
Ketika Daniel dan Karima hendak berangkat ke Malaysia, Daniel menjemput Karima di rumahnya. Ia tahu tidak ada yang mengantar Karima ke Bandara. Rumah Karima terletak di perumahan di dekat kantor walikota Tangerang Selatan. Sebuah hunian yang cukup padat penduduk.
Daniel menuju ke rumah Karima berdasarkan petunjuk lokasi yang diberikan oleh Karima. Akhirnya Daniel sampai di depan rumah Karima. Sebuah rumah berukuran sedang dengan bentuk bangunan yang biasa saja.
Pak Min menghentikan mobil di depan rumah Karima. Daniel turun dari mobilnya. Ia menyuruh Pak Min untuk parkir di depan rumah Karima. Daniel berjalan menuju ke pintu pagar, ia berdiri di depan pintu pagar. Pintu pagar rumah Karima digembok.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam.” Seorang anak berusia lima tahun ke luar dari rumah. Anak itu bernama Gathan, anak Karima nomor dua.
“Mamanya ada?” tanya Daniel.
“Tunggu sebentar, ya.” Gathan kembali masuk ke dalam rumah sambil berteriak, “Mama, sudah dijemput!”
Tak lama kemudian seorang wanita setengah baya keluar dari rumah sambil memegang kunci. Ia berjalan menuju pintu pagar dan membuka gembok pagar.
“Masuk, Pak! Ibu sedang di kamar mandi,” kata Mpok Minah.
Daniel masuk ke dalam rumah Karima. Ruang tamu sangat kecil hanya terdiri dari empat buah bangku serta dua buah meja. Yang satu berada di tengah dan satu lagi di pojok ruangan untu tempat menyimpan pot kembang.
“Duduk dulu, Pak!” kata Mpok Minah.
“Bapak mau minum apa?” tanya Mpok Minah.
“Tidak usah repot-repot, Bi,” jawab Daniel.
Mpok Minah masuk ke belakang rumah. Gathan dan Rachel menampakkan kepalanya di dari balik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Daniel tersenyum ketika melihat Gathan dan Rachel.
“Sini, dong! Salam dulu sama Om.” Daniel melambaikan tangannya ke Gathan dan Rachel. Perlahan Gathan dan Rachel keluar dari balik tembok. Mereka berdiri sambil memandangi Daniel tanpa berani mendekati Daniel.
Tak lama kemudian Karima pun datang sambil menarik koper.
__ADS_1
“Eh, kenapa pada berdiri di sini? Sudah salam belum sama Om?” tanya Karima.
“Belom,” jawab Gathan.
“Salam dulu, dong!” ujar Karima.
Gathan dan Rachel mendekati Daniel sambil menempel di kaki mama mereka. Gathan dan Rachel mencium tangan Daniel.
“Eh, pinter,” puji Daniel lalu mengusap kepala Gathan dan Rachel satu persatu.
“Sudah siap, Bu?” tanya Daniel.
“Sudah, Pak,” jawab Karima.
Daniel mengambil koper Karima lalu dibawa ke mobil. Setelah itu ia kembali lagi ke rumah Karima.
Karima berada di teras sedang berpamitan kepada pembantu dan anak-anaknya.
“Nanti kalau Mama pulang, kita belenang, ya!” kata Gathan.
“Cama beli mainan,” sahut Rachel.
“Iya, kita berenang sama beli mainan,” jawab Karima.
Karima berjalan keluar dari halaman rumah sambil melambaikan tangannya kepada anak-anaknya.
“Dadah Mama,” kata Gathan dan Rachel.
Daniel juga melambaikan tangan kepada Gathan dan Rachel. Daniel dan Karima masuk ke dalam mobil. Karima duduk di belakang bersama Daniel. Karima melambaikan tangannya sekali lagi kepada anak-anaknya lalu mobilpun meluncur meninggalkan rumah Karima.
Wajah Karima terlihat sedih ketika meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
“Hari kemana? Kok tidak kelihatan?” tanya Daniel.
“Hari sedang sekolah,” jawab Karima.
“Gathan semestinya hari ini sekolah, biarlah hari ini dia tidak masuk dulu,” lanjut Karima.
Daniel merasa bersalah karena kepergiannya ke Malaysia menyebabkan Karima harus meninggalkan anak-anaknya. Sebetulnya ia bisa pergi sendiri ke Malaysia tapi karena ini termasuk acara kunjungan bisnis dia harus membawa asisten. Kecuali liburan Daniel baru tidak membawa asisten.
Sejam kemudian mereka sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka turun di terminal keberangkatan dan langsung check in. Pesawat mereka berangkat pukul sepuluh. Setelah check in mereka langsung naik ke pesawat. Mereka duduk di kelas bisnis.
Selama pesawat belum berangkat ada saja pesan suara yang masuk dari anak-anak Karima. Mereka belum bisa mengetik chat sehingga pesan yang mereka kirim berupa pesan suara.
“Mama. Boleh makan es klim, nggak?” Terdengar suara Gathan.
“Lahel mau mimi cucu lagi.” Terdengar suara Rachel yang manja.
Daniel tertawa mendengar suara-suara lucu anak-anak Karima. Begini rasanya jika punya sekretaris yang sudah memiliki anak.
Ketika pesawat hendak lepas landas semua ponsel dimatikan sehingga Daniel tidak lagi mendengar suara-suara lucu anak-anak Karima.
Pukul setengah dua mereka sampai di bandara internasional Penang. Mereka dijemput oleh mobil tour hotel tempat mereka menginap. Mereka menginap di hotel mewah yang cukup terkenal di Malaysia.
Daniel menyewa kamar yang berukuran deluxe agar bisa bersebelahan dengan kamar Karima. Bagaimanapun juga Daniel bertanggung jawab atas keselamatan Karima selama mereka berada di negeri orang.
Setelah menyimpan barang-barang mereka di kamar mereka pergi mencari makan siang.
“Kamu mau makan dimana? Mau di restaurant hotel atau makan di restaurant luar?” tanya Daniel.
“Terserah Bapak mau makan dimana,” jawab Karima. Ia hanya pegawai, ia ikut kemanapun bosnya pergi.
Daniel memutuskan untuk makan di hotel karena ia merasa cape sekali.
__ADS_1