. Bunda mau nerusin masak, ya. Kamu duduk-duduk saja di sini!” ujar Ibu Gita.
“Mia bantu ya, Bun,” kata Mia.
“Tidak usah kamu disini saja. Bunda banyak yang membantu,” jawab Ibu Gita.
Ibu Gita beranjak dari tempat duduk menuju ke dapur.
__ADS_1