
Daniel menyetir mobilnya dengan tenang . Karima duduk di sebelahnya. Sedangkan Hari, Gathan dan Rachel duduk di belakang. Hari ini mereka hendak buka puasa di luar. Mereka berangkat setelah sholat magrib agar restaurant yang mereka tuju sudah sepi pengunjung. Mereka akan berbuka puasa di restaurant di sebuah mall yang berada Bintaro sektor tujuh.
Daniel memarkirkan mobil di tempat parkir. Dari tempat parkir mereka berjalan kaki menuju mall. Daniel berjalan sambil menggendong Rachel. Karima berjalan sambil menuntun Gathan. Sedangkan Hari berjalan sendiri di tengah-tengah ke dua orang tuanya.
Mereka memasuki sebuah restaurant keluarga yang berada di malk tersebut. Ketika mereka masuk ke dalam restaurant pengunjung restaurant sudah mulai berkurang. Sehingga mereka bisa mencari tempat yang kosong. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang kosong dan mejanya sudah dibersihkan.
Seorang karyawan restaurant mendekati mereka dan menaruh buku menu di atas meja. Hari mengambil buku menu lalu membaca daftar menu satu persatu. Gathan ikut membaca bersama Hari. Rachel duduk di kursi bayi sehingga tidak bisa melihat isi buku menu.
“Mama, Lahel mau tulun. Mau liat itu.” Rachel menunjuk ke buku menu yang sedang dibaca Hari.
“Rachel duduk saja di situ! Nanti Ayah mintakan buku menu lagi,” ujar Daniel.
Daniel melambaikan tangan ke salah seorang karyawan restaurant. Kemudian karyawan itu mendekati meja mereka.
“Minta buku menu lagi,” ujar Daniel.
Karyawan itu pergi untuk mengambil buku lalu kembali dan memberikan buku menu kepada Daniel. Daniel memberikan Rachel. Rachel membuka daftar menu lalu memperhatikan gambar yang ada di daftar menu.
“Lahel mau ini.” Rachel menunjuk ke gambar bistik sapi.
“Jangan yang itu! Itu daging sapi, nanti Rachel susah mengunyahnya,” ujar Karima.
“Lahel mau yang ini.” Rachel tetap menunjuk ke makanan yang ia mau.
“Kasih saja yang ia mau,” ujar Daniel.
“Nanti kalau dagingnya keras bagaimana?” tanya Karima.
“Gampang, nanti pesan lagi menu yang lain,” jawab Daniel.
Akhirnya Karima memesan makanan yang Rachel mau. Karima mencatat semua pesanan keluarganya lalu ia berikan ke karyawan restaurant. Mereka menunggu pesanan mereka datang.
“Oh, iya. Kemarin Mas dengar dari bapak-bapak di masjid, katanya rumah di belakang kita mau dijual,” ujar Daniel.
“Iya. Tapi dia minta harga tinggi di atas harga pasaran,” jawab Karima.
“Tidak apa-apa. Selama sertifikatnya ada dan asli, kita beli saja,” ujar Daniel.
“Rumah di sebelah juga mau dijual,” kata Karima.
Daniel menoleh ke Karima.
“Oh, ya? Kamu tau darimana?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Ibu Sri sendiri yang menawarkan ke Karima,” jawab Karima.
“Terus kamu jawab apa?” tanya Daniel.
“Rima bilang mau tanya sama Mas Daniel dulu,” jawab Karima.
“Kapan dia bicara ke Rima?” tanya Daniel.
Karima berpikir sejenak. “Kalau tidak salah beberapa hari yang lalu,” jawab Karima.
“Kenapa kamu tidak bicara ke Mas?” tanya Daniel.
“Karima lupa. Tapi sepertinya dia minta harga tinggi juga deh,” jawab Karima.
“Tidak apa-apa mereka minta harga tinggi. Yang penting sertifikatnya ada dan asli,” ujar Daniel.
Karima mengerutkan keningnya mendengar perkataan Daniel.
“Untuk apa beli rumah banyak-banyak?” tanya Karima.
“Anak-anak sudah besar. Gathan pasti minta kamar sendiri. Belum lagi nanti kalau kita punya anak lagi. Harus nambah ART untuk buat membantu kamu. Tidak mungkin Mpok Minah harus mengerjakan semuanya sendiri,” jawab Daniel.
“Tapi harga rumahkan mahal, Mas,” kata Karima.
“Terserah Mas Daniel saja, deh,” kata Karima.
