Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
57. Kantor Baru


__ADS_3

Daniel memarkirkan mobil di tempat khusus untuk direksi. Hari ini ia menyetir mobil sendiri tidak di supiri oleh Pak Min. Pak Min ijin tidak masuk karena ia sedang sakit. Adrian turun dari mobil melangkahkan kakinya menuju lobby kantor tersebut. Kedatangannya disambut oleh manager dan para staf di sana. Mereka sudah menunggunya di depan lobby kantor.


“Selamat datang Pak Daniel,” ucap seorang pria yang hampir setengah baya. Dari name tag pria tersebut ia mengetahui kalau pria tersebut adalah general manager di perusahaan ini.


“Perkenalkan saya Umar. Saya general manager di perusahaan ini,” ujar pria tersebut. Daniel hanya menganggukkan kepala. Kemudian Pak Umar memperkenalkan manager dan para staff di perusahaan itu. Daniel mendengarkan ketika Pak Umar menyebut nama stafnya. Mudah-mudahan ia bisa mengingat nama mereka satu persatu.


Setelah memperkenalkan para stafnya Pak Umar mengantarnya mengelilingi kantor barunya. Ya, ini adalah kantor baru Daniel milik papanya. Pemilik yang lama memiliki hutang yang cukup besar kepada papanya sehingga ia membayarnya dengan perusahaan miliknya.


Dua minggu yang lalu.


“Daniel, mulai sekarang kamu yang memegang perusahaan PT. Cipta Kerja Utama! Papa sudah tua, Papa mau pensiun saja mau main sama cucu,” ujar Pak Dandi.


“Kenapa tidak dijual saja sih, Pa? Cuma nambah-nambahin masalah saja,” kata Daniel dengan kesal. Ia sendiri sudah sibuk memegang perusahaan milik papa. Sekarang ditambah harus mengelola perusahaan yang mendadak menjadi milik papanya.


“Jangan, dong! Sayang kalau dijual. Perusahaan itu masih menguntungkan, masih bisa menghasilkan uang yang banyak,” ujar Pak Dandi.


“Kalau menguntungkan kenapa dia pakai untuk bayar hutang ke Papa? Bukan rumah dan tanahnya yang ia pakai untuk membayar hutang?” tanya Daniel.


“Asetnya tidak cukup untuk bayar hutang ke Papa jadi dia bayar dengan perusahaannya,” jawab Pak Dandi.


“Tapi jadi menambah masalah ke Papa. Papa harus menggaji karyawan yang segitu banyaknya,” kata Daniel.

__ADS_1


“Kamu tenang saja. Perusahaan itu masih menguntungkan. Keuntungannya cukup untuk membayar gaji karyawan,” ujar Pak Dandi.


“Bagaimana Papa tahu kalau perusahaan itu masih bisa menghasilkan uang? Bagaimana kalau itu perusahaan yang hampir bangkrut?” tanya Daniel.


“Makanya tugas kamu untuk memeriksa perusahaan itu!” jawab Pak Dandi. Pak Dandi memberikan semua dokumen tentang perusahaan itu.


Daniel mengecek dokumen perusahaan itu. Hasilnya membuat Daniel geleng-geleng kepala. Pantas saja aset perusahaan itu bisa untuk bayar hutang ke Pak Dandi. Ternyata perusahaan itu mirip seperti perusahaan keluarga yang mengelola berbagai macam usaha. Mulai dari hotel bintang empat, supermarket, mini market, percetakan, GOR badminton, GOR futsal, gedung serba guna, kos-kosan, ruko serta rumah kontrakan pintuan. Kalau dihitung-hitung semua asset perusahaan itu cukup untuk membayar hutang orang itu kepada papanya.


“Ini sih mirip usaha milik Pak Haji,” kata Daniel.


“Memang dia Pak Haji. Tadinya dia tuan tanah di sekitar kantornya. Lalu ia menjual tanahnya sedikit demi sedikit. Hasil menjual tanah dia bangun rumah kos-kosan, rumah kontrakan pintuan, ruko dan GOR. Kemudian merambat ke supermarket, mini market dan hotel,” ujar Pak Dandi.


“Usaha segitu banyaknya kok bisa punya hutang ke Papa?” tanya Daniel tidak mengerti. Semestinya orang yang memilik usaha segitu banyaknya, memiliki banyak uang.


“Sekarang Daniel harus bagaimana?” tanya Daniel.


“Kamu kelola biar bisa memberikan keuntungan yang besar untuk Papa! Papa percaya kamu bisa mengelolanya dengan baik,” jawab Pak Dandi.


“Akan Daniel usahakan,” kata Daniel.


Kembali lagi ke hari ini.

__ADS_1


Ketika Daniel sedang berkeliling kantor matanya menangkap sesosok seorang pegawai wanita dengan jalan terburu-buru masuk ke ruangan. Ia membawa tas, sepertinya wanita itu baru datang.


“Siapa yang tadi baru datang?” tanya Daniel kepada Pak Umar.


“Maksud Bapak apa, ya?” tanya Pak Umar tidak mengerti.


“Barusan saya melihat seorang pegawai baru masuk kantor. Sedangkan ini sudah siang.” Daniel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


“Oh, itu Ibu Karima. Dia sudah minta ijin untuk mengambil raport anaknya,” jawab Pak Umar.


“Saya minta semua karyawan di sini agar lebih serius dan lebih giat lagi dalam bekerja! Saya tidak mau ada yang bekerja dengan santai. Perlu diingat papa saya sudah mengeluarkan uang yang cukup besar untuk perusahaan ini, saya tidak mau papa saya merasa dirugikan!” ujar Daniel dengan sedikit menekan Pak Umar.


“Baik, Pak Daniel. Akan kami usahakan sebaik mungkin,” jawab Pak Umar.


“Bagus. Besok pagi kumpulkan semua karyawan! Ada yang hendak saya sampaikan kepada semua karyawan,” ujar Daniel.


“Baik, Pak Daniel,” jawab Pak Umar.


“Dan satu lagi. Tolong siapkan semua dokumen pegawai! Saya mau lihat data-data karyawan perusahaan ini,” ujar Daniel.


“Baik, Pak Daniel,” jawab Pak Umar.

__ADS_1



__ADS_2