
“Mia. Bangun sayang!” kata Adrian dengan cemas. Ia memegang botol minyak kayu putih didekatkan ke hidung Mia agar bau minyak kayu putih terhirup oleh Mia.
“Daniel. Kamu cari dokter lalu bawa ke sini!” seru Pak Dandi.
“Iya, Pah.” Daniel keluar dari kamar Adrian menuju ke luar rumah. Ia pergi mencari dokter dengan menggunakan mobil.
Sementara itu di kamar Adrian, Adrian sedang berusaha membangunkan Mia. “Mia. Bangun sayang!” Adrian menepuk-nepuk pipi Mia agar Mia bangun. Sedangkan Pak Dandi duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit kaki Mia.
Tiba-tiba Mia bergerak, ia mulai sadar.
“Alhamdullilah,” ucap Adrian melihat Mia yang bergerak. Mia membuka matanya dan menatap orang-orang yang berada di sekelilingnya.
“Mas,” kata Mia ketika melihat suaminya.
“Akhirnya kamu bangun.” Adrian merasa lega melihat istrinya sudah siuman.
“Tadi kamu pingsan. Mas cemas melihat kamu nggak bangun-bangun,” lanjut Adrian. Mia menoleh ke Pak Dandi. Pak Dandi menatap Mia dengan cemas.
“Mas ambilkan minum dulu, ya.” Adrian langsung berdiri dari tempat tidur.
“Biar Om yang ambil minum,” sahut Pak Dandi.
“Kamu temani Mia.” Pak Dandi berjalan menuju pintu ketika ia membuka pintu Daniel sedang berjalan menuju ke kamar bersama seorang dokter wanita.
“Pah. Mia sudah siuman, belum?” tanya Daniel.
“Sudah. Baru saja siuman,” jawab Pak Dandi.
“Masuklah! Papah mau ambilkan minum untuk Mia,” kata Pak Dandi.
Daniel mengajak dokter itu masuk ke dalam kamar Mia. Setelah berada di dalam kamar ia mendekati tempat tidur Mia.
“Dri, dokternya sudah datang,” kata Daniel kepada Adrian. Adrian menoleh ke belakang. Seorang dokter perempuan sedang berdiri di ujung tempat tidur. Adrian langsung berdiri.
“Silahkan, Dok.” Adrian memberi jalan agar dokter itu bisa memeriksa Mia. Dokter itu mendekati Mia. Ia mengeluarkan stetoskop dan tensimeter. Pak Dandi masuk ke dalam kamar dengan membawa air minum.
“Dri, ini air minumnya.” Pak Dandi memberikan gelas yang berisi air minum kepada Adrian.
“Terima kasih, Om,” ucap Adrian. Adrian menyimpan air minum di atas nakas karena Mia akan diperiksa oleh dokter.
“Saya periksa dulu ya, Bu.” Dokter memasang tensimeter di lengan Mia, tensimeter mulai bekerja. Tak lama kemudian keluar hasilnya.
“Tensi Ibu rendah. Apa tensi Ibu selalu rendah?” tanya dokter.
__ADS_1
“Saya tidak tau, Dok. Saya jarang di tensi,” jawab Mia.
“Kata pembantu saya, istri saya pusing dan mual setelah mencium bau bawang merah,” kata Adrian.
“Begitu, ya?” tanya dokter.
Dokter memeriksa dada dan perut Mia dengan stetoskop. Akhirnya dokter selesai memeriksa Mia.
“Kapan terakhir Ibu haid?” tanya dokter. Mia berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Kalau nggak salah lebih dari sebulan yang lalu,” jawab Mia. Dokter tersenyum mendengar jawaban Mia.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Adrian dengan cemas.
“Ada kemungkinan istri Bapak sedang hamil. Nanti coba ditest dengan menggunakan testpack,” jawab dokter. Adrian langsung bengong mendengar jawaban dokter. Dia kaget sekali mendengarnya.
“Benar istri saya hamil?” tanya Adrian dengan tidak percaya.
“Bapak akan tau hasilnya kalau sudah di test dengan testpack,” jawab dokter.
“Baik, Dok,” jawab Adrian.
“Saya permisi dulu,” kata dokter. Dokter keluar dari kamar diantar oleh Daniel.
“Kamu nggak mengantar dokter pulang?” tanya Pak Dandi kepada Daniel.
“Nggak, Pah. Daniel suruh Pak Eko yang mengantar dokter pulang,” jawab Daniel. Pak Eko adalah supir Pak Dandi.
“Kalau begitu kita pulang sekarang. Biar Mia istirahat,” kata Pak Dandi kepada Daniel.
“Iya, Pah,” jawab Daniel.
Pak Dandi mendekati Adrian dan Mia.
