Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
56. Lapar


__ADS_3

Mia menunggu suaminya dengan mata merem melek. Ia sudah ngantuk tapi perutnya lapar sekali. Empat puluh menit kemudian Adrian kembali. Ia membawa nasi goreng pesanan Mia.


“Lama ya, nunggunya?” Adrian menghampiri Mia.


“Iya. Mia sudah ngantuk,” jawab Mia.


“Di tukang nasi goreng ngantri. Banyak yang beli,” kata Adrian. Ia menaruh box plastik di atas over bed table. Mata Mia berbinar-binar ketika melihat mie goreng yang berada di dalam box plastik.


“Makan yang banyak, ya!” kata Adrian sambil mengusap kepala Mia. Mia menjawab dengan mengangguk. Adrian kembali ke sofa. Ia melanjutkan nonton televisi sambil makan nasi goreng.


Mia membuka box plastik lalu memakan mie goreng. Ia menoleh ke suaminya. Suaminya sedang menonton televisi sambil makan.


“Mas, makan apa?” tanya Mia. Adrian menoleh ke arah Mia.


“Makan nasi goreng,” jawab Adrian.


“Enak, nggak?” tanya Mia.


“Enak,” jawab Adrian.


“Cobai, dong,” kata Mia.


“Jangan. Rasanya pedas,” jawab Adrian.


“Sedikit aja,” kata Mia dengan memelas.


“Rasanya sama saja dengan mie goreng,” ujar Adrian.


“Nggak boleh, ya?” tanya Mia.


Adrian menghela nafas lalu mendekati istrinya. Ia mengusap kepala istrinya. “Sabar ya, sayang. Nanti kalau Fina sudah besar, kamu boleh makan yang pedes-pedes lagi,” ujar Adrian. Mia menjawab dengan anggukan. Adrian mengecup kening istrinya.


“Sekarang makan dulu, terus tidur! Nanti Fina keburu bangun minta susu,” kata Adrian.


“Iya, Mas,” jawab Mia. Ia melanjutkan makan.


***


Mia sedang tidur dengan lelap. Sayup-sayup terdengar suara rengekan bayi.


“Eeeee.” Fina merengek dengan manja. Kaki dan tangannya bergerak-gerak namun tidak bisa bergerak dengan bebas karena dililit oleh kain flannel.


“Eeeeee.” Fina terus saja merengek memanggil siapa saja yang berada di dekatnya.

__ADS_1


Mia membuka matanya yang masih mengantuk. Ia mendengar suara rengekan Fina. Ia menoleh ke arah box bayi yang berada di sebelah tempat tidurnya. Fina terlihat sedang bergerak-gerak.


“Bangun ya, sayang?” tanya Mia. Mia hendak turun dari tempat tidur untuk menggendong Fina. Tapi ia baru ingat kalau ia masih memakai kateter. Kata suster, kateter baru di buka besok. Mia mencari cara agan bisa menggendong anaknya.


Mia mendengar suara dengkuran halus Adrian. Ia menoleh ke arah suaminya. Adrian sedang tidur nyenyak. Terpaksa ia harus membangunkan suaminya.


“Mas!” Mia memanggil suaminya dengan suara pelan. Adrian tidak bangun sepertinya suara Mia tidak terdengar oleh Adrian.


“Mas!” Mia sedikit mengeraskan suaranya. Tapi Adrian tetap saja masih tidur nyenyak. Kalau ia mengencangkan suaranya nanti terdengar ke kamar lain sehingga mengganggu orang yang sedang tidur.


Ia berusaha menggapai suaminya dengan tangannya namun sangat sulit dijangkau. Tempat tidur Adrian agak menjauh dari tempat tidur Mia.


Suara tangisan Fina mulai terdengar kencang. Mia mencari cara untuk membangunkan suaminya. Ia mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membangun suaminya.


Mia melihat botol minyak kayu putih di atas nakas. Ia mengambil minyak kayu putih lalu ia lempar ke arah Adrian. Botol itu mengenai kepala Adrian dan Adrian pun bangun. Ia menoleh ke arah belakang tempat tidur.


“Maaf, Mas. Fina bangun. Mia susah untuk menggendongnya,” kata Mia dengan nada menyesal.


Adrian mendengar suara Fina menangis. Ia beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Fina.


