Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
61. Kencan Buta


__ADS_3

Daniel turun dari mobilnya. Ia melangkah dengan gontai masuk ke dalam rumahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Daniel ketika masuk ke dalam rumah namun tidak ada satu orang pun yang menjawab salamnya. Rumahnya nampak sangat sepi.


Pada kemana orang-orang? tanya Daniel di dalam hati.


Ia berjalan menuju ke kursi sofa yang ada di ruang tengah lalu menghempaskan dirinya ke atas kursi sofa. Mengurus perusahaan baru papanya benat-benar menguras tenaga dan pikiran. Sehingga tubuh dan pikirannya terasa capai, Ia memijat–mijat kepalannya. Hari ini dia sudah memecat beberapa orang pegawai. Akibat kelakuan beberapa orang nama baik perusahaan tercoreng.


Ibu Gita keluar dari kamar. Ia melihat Daniel yang sedang duduk di sofa. Ia langsung menghampiri Daniel duduk di sebelah Daniel.


“Bunda mau kenalin  kamu sama anak teman Bunda,” ujar Ibu Gita.


“Ah, Bunda. Males ah Daniel dijodoh-jodohin. Kayak bisa cari jodoh sendiri,” kata Daniel protes.


“Lihat dulu. Siapa tau kamu suka,” ujar Ibu Gita.


“Sebentar, Bunda ambil ponsel Bunda dulu.” Ibu Gita bangun dari tempat duduknya lalu kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar sambil membawa ponsel. Ia duduk di sebelah Daniel. Ia membuka ponselnya dan memperlihatkan foto kepada Daniel.


“Nih, lihat.” Ibu Gita memperlihatkan foto seorang gadis cantik. Wajah gadis itu terlihat terawat dan sangat ceria. Tapi sayang bukan tipe perempuan yang disukai oleh Daniel. Lalu seperti apakah tipe yang disukai Daniel? Tipe seperti Mia daaaannnnn. Daniel langsung mengusap wajahnya.


Astafirullahaladzim. Kenapa bayangan dia yang keluar? tanya Daniel di dalam hati.


“Cantikkan?” tanya Ibu Gita.


“Cantik tapi bukan tipe Daniel,” jawab Daniel.


“Ah, kamu belum lihat sudah bilang bukan type kamu. Dilihat dulu! Siapa tau dia tipe kamu,” ujar Ibu Gita.


“Daniel sibuk, Bun. Bunda kan tau kalau kantor papa yang baru jauh sekali. Daniel juga tidak ada waktu untuk bertemu perempuan,” kata Daniel berusaha untuk memberikan pengertian kepada Bundanya.


“Kan ada jalan tol. Kenapa tidak lewat tol saja?” tanya Ibu Gita.


Daniel tidak menjawab pertanyaan bundanya. Bundanya terkadang menganggap sepele dan tidak pengertian kepada anaknya. Daniel menghela nafas.


“Dimana pertemuannya?” akhirnya Daniel mengalah. Jika dia terus saja menghindar, bundanya pasti akan terus saja mengganggunya.


Mendengar pertanyaan Daniel wajah Ibu Gita langsung berubah menjadi senang.

__ADS_1


“Bunda tanya dulu dimana tempatnya,” jawab Ibu Gita. Ia langsung menelepon temannya dan mengatakan kalau Daniel mau bertemu dengan putri temannya.


Daniel hendak beranjak dari tempat duduk namun Ibu Gita menarik tangannya agar Daniel tetap duduk di sana. Daniel memghela nafas dan duduk kembali. Tak lama kemudian Ibu Gita selesai menele[on temannya.


“Kata tante Airin. Niken dan kamu ketemuan di restaurant hotel Darmawangsa jam dua belas belas. Jangan sampai terlambat!” ujar Ibu Gita.


‘Iya,” jawab Daniel. Ia pun beranjak menuju ke kamarnya.


***


Keesokan harinya Daniel minta Karima menemaninya untuk menemui anak Ibu Airin yang bernama Niken. Daniel yang menyetir mobil, Karima cukup duduk manis di sebelahnya.


