
Pukul sebelas tiga puluh Daniel dan orang tuanya keluar dari ruang kerja Daniel. Melihat bosnya keluar dari ruang kerja, Karima menghentikan pekerjaannya.
“Bu Karima, matikan komputernya! Kita makan siang,” ujar Daniel.
“Bapak saja yang makan siang. Saya tidak ikut. Saya masih banyak kerjaan,” kata Karima.
“Kamu tetap harus ikut karena setelah makan siang kita harus mengantar papa dan bunda keliling melihat tempat usaha kita!” ujar Daniel.
“Baiklah, Pak,” jawab Karima. Karima mematikan komputer dan membereskan meja kerjanya yang berantakan. Setelah itu ia mengambil tasnya lalu berjalan menghampiri Ibu Gita.
“Sudah beres?” tanya Ibu Gita.
“Sudah, Bu,” jawab Karima.
“Ayo, Pa. Kita jalan sekarang,” ujar Ibu Gita.
Mereka pun berjalan menuju liff. Karima menekan tombol liff, beberapa detik kemudian pintu liff terbuka. Mereka masuk ke dalam liff. Pintu liff tertutup dan liff pun bergerak ke lantai bawah.
“Karima, di sini makanan apa yang khas dan enak?” tanya Ibu Gita.
“Di sini yang khas adalah rumah makan Betawi karena di sini banyak pindahan dari Betawi,” jawab Karima.
“Makanan Betawi apa saja?” tanya Ibu Gita.
Karima menyebutkan makanan betawi yang sering ia dapatkan di rumah makan Betawi.
“Kedengarannya enak, tuh,” kata Ibu Gita.
Ibu Gita menoleh ke Pak Dandi. Pak Dandi sedang berbicara dengan Daniel. Ibu Gita memegang lengan suaminya.
“Pa, kita makan di rumah makan Betawi saja. Sesekali cicip makan khas Betawi,” ujar Ibu Gita.
“Iya, boleh,” jawab jawab Pak Dandi.
Akhirnya mereka sampai di lantai dasar dan pintu liff terbuka. Mereka keluar dari liff lalu mereka jalan keluar dari gedung kantor. Mereka pergi dengan menggunakan mobil Pak Dandi.
__ADS_1
Lima menit kemudian mereka sampai di rumah makan Betawi karena jaraknya dekat dengan kantor Daniel. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan.
Di rumah makan itu sistemnya ambil makanan sendiri jadi mereka bisa langsung memilih makanan yang mereka inginkan. Selesai mengambil makanan mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Mereka memilih tempat dekat jendela.
Setelah itu mereka pun mulai mencicipi makanan tersebut. “Enak,” kata Ibu Gita sambil mengunyah makanannya. Makanan Betawi mirip makan sehari-hari. Jadi cocok di lidah mereka. Setelah selesai makan merekapun berbincang-bincang sejenak.
“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Ibu Gita. Karima kaget mendengarnya. Ia menoleh ke arah Daniel meminta agar Daniel menjelaskan kepada Ibu Gita.
“Bunda. Sudah Daniel katakan kalau Bu Karima minta waktu untuk berpikir,” jawab Daniel.
“Boleh minta waktu, tapi jangan terlalu lama! Bunda kan mau pamer punya menantu baru. Bunda juga sudah tidak sabar ingin segera tambah cucu. Mia kan sedang menyusui, jadi harus menunggu satu tahun untuk hamil,” ujar Ibu Gita.
“Sudahlah, jangan paksa Karima untuk menjawab sekarang! Kasih dia waktu untuk berpikir. Kalau Bunda paksa nanti Karima malah kabur karena dipaksa Bunda. Nanti yang rugi Bunda sendiri karena calon menantunya kabur,” kata Pak Dandi. Ibu Gita cemberut mendengar perkataan Pak Dandi.
“Kamu tenang saja. Pikirkan dulu sebaik mungkin. Minta petunjuk kepada Allah SWT. Kamu pasti tidak mau gagal lagi dalam berumah tangga,” ujar Pak Dandi kepada Karima
“Ya, Pak,” jawab Karima.
Pak Dandi menoleh ke Daniel.
“Sudah, Pah. Makanya Daniel melamar Karima karena Daniel sudah yakin dengan pilihan Daniel,” jawab Daniel dengan mantap.
“Syukurlah kalau kamu sudah yakin. Sekarang tinggal tunggu jawaban Karima. Tapi ingat, harus sabar! Kalau tidak dia bakalan kabur karena ketakutan,” ujar Pak Dandi.
“Papa ini lucu. Memangnya Karima mau kabur kemana? Kan dia kerja di kantor Daniel,” kata Ibu Gita.
“Eh, Bunda. Di sini banyak perusahaan bukan cuma perusahaan kita saja. Siapa tau Karima mendadak resign lalu pindah ke perusahaan lain,” ujar Pak Dandi.
“Yah, gagal dong Bunda pamer mantu baru pas open house,” kata Ibu Gita dengan sedih.
“Tidak juga, Bun. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana,” ujar Pak Dandi.
Ibu Gita menoleh ke Karima dengan wajah sedih.
“Jangan lama-lama memberi jawabannya!” ujar Ibu Gita dengan sedih.
__ADS_1
“Bunda!” seru Pak Dandi dan Daniel. Mereka gemas apa yang Ibu Gita katakan. Ibu Gita menanggapinya dengan nyengir kuda.
Pak Dandi melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Sudah jam satu. Ayo kita sholat dulu!” ujar Pak Dandi.
Daniel berdiri dari tempat duduk lalu berjalan menuju kasir. Ia membayar semua tagihan makanan mereka. Setelah Daniel membayar tagihan makanan, mereka pun keluar dari rumah makan. Mereka masuk ke dalam mobil. Lalu mobil pun meninggalkan tempat itu menuju ke masjid terdekat untuk sholat dzuhur.
Selesai sholat dzuhur mereka pun pergi untuk melihat kos-kosan, rumah kontrakan, GOR, gedung serba guna, minimarket, supermarket dan hotel.
Ketika mereka berjalan menuju ke rumah kos-kosan Karima memberi petunjuk dari belakang kepada Pak Maulana supir Pak Dandi. Sehingga Pak Maulana tidak mengerti apa yang dikatakan Karima. Jadi mereka salah jalan.
“Karima, kamu pindah ke depan saja, biar mudah memberikan petunjuk!” ujar Pak Dandi.
“Jangan, Papa. Biarkan Karima tetap duduk di belakang bersama Danie!” kata Daniel yang tidak setuju.
“Kalau Karima duduk di belakang susah untuk memberi petunjuk jalan. Nanti Pak Maulana salah belok lagi ,” ujar Pak Dandi.
Daniel menghela nafas berat.
“Pak Maulana berhenti dulu, Pak!” seru Daniel dari belakang. Pak Maulana menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Ayo Bu Karima. Kita pindah ke depan,” ujar Daniel.
Daniel pun beranjak keluar dari mobil. Karima ikut keluar dari mobil. Pak Dandi dan Ibu Gita memperhatikan Daniel dan Karima.
Daniel membukakan pintu depan untuk Karima. “Bu Karima masuk, Bu.”
Karima masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah supir.
“Pak Maulana pindah ke belakang! Saya yang akan menyetir mobil,” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Pak Maulana.
Pak Maulana turun dari mobil lalu masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang. Ia duduk di kursi paling belakang. Kemudian Daniel berjalan menuju ke pintu kemudi. Ia duduk di depan kemudi. Daniel mengendarai Alphard milik Pak Dandi. Pak Dandi menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.
__ADS_1