***
Alarm jam di kamar Karima berdering. Tanda Karima harus bangun untuk menyiapkan makan sahur. Entah mengapa hari ini Karima merasa tidak enak badan. Kepalanya sakit dan punggungnya terasa sakit. Karima bangun dari tempat tidur dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju ke dapur.
Ia terpaksa menahan rasa sakit di kepalanya. Kalau ia hanya berbaring di tempat tidur siapa yang akan menyiapkan makan sahur untuk suami dan anak-anaknya.
Karima mendekati rice cooker. Ia hendak memanaskan nasi. Ketika tutup rice cooker dibuka Karima tidak tahan dengan baunya. Kepalanya bertambah sakit dan rasanya ingin muntah. Ia menutup kembali tutup rice cooker. Ia kembali ke kamar untuk mengambil masker.
Karima menyalakan lampu kamar agar mudah mencari masker. Daniel terbangun karena silau oleh lampu kamar.
“Kamu sedang apa?” tanya Daniel melihat Karima seperti sedang mencari sesuatu.
“Cari masker,” jawab Karima.
Daniel melihat jam yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul tiga. Daniel bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Karima menemukan masker lalu makainya. Ia berjalan ke luar kamar menuju ke dapur.
Karima membuka rice cooker, beruntung ia tidak mencium bau nasi di dalam rice cooker. Ia memanaskan nasi di dalam dandang. Selama memasak Karima menggunakan masker, karena ia tidak tahan dengan bau dari masakan. Daniel keluar dari kamar lalu menghampiri istrinya yang sedang masak di dapur.
__ADS_1
“Kenapa kamu pakai masker?” tanya Daniel.
“Rima tidak tahan mencium bau nasi,” jawab Karima.
Daniel mengerut keningnya. Selama ini istrinya baik-baik saja jika sedang memanaskan nasi.
Mungkin penciumannya sedang sensitive, kata Daniel di dalam hati.
Daniel membantu Karima. Ia menyiapkan piring dan gelas di atas meja makan. Setelah selesai menata meja makan Daniel membangunkan anak-anaknya satu persatu. Ketika Daniel kembali ke meja makan, makanan untuk sahur sudah siap dihidangkan di atas meja. Karima datang membawa ayam yang baru selesai digoreng.
“Ayo kita sahur dulu.” Karima duduk di meja makan.
Anak-anak memperhatikan mama mereka menggunakan masker.
“Mama kenapa pakai maskel?” tanya Rachel.
“Mama tidak kuat mencium bau nasi,” jawab Karima.
Rachel mencium nasi yang berada di atas piring. Ia tidak mencium bau apa-apa. Ia hanya mencium bau nasi seperti biasa.
“Nga bau,” kata Rachel.
“Penciuman mama lagi sensitive. Nanti juga biasa lagi. Ayo kita sahur dulu!” ujar Daniel.
Seperti biasa Karima menyuapi anaknya satu pesatu. Setelah selesai menyuapi anak-anaknya giliran Karima makan. Ketika masuk satu suap ke dalam mulutnya tiba-tiba perutnya mual dan ia hendak memuntahkan makanan yang sedang dikunyahnya. Cepat-cepat ia berlari menuju ke kamar mandi yang berada di belakang. Ia memuntahkan semua makanan yang ada di mulut dan di perutnya.
Daniel beranjak dari tempat duduk dan menghampiri istrinya yang sedang muntah. Daniel menyusap punggung istrinya. Setelah puas mengeluarkan semua isi perutnya Karima membanjur closet lalu ia kumur-kumur.
Setelah puas muntah kepala Karima bertambah sakit dan matanya berkunang-kunang. Daniel membimbing Karima kembali ke meja makan. Karima duduk di kursi makan dengan lemas. Anak-anak sedang memakan buah-buahan sambil memperhatikan wajah mamanya yang lemas. Daniel membawakan segelas air hangat lalu diberikan kepada Karima.
“Minum dulu!”
Karima meminum air sedikit demi sedikit. Perutnya terasa enak setelah minum air putih hangat. Karima diam sejenak untuk menenangkan diri.
“Kamu tidak usah puasa dulu, Istirahat sampai perut kamu tidak mual lagi!” ujar Daniel.
Daniel menatap anak-anak sambungnya satu persatu.
“Anak-anak, hari ini mama tidak puasa dulu karena mama sakit. Nanti kalau mama sudah sembuh mama bisa puasa lagi,” ujar Daniel.
“Iya, Ayah,” jawab anak-anak.
Tiba-tiba Karima menutup mulutnya lalu ia berlari menuju ke kamar mandi. Terdengar suara Karima yang sedang muntah di kamar mandi belakang.
__ADS_1