
“Alhamdullilah,” ucap semua orang ketika mendengar suara adzan magrib.
Mereka beranjak ke ruang makan untuk membatalkan puasa. Di ruang makan terdapar berbagai macam takjil untuk buka puasa. Mereka tinggal memilih makanan yang mereka mau.
Pak Dandi mengambil kolak pisang lalu mendekati Hari. Hari sedang mengambil es blewah.
“Abang Hari hebat. Tamat puasanya sampai magrib.” Pak Dandi mengusap kepala Hari.
“Kasih hadiah dong, Pa!” ujar Ibu Gita.
“Tenang saja, Bun. Papa sudah siapkan hadiah untuk cucu Papa yang soleh dan hebat,” kata Pak Dandi.
Pak Dandi menaruh mangkok yang berisi kolak di atas meja lalu ia berjalan menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar sambil membawa beberapa buah amplop. Pak Dandi mendekati Hari.
“Ini untuk Abang Hari. Hadiah tamat puasa.” Pak Dandi memberikan sebuah amplop kepada Hari.
“Alhamdullilah. Terima kasih, Kek.” Hari mencium tangan Pak Dandi. Pak Dandi tersenyum lalu mengusap kepala Hari. Kemudian Pak Dandi menghampiri Gathan.
“Ini untuk Abang Gathan.” Ia memberikan amplop kepada Gathan.
“Terima kasih, Kek.” Gathan mencium tangan Pak Dandi. Pak Dandi mengusap kepala Gathan.
Lalu Pak Dandi mendekati Rachel yang sedang berdiri di samping Karima.
“Ini untuk Rachel.” Pak Dandi memberikan amplop kepada Rachel. Rachel memandangi amplop itu. Ia ingin tahu isinya apa.
“Salamnya mana? Harus bilang apa sama Kakek?” tanya Karima.
Rachel mencium tangan Pak Dandi. “Telima kacih, Kek,” kata Rachel. Pak Dandi tersenyum lalu mengusap kepala Rachel.
Kemudian Pak Dandi mendekati Safina. Pak Dandi memberikan amplop kepada Safina. Reaksi Safina sama seperti Rachel, ia memandangi amplop dengan bingung.
“Salam dulu sama Kakek,” ujar Mia.
Safina mencium tangan Pak Dandi.
“Ma acih, Kake,” kata Safina. Pak Dandi mengusap kepala Safina lalu melanjut melanjutkan makan kolak.
Setelah selesai berbuka puasa, mereka sholat magrib berjamaah di ruang tengah. Daniel yang menjadi imam. Usai sholat magrib dilanjutkan dengan makan malam bersama. Karima memilih makan malam yang aman untuk ia makan. Bagaimanapun juga ia tidak ingin tiba-tiba mual dan mau muntah. Sehingga mengganggu selera makan orang lain. Karima makan sambil menyuapi Rachel.
Setelah selesai makan dilanjutkan dengan mendengarkan Hari dan adik-adiknya membacakan hafalan surat-surat pendek. Semua orang mendengarkan dan membetulkan jika ada bacaan yang salah sebutkan. Adrian memberikan amplop kepada anak-anak Karima setelah selesai membaca hafalan surat-surat pendek. Sebagai hadiah karena mereka bisa menghafal surat-aurat pendek.
“Safina bisa hafal surat-surat pendek, nggak?” tanya Pak Dandi. Safina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kalau doa-doa hafal, nggak?” tanya Pak Dandi. Safina mengangguk.
“Hafal doa apa?” tanya Pak Dandi.
“Doa au tidul dan doa au mamam,” jawab Safina.
“Bagaimana bacanya? Kakek mau dengar,” tanya Pak Dandi. Safina pun membaca doa mau tidur dengan lancar.
“Pinter,” puji semua orang.
“Sekarang papanya Safina sudah hafal surat apa?” tanya Pak Dandi.
“Sudah hafal beberapa surat,” jawab Adrian.
“Kalau ayat kursi hafal, nggak?” tanya Daniel.
“Hafal, dong,” jawab Adrian.
“Coba baca ayat kursi!” kata Daniel.
Adrianpun membaca ayat kursi dengan lancar. Daniel senang mendengarnya, teman akrabnya sudah lancar membaca surat pendek.
“Hebat, lu! Siapa yang ngajarin?” tanya Adrian.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu mau berusaha,” ujar Pak Dandi.
Setelah itu Pak Dandi mengajak keluarganya sholat isya berjamaah. Usai selesai sholat isya Mia dan Adrian pamit pulang. Tinggal Daniel dan keluarganya yang akan menginap di rumah Pak Dandi.
