
Pak Ratno menghentikan mobil di depan lobby rumah sakit.
“Kamu tunggu di sini. Mas akan mengambil kursi roda.” Adrian hendak turun dari mobil namun Mia memegang tangan Adrian.
“Nggak usah, Mas. Mia jalan saja,” kata Mia.
“Ruang bersalinnya jauh, apalagi kaki kamu sakit. Jadi pakai kursi roda saja!” ujar Adrian.
Mia berpikir sejenak. Di rumah ia sudah kesulitan berjalan dari kamar menuju ke mobil, apalagi ini rumah sakit yang tempat sangat luas. Akhirnya ia mau menggunakan kursi roda.
“Iya, deh,” jawab Mia.
“Kamu tunggu di sini!” Adrian keluar dari mobil untuk mengambil kursi roda. Tak lama kemudian Adrian kembali sambil mendorong kursi roda. Adrian membuka pintu mobil lalu membantu Mia keluar dari mobil. Ia memapah Mia agar duduk di kursi roda. Lalu mendorong Mia masuk ke dalam rumah sakit.
Adrian menghampiri meja pendaftaran. Kebetulan tempat pendaftaran kosong. Adrian mengurus pendaftaran ke ruang bersalin. Setelah mendaftar mereka menuju ke ruang bersalin.
Adrian mendorong Mia masuk ke ruang bersalin. Ia menghampiri suster yang sedang berjaga.
“Ibunya kenapa, Pak?” tanya suster.
“Kaki istri saya sakit sampai sulit untuk digerakan. Tapi dia belum merasakan mules,” jawab Adrian.
“Ibu tidur dulu, nanti diperiksa bidan,” kata suster.
Adrian mendorong kursi roda menuju tempat tidur. Lalu membantu Mia naik ke atas tempat tidur. Seorang bidan datang untuk memeriksa Mia.
“Saya periksa dulu ya, Bu,” ujar bidan. Mia mengangguk pasrah. Bidan pun memeriksa Mia.
“Baru pembukaan tiga, Pak. Masih lama melahirkannya. Lebih baik Ibu dibawa pulang dulu,” lanjut bidan.
“Tapi kaki istri saya sakit sekali sampai tidak bisa jalan,” kata Adrian.
“Itu karena anaknya sedang mencari jalan keluar. Jadi terasa sakit,” jawab bidan.
__ADS_1
“Kalau begitu kami menunggu di kamar rawat inap. Daripada di rumah istri saya terus saja menangis karena kesakitan,” kata Adrian.
“Boleh, Pak. Silahkan Bapak pesan kamar rawat inap,” jawab bidan.
“Mia, kamu tunggu di sini. Mas pesan kamar inap untuk kamu,” ujar Adrian.
“iya, Mas,” jawab Mia. Adrian pergi meninggalkan Mia di kamar bersalin.
Tiga puluh menit kemudian Adrian kembali.
“Tunggu sebentar. Sebentar lagi ada suster datang menjemput,” ujar Adrian. Mia hanya mengangguk, ia sudah lemas karena menahan sakit.
“Permisi.” Seorang suster masuk ke dalam kamar bersalin sambil mendorong kursi roda.
“Saya mau menjemput pasien yang bernama Ibu Mia,” kata suster itu kepada suster jaga.
“Silahkan,” jawab suster jaga.
Suster itu mendekati Mia. “Ayo, Bu. Kita pindah ke ruang rawat inap,” ujar suster. Suster membantu Mia bangun dan turun dari tempat tidur. Lalu Mia duduk di kursi roda. Suster mendorong Mia keluar dari ruang bersalin menuju kamar rawat inap.
Suster membantu Mia naik ke atas tempat tidur. Akhirnya Mia bisa beristirahat dengan tenang.
“Terima kasih, Sus,” ucap Adrian ketika suster hendak meninggalkan kamar.
“Sama-sama, Pak,” jawab suster.
Adrian mendekati Mia. “Masih sakit kakinya?” tanya Adrian sambil mengusap kepala Mia.
“Masih, Mas,” jawab Mia.
Adrian mengusap perut Mia. “Ade sayang, cepat keluar! Kasihan kaki mommy sakit,” ujar Adrian kepada anaknya yang masih berada di dalam perut.
“Sekarang kamu istirahat! Mas pijat kakimu.” Adrian memijat telapak kaki Mia dan Mia pun tertidur.
__ADS_1
***
Kesokan harinya kaki Mia masih sakit bahkan rasa sakitnya bertambah. Belum lagi Mia mulai merasakan mules-mules. Rasa sakitnya jadi dobel. Adrian kebingungan melihat Mia yang merintih kesakitan. Ketika diperiksa oleh suster, Mia baru pembukaan lima.
Sejam kemudian suster kembali memeriksa Mia baru pembukaan enam, sedangkan kontraksinya sudah sering beberapa detik sekali. Adrian tidak kuat melihat keadaan Mia. Suster sepertinya kebingungan melihat kondisi Mia.
“Sebentar, Pak. Kami akan menghubungi dokter Wid dulu,” ujar suster. Suster keluar dari kamar Mia.
Tak lama kemudian bidan kembali lagi. “Pak, Dokter Wid sedang dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata suster.
“Baik, sus. Terima kasih,” ucap Adrian.
Adrian mendekati Mia. Ia mengusap kepala Mia. “Kamu dicaesar saja ya, sayang! Yang penting kamu dan anak kita selamat,” ujar Adrian.
“Iya, Mas,” jawab Mia.
Adrian sudah menyuruh Mia untuk melahirkan dengan proses caesar, tapi Mia bersih keras ingin melahirkan secara normal. Kenyataannya tidak semua orang bisa melahirkan secara normal.
Tiga puluh menit kemudia dokter Wid pun datang. Ia berbicara sebentar dengan suster menanyakan keadaan Mia lalu ia mendekati Mia.
“Saya periksa dulu ya, Bu,” kata dokter Wid. Mia menjawab dengan menganguk. Dokter Wid memeriksa Mia.
“Sepertinya jalan keluarnya sempit sehingga Ibu harus melahirkan dengan jalan caesar,” kata dokter Wid.
“Tidak apa-apa, Dok,” jawab Mia.
“Sus, siapakan untuk operasi caesar!” kata dokter Wid kepada suster.
“Baik, Dok,” jawab suster.
Dokter Wid keluar dari kamar Mia. Adrian langsung menelepon Ibu Gita dan mengabarkan kalau Mia akan menjalankan operasi caesar.
Setelah melakukan persiapan operasi, Mia dibawa ke ruang operasi. Adrian, Pak Dandi, Ibu Gita dan Daniel menunggu di depan ruang operasi. Terlihat wajah Adrian begitu tegang.
__ADS_1