
Pukul delapan pagi Daniel sudah duduk di lobby kantor. Ia berangkat pagi-pagi sekali dari rumahnya yang berada di daerah Menteng. Sengaja ia pagi-pagi sudah berada di kantor untuk mengawasi karyawannya yang datang terlambat. Sebenarnya jam kerja mereka pukul sembilan namun delapan tiga puluh mereka sudah harus ada di kantor. Para karyawan masuk ke dalam kantor sambil bersenda gurau sambil tertawa namun ketika melihat Daniel sedang duduk di lobby dengan wajah tidak bersahabat mereka lagsung diam dan berjalan cepat-cepat masuk ke dalam kantor.
Pukul delapan tiga puluh Daniel masih saja duduk di lobby menunggu barang kali ada yang datang terlambat. Tya dan Uri tidak berkutik melihat Daniel yang sedang duduk di lobby. Mereka pura-oura sibuk daripada kena marah oleh Daniel. Sebuah mobil honda mobilio masuk ke dalam pekarangan kantor. Mobil itu parkir tepat di sebelah mobil Daniel. Sebab tempat parkir mobil yang lain sudah penuh oleh mobil kantor dan mobil karyawan lainnya.
Tempat Daniel duduk bisa melihat ke arah tempat parkir. Daniel memperhatikan siapa yang memarkirkan mobil di sebelah mobilnya. Seorang wanita turun dari mobil.
Itu kan karyawan yang kemarin datang terlambat, kata Daniel di dalam hati.
Wanita itu masuk ke dalam kantor namun ketika melihat Daniel ia menganggukkan kepalanya ke Daniel dan masuk ke dalam kantor.
Pukul sembilan Daniel langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia merasa semua karyawannya sudah datang semua lalu Daniel menuju ke ruang kerjanya.
Pukul sembilan tiga puluh ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. “Masuk!” seru Daniel dengan suara yang keras.
Pintu terbuka Pak Umar masuk ke dalam ruagan Daniel. “Pak, karyawan semuanya sudah berkumpul di lobby,” ujar Pak Umar. Para karyawan dikumpulkan di lobby karena ruang rapat tidak bisa menampung karyawan yang sangat banyak.
“Baiklah.” Daniel beranjak dari kursi kebesarannya lalu berjalan ke luar ruangannya. Ketika sampai di lobby para karyawan menunggunya sambil mengobrol. Daniel terpaksa berdiri di dekat pintu liff. Pak Umar memberikan microphone kepada Daniel agar suara Daniel terdengar oleh semua karyawan.
“Selamat pagi semuanya.” Daniel menyapa karyawan. Mendengar suara Daniel tiba-tiba para karyawan langsung diam tidak bersuara.
“Perkenalkan nama saya Daniel Utama. Saya direktur baru perusahaan ini. Seperti yang anda-anda ketahui kepemilikan perusahaan ini telah berpindah dari Pak Haji Jaelani menjadi milik Pak Dandi Utama sebagai pelunasan hutang Pak Haji Jaelani kepada Pak Dandi,” ujar Daniel. Semua karyawan diam dan mendengarkan perkataan Daniel.
“Semestinya Pak Haji Jaelani hanya memberikan aset perusahaan kepada Pak Dandi, tapi ternyata ia juga memberikan semua karyawannya kepada Pak Dandi. Sehingga anda-anda semua menjadi beban Pak Dandi. Pak Dandi melimpahkan semua wewenang di perusahaan ini kepada saya agar perusahaan ini saya kelola dengan baik,” lanjut Daniel.
“Sebagai pimpinan perusahaan ini saya tidak akan memecat karyawan yang bekerja seenaknya atau tidak bekerja sama sekali. Apalagi kerjanya hanya main ponsel dengan wifi kantor. Tapi saya akan memotong gajinya atau menurunkan menjadi office girl, office girl dan cleaning service. Kasihan Ngadimin tidak ada yang membantu. Gedung segini besarnya office boy cuma satu. Yang tidak terima diperlakukan demikian silahkan mengundurkan diri!” ujar Daniel.