Ketika sampai di hotel Darmawangsa Daniel dan Karima turun di depan lobby hotel. Daniel memberikan mobilnya kepada petugas valet untuk di parkirkan. Daniel dan Karima masuk ke dalam lobby hotel. Mereka langsung menuju ke restaurant di hotel tersebut.


Ketika sampai di restaurant Daniel langsung mencari Niken di dalam restaurant. Daniel melihat seorang perempuan muda yang duduk sendiri dan wajahnya mirip dengan Niken. Daniel mendekati perempuan itu.


“Niken, ya?” tanya Daniel.


“Iya,” jawab perempuan itu.


“Saya Daniel anak Ibu Gita.” Daniel memperkenalkan diri kepada perempuan itu.


“Silahkan duduk, Mas Daniel,” kata Niken.


“Tunggu sebentar!” Daniel mendekati Karima.


“Kamu duduk di meja lain. Kamu pesan apa saja yang kamu mau! Nanti saya yang bayar,” bisik Daniel kepada Karima.


“Baik, Pak,” jawab Karima. Ia pun duduk di dekat meja Daniel.


Daniel kembali menghampiri Niken. “Itu siapa, Mas?” Niken menunjuk ke Karima.


“Dia sekretaris saya,” jawab Daniel. Daniel duduk di depan Niken. Ia mengajak Niken berbicara seperlunya saja sebagai formalitas. Kemudian mereka memesan makanan. Karima juga memesan makanan.


Ketika Karima sedang menunggu pesanannya tiba-tiba ada seorang pria mendekati Karima.


“Kamu lagi apa di sini?” tanya pria tersebut. Karima menoleh ke arah pria tersebut. Alangkah kagetnya Karima melihat siapa yang datang.

__ADS_1


“Bang Yarfin?” tanya Karima dengan tidak percaya.


“Kamu lagi ngapain di sini? Mana anak-anak?” tanya Yarfin sambil mengelilingi pandangannya ke semua penjuru restaurant mencari anak-anak.


“Anak-anak tidak ikut. Mereka ada di rumah sama Mpok Silah,” jawab Karima.


“Kamu lagi apa di sini?” tanya Yarfin sekali lagi.


“Saya sedang kerja, Bang,” jawab Karima.


“Kerja apa kamu di sini. jangan bilang kamu lagi menjual diri,” kata Yarfin.


“Astagfirullahaladzim! Saya tidak seperti yang Abang tuduhkan!” ucap Karima.


Mendengar suara ribut-ribut di belakang tempat duduknya Daniel langsung menoleh ke belakang. Ia melihat seorag pria yang berdiri di depan meja Karima. Daniel langsung berdiri dan menghampiri Karima.


“Ada apa ini?” tanya Daniel kepads Karima.


“Bukan urusan anda! Saya lagi bicara dengan istri saya,” jawab Yarfin.


“Mantan istri!” ralat Karima.


“Ini menjadi urusan saya, karena saya yang membawa Ibu Karima ke sini. Saya bos Ibu Karima,” jawab Daniel kepada Yarfin.


Tiba-tiba datanglah seorang pria menghampiri Yarfin. “Pak Yarfin?” tanya pria itu. Yaarfin menoleh ke pria tersebut.


‘Oh, Pak Harun.” Yarfin dan Harun bersalaman. Yarfin mengajak tamunya duduk di meja yang sudah ia pesan. Karima langsung bernafas lega setelah Yarfin pergi.


“Ibu tidak apa-apa?” tanya Daniel dengan khawatir.


“Ibu baik-baik saja, Pak,” jawab Karima.


Seorang pelayan datang membawa makanan pesanan Karima lalu di taruh di meja Karima.


“Ibu makan dulu! Setelah makan kita kembali ke kantor,” ujar Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Karima. Daniel pun meninggalkan meja Karima dan kembali ke Niken.

__ADS_1



__ADS_2