“Fina kenapa? Haus, ya?” Adrian mengajak bicara anaknya. Mendengar suara Adrian tangisan Fina semakin kencang.


“Coba periksa kainnya. Basah, nggak?” tanya Mia.


“Basah,” jawab Adrian.


“Bawa Fina ke sini lalu ambilkan gantinya di koper!” kata Mia.


Dengan hati-hati Adrian menggendong Fina lalu diberikan kepada Mia. Setelah itu ia mengambil baju ganti Fina di dalam koper.


“Aduh, cayang. Kenapa nangis? Dingin, ya?” Mia mengajak Fina berbicara. Mendengar suara Mia, tangisan Fina berkurang. Adrian memberikan baju Fina kepada Mia lalu Mia mengganti baju Fina. Setelah itu Mia menyusui anaknya.


***


Setelah lima hari dirawat di rumah sakit Mia dan Fina diperbolehkan pulang. Kedatangan mereka disambut oleh keluarga dan para pekerja di rumah mereka.


Ibu Gita menggendong Fina dan menimang-nimang Fina. “Kamu lucu dan cantik sekali, sih,” puji Ibu Gita. Fina tertidur pulas karena ditimang-timang oleh neneknya.


Ibu Gita mendekati Daniel. “Kamu kapan mau memberi Bunda cucu?” tanya Ibu Gita sambil menimang-nimang Fina.


“Ah, Bunda nanya itu terus,” kata Daniel dengan kesal.


“Urus satu cucu dulu. Kalau Fina sudah besar baru ngurus cucu yang lain,” lanjut Daniel.

__ADS_1


“Bunda lebih suka repot mengurus cucu sekaligus banyak,” jawab Ibu Gita.


“Iya, nanti Daniel kasih cucu sekaligus banyak,” ujar Daniel.


“Aamiin,” jawab Ibu Gita.


***


Setahun kemudian.


Mia menyambut kedatangan para tamu cilik. Hari ini hari ulang tahun Fina yang pertama. Mia dan Adrian mengundang anak teman-teman Adrian, anak karyawan Adrian dan keluarga. Rumah mereka di sulap menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak.


Daniel datang bersama dengan seorang wanita yang tidak Mia kenal. Wanita itu menggendong seorang anak perempuan berusia batita, Di depan Daniel berjalan dua orang anak laki-laki yang berusia lima dan delapan tahun.


Mia kaget melihatnya sambil tidak bisa berkata-kata. Mereka menghampiri Mia.


“Ayo, Bang. Salam dulu sama Tante Mia!” kata Daniel kepada kedua anak lelaki itu. Kedua anak itu mencium tangan Mia.


“Aduh pinternya.” Mia mengusap kepala anak-anak itu satu persatu.


“Rachel belum salam sama Tante,” kata Daniel kepada gadis kecil yang digendong wanita tersebut.


Kemudian gadis kecil itu mencium tangan Mia.


“Pinter,” puji Mia.


Gadis kecil itu membisikkan sesuatu kepada wanita tersebut.


“Apa katanya?” tanya Mia kepada wanita itu dengan  penasaran.


“Adenya mana?” jawab wanita itu.


“Adenya di dalam sama daddynya,” jawab Mia.


“Ayo kita ke dalam,” ajak Daniel. Daniel mengajak wanita dan anak-anak tersebut masuk ke dalam rumah Adrian.


Acara ulang tahun Fina berlangsung meriah. Anak-anak yang hadir terlihat sangat gembira. Sedangkan para orang tua bisa berbincang-bincang sambil mengawasi anaknya.


Adrian dan Mia terlihat bahagia bersama dengan putri mereka. Adrian terlihat begitu menyayangi dan mencintai istri dan anaknya. Sesekali Adrian terlihat memeluk pinggang istrinya dan mengecup kepala istrinya. Adrian juga terlihat sesekali mencium pipi putri yang gembil. Semoga kebahagiaan mereka kekal selamanya. Aamiin.


Sampai di sini kisah cinta Mia dan Adrian. Besok ceritanya akan berganti dengan cerita Daniel. Mia dan Adrian tetap akan muncul hanya saja mereka bukan sebagai pemeran utama. Oke!!!


__ADS_1


__ADS_2