Tiba-tiba terdengar suara bisik-bisik para karyawan sehingga menjadi berisik.
“Saya masih belum selesai berbicara!” kata Daniel. Para karyawan kembali diam dan mendengarkan.
__ADS_1
“Saya membutuhkan seorang sekretaris untuk memudahkan pekerjaan saya. Dan saya sudah mendapat calon sekretaris saya yaitu Ibu Karima,” kata Daniel. Semua orang menoleh ke Karima.
Karima yang sedang mendengarkan perkataan Daniel langsung kaget namanya disebut.
“Mana Ibu Karima?” tanya Daniel. Karima mengangkat tangannya.
“Maju ke depan!” ujar Daniel. Karima maju ke depan. Ia berdiri di sebelah Daniel.
“Apakah Ibu siap untuk menjadi sekretaris saya?” tanya Daniel.
“Siap, Pak,” jawab Karima.
“Baiklah kalau ibu sudah siap, mulai hari ini Ibu bekerja menjadi sekretaris saya. Nanti akan siapkan meja kerja Ibu oleh Pak Taslim,” ujar Daniel.
“Pk Taslim, tolong siapkan meja kerja Ibu Karima!” kata Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Pak Taslim.
“Bu Karima ikut ke ruangan saya! Bawa semua barang-barangmu!” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima. Daniel kembali ke ruangannya.
Daniel sedang membaca dokumen di depannya. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. “Masuk!” kata Daniel. Pintu dibuka Karima berdiri di depan pintu dengan membawa tas dan kotak yang berisi peralatan kerjanya.
“Masuk! Taruh barang-barangmu di atas meja!” ujar Daniel.
Karima masuk ke dalam ruang kerja Daniel. Ia menyimpan kotak di atas meja.
“Saya mau melihat rumah kontrakan dan kos-kosan. Kamu tau kan tempatnya?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Tidak tau, Pak. Saya belum pernah ke sana,” jawab Karima. Daniel menghela nafas mendengar jawab Karima.
“Coba kamu minta alamatnya ke manager marketing. Sekalian minta alamat rumah kontrakan juga!” kata Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima. Karima keluar dari ruangan Daniel.
Beberapa menit kemudian Karima datang membawa beberapa lembar kertas lalu diberikan oleh Daniel. Daniel membaca data lengkap kos-kosan serta rumah kontrakan. Kos-kosan ada di sepuluh tempat. Satu tempat kos terdiri dari dua puluh kamar. Sedangkan rumah kontrakan ada di tiga puluh tempat. Satu rumak kontrak terdiri dari lima pintu.
“Banyak sekali kos-kosan dan rumah kontrakannya,” ujar Daniel ketika membaca data-data kos-kosan dan kontrakan.
“Kamu hafal nggak dengan nama tempatnya?” tanya Daniel.
“Caba saya lihat,” kata Karima. Daniel memberikan kertas tersebut kepada Karima. Karima membaca alamat-alamat yang tercantum di kertas tersebut.
“Saya tau, Pak. Ada di sekitar sini,” jawab Karima.
“Oke, kalau begitu kita pergi sekarang,” ujar Daniel. Daniel mengambil kunci mobil di atas meja.
“Kamu bisa menyetir mobil mercy?” tanya Daniel. Karima diam tidak menjawab.
“Saya lihat kamu membawa mobil ke kantor,” kata Daniel.
Karima menghela nafas. “Saya bisa menyetir mobil mercy. Saya pernah menyetir mobil mantan suami saya,” jawab Karima.
“Mantan suami kamu mobilnya mercy?” tanya Daniel.
“Iya, Pak,” jawab Karima.
“Hm. Hebat juga mantan suami kamu,” puji Daniel.
__ADS_1
Daniel memberikan kunci mobil kepada Karima. “Kamu yang menyetir mobi. Saya tidak tau jalan di daerah sini,” ujar Daniel. Karima mengambil kunci mobil dari tangan Daniel lalu mereka keluar dari ruang kerja Daniel.