“Ayo anak-anak tidur! Besok pagi kita sholat Id di masjid,” ujar Daniel.
Hari dan Gathan beranjak dari tempat duduk. Mereka berjalan menuju ke kamar Daniel. Karima mengantar Hari dan Gathan menuju ke kamar. Rachel ikut dengan mamanya.
Hari membuka pintu kamar Daniel. Mereka masuk ke dalam kamar Daniel. Karima memperhatikan sekeliling kamar Daniel. Kamar bercat biru telur asin yang cukup luas, bahkan luasnya hampir setengah rumah mereka. Anak-anak juga memperhatikan sekeliling kamar tersebut.
Hari mengambil bingkai foto yang berada di atas nakas di sebelah tempat tidur.
“Mama, ada foto Mama di sini,” kata Hari.
Karima mendekati Hari lalu mengambil bingkai foto dari tangan Hari. Di bingkai foto itu terdapat foto Karima yang sedang tersenyum. Karima memperhatikan foto tersebut dan mencoba mengingat itu foto dia waktu dimana. Melihat warna pakaian yang ia pakai seperti pakaian yang Daniel belikan ketika mereka sedang berada Penang Malaysia. Pintu kamar terbuka Daniel masuk ke dalam kamar.
“Bang Hari-Gathan gosok gigi dulu!” ujar Karima. Hari dan Gathan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di kamar tersebut.
Daniel duduk di sebelah Karima. Ia melihat Karima sedang memegang bingkai foto.
__ADS_1
“Kapan Mas ambil foto ini?” tanya Karima.
“Waktu di hotel Encik Ammar,” jawab Daniel.
“Ketika kamu sedang duduk bersama Ashraf. Waktu itu Mas kesal melihat kamu akrab dengan Ashraf. Kamu bisa tertawa lepas dengan laki-laki asing. Sedangkan dengan Mas kamu bersikap biasa saja,” kata Daniel dengan kesal.
“Oh, jadi ceritanya waktu itu Mas cemburu,” ujar Karima.
“Iya,” jawab Daniel.
Tiba-tiba Karima mengucup pipi Daniel. “Maaf ya, Sayang. Waktu itu Karima tidak tau kalau Mas sedang cemburu.”
Kemudian Daniel membalas dengan mengecup bibir Karima dalam dan lama. Tiba-tiba terdengar suara sepatu dipakai orang dari dalam walking closet. Daniel langsung mengakhiri kecupannya. Rachel keluar dari dalam walking closet, ia menggunakan kaca mata hitam dan sepatu milik ayahnya.
“Ya ampun, Rachel. Jangan dimainin, itu barang-barang punya ayah. Nanti rusak!” kata Karima.
“Nggak apa-apa. Itu barang-barang yang sudah tidak terpakai. Mas belum ada waktu untuk membuangnya,” kata Daniel.
“Kenapa Mas tidak bilang ke Rima? Biar Rima yang membereskan.” Karima beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke walking closet. Alangkah terkejutnya Karima ketika masuk ke dalam walking closet. Ia melihat sejumlah pakaian, sepatu dan sebagainya dalam jumlah yang cukup banyak.
“Mas, ini semua mau dibuang?” tanya Karima.
Daniel beranjak dari tempat tidur lalu menghampiri Karima. Ia berdiri di sebelah Karima.
“Iya. Memangnya kenapa?” tanya Daniel.
“Banyak sekali,” kata Karima dengan suara yang kecil.
“Itu semua sudah tidak terpakai,” ujar Daniel.
“Biasanya Mas suka kasih ke penjaga rumah dan office boy di kantor. Tapi karena kemarin-kemarin sibuk, ya sudah ditumpuk dulu di walking closet,” lanjur Daniel.
“Besok siang Karima bereskan semuanya,” kata Karima.
Tak Lama kemudian Hari dan Gathan keluar dari kamar mandi dengan baju basah.
“Kalian lama sekali di kamar mandi,” ujar Karima.
“Main air dulu,” jawab Hari.
“Cepat ganti baju nanti masuk angin!” ujar Karima.
Karima membuka baju Gathan, sedangkan Hari membuka baju sendiri. Karima mengganti baju Gathan dengan baju tidur. Setelah Hari dan Gathan berganti baju. Karima dan Daniel keluar dari kamar untuk menuju ke kamar tamu.
__ADS_1
“Ayo, Rachel kita tidur! Mama sudah ngantuk.” Karima memanggil Rachel yang sedang asyik mengacak di kamar Daniel. Rachel menyimpan kembali barang yang ia pegang lalu ia keluar kamar menyusul mama dan ayahnya.