“Adrian. Om pamit pulang,” ujar Pak Dandi. Ia sudah pasrah jika Mia tidak mau menerimanya sebagai seorang papah. Ini semua karena kesalahannya yang sudah menelantarkan anak dan istrinya. Yang penting Mia sudah tau siapa papahnya.
“Iya, Om,” jawab Adrian.
“Mia, Om pulang dulu,” pamit Pak Dandi. Mia hanya diam tidak menjawab apapun. Ada kekecewaan di wajah Pak Dandi ketika Mia tidak menjawab perkataannya.
Daniel menepuk bahu Pak Dandi. “Sudah, Pah. Beri Mia waktu untuk berpikir,” kata Daniel. Pak Dandi mengangguk tanda setuju.
“Mia. Mas pulang, ya,” pamit Daniel. Daniel mengubah panggilannya setelah tahu siapa Mia adalah adiknya. Betapa senang hati Daniel setelah mengetahui kalau ia punya adik perempuan. Walaupun ia tahu adiknya adalah perempuan yang ia sukai. Selama puluhan tahun ia tidak punya adik karena bundanya sakit kanker rahim sehingga rahimnya harus diangkat.
__ADS_1
“Iya, Pak Daniel,” jawab Mia. Ia memanggil Daniel masih seperti biasa.
Sabar Daniel sabar. Cepat atau lambat Mia akan mengakui kalau kamu adalah kakaknya, kata Daniel di dalam hati.
“Ayo, Pah!” kata Daniel.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi dan Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Adrian.
Pak Dandi dan Daniel berjalan keluar dari kamar Mia namun ketika Daniel membuka pintu kamar, tiba-tiba “Papah.” Mia memanggil Pak Dandi. Pak Dandi menoleh ke belakang. Mia memandang Pak Dandi dengan berlinang air mata.
“Apa Papah akan meninggalkan Mia lagi?” tanya Mia dengan sedih.
“Tentu saja tidak. Mia putri Papah. Papah tidak akan meninggalkan Mia untuk kedua kalinya,” jawab Pak Dandi dengan bahagia. Mia mengangkat kedua tangannya, ia ingin dipeluk oleh Pak Dandi. Adrian bangun dari tempat tidur dan memberikan tempat untuk Pak Dandi agar bisa mendekati Mia.
Pak Dandi menghampiri Mia lalu memeluk Mia. Putrinya dari lahir tidak pernah merasakan pelukan dan kasih sayang darinya. Pak Dandi membelai kerudung putrinya.
“Maafkan Papah, Mia. Maafkan Papah yang sudah menelatarkanmu. Papah akan menebus semua kesalahan yang telah Papah perbuat,” kata Pak Dandi dengan penuh penyesalan.
Adrian membiarkan ayah dan anak saling melepas rindu. Ia keluar dari kamarnya dan pergi ke apotik untuk membeli testpack. Ia penasaran dengan yang apa yang tadi dokter katakan.
Lima belas menit kemudian Adrian datang dari apotek. Ia membawa kantong plastik ke dalam kamar. Mia sedang duduk berdua bersama Pak Dandi di atas tempat tidur sambil menyender pada headboard. Mia sedang mendengarkan Pak Dandi bercerita tentang awal mula Pak Dandi bertemu dengan Ibu Erin. Sedangkan Daniel sedang tidur-tiduran di sebelah Mia sambil menonton televisi.
Adrian menaruh kantong plastik di atas nakas. Mia melirik ke arah kantong plastik yang ditaruh oleh Adrian. “Itu apa, Mas?” tanya Mia penasaran.
“Testpack,” jawab Adrian.
“Coba Mia mau lihat,” kata Mia. Adrian mengambil kantong plastik itu lalu diberikan kepada Mia. Mia membuka kantong plastik itu. Di dalam kantong plastik itu terdapat testpack dengan jumlah yang cukup banyak dengan berbagai merek.
“Untuk apa testpack sebanyak ini?” tanya Mia sambil memperhatikan testpack itu satu persatu.
“Untuk mengetes kamu hamil atau nggak,” jawab Adrian.
“Tidak usah beli banyak-banyak. Cukup satu saja, karena yang dipakai hanya satu,” ujar Pak Dandi.
“Nggak apa-apa, Om. Eh, Pah. Kalau gagal masih ada cadangan yang lain,” jawab Adrian.
“Hei, Adrian. Kalau hasilnya negatif biar ditest dengan testpack yang lain tetap saja hasilnya negatif,” kata Daniel dengan gemes kepada Adrian.
“Barangkali aja yang satu hasilnya negatif, yang lain hasilnya positif,” ujar Adrian dengan seenaknya.
“Terserah lu, dah! Gue pusing dengarnya,” kata Daniel dengan kesal.
__ADS_1