Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
93. Tahlilan


__ADS_3

Karima tidak mungkin menjawab kalau ia diantar oleh bos nya. Ia terpaksa menjawab kalau ia diantar oleh temannya.


“Mana temannya? Mama mau ketemu,” ujar Ibu Menar.


Karima kaget mendengar perkataan Ibu Menar. Karima menoleh ke belakang mencari Daniel. Daniel sedang bercanda dengan anak-anak. Karima memberikan tanda ke Daniel agar Daniel mendekatinya. Daniel menghampiri Karima dari belakang.


“Ada apa?” tanya Daniel.


“Mama menanyakan Pak Daniel,” bisik Karima.


“Oh.”


Daniel berjalan ke depan Karima dan Ibu Menar.


“Ma, ini teman Karima.” Karima memperkenalkan Daniel kepada Ibu Menar. Daniel agak membungkuk di depan Ibu Menar. Ibu Menar memandang wajah Daniel.


“Terima kasih sudah mengantar Karima dan cucu-cucu Ibu ke sini,” ucap Ibu Menar.


“Sama-sama, Bu,” jawab Daniel.


“Nanti malam datang ke rumah, ya! Ibu mau mengadakan tahlilan,” kata Ibu Menar.


“Insyaallah, Bu,” jawab Daniel.


Mirna datang lalu mendekati Ibu Menar.


“Ma. Kita pulang sekarang, ya!” kata Mirna.


Ibu Menar menjawab dengan menggangguk. Mirna membantu Ibu Menar berdiri lalu ia memapah Ibu Menar meninggalkan makam Yarfin. Diikuti oleh cucu, anak dan menantu Ibu Menar.


Karima dan Daniel menghampiri anak-anak yang sedang asyik bermain.


“Ayo anak-anak, kita pulang!” kata Daniel.


“Kita pulang ke rumah?” tanya Gathan.


“Bukan pulang ke rumah. Tapi kita pulang ke rumah nenek. Nenek ingin kita menginap di sana,” jawab Karima.


Karima menuntun tangan Rachel, sedangkan Daniel menuntun tangan Gathan. Hari sudah berjalan lebih dahulu. Mereka berjalan meninggalkan makam Yarfin.

__ADS_1


Mobil Daniel berhenti di depan rumah Ibu Menar. Daniel, Karima dan anak-anak turun dari mobil. Daniel membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper Karima dari dalam bagasi. Lalu koper itu diberikan kepada Karima.


“Terima kasih, Pak Daniel. Saya dan anak-anak sudah merepotkan Pak Daniel,” ucap Karima.


“Sama-sama, Bu Karima. Saya tidak merasa direpotkan. Saya senang membantu Ibu Karima,” jawab Daniel.


“Kalau Pak Daniel cape nanti malam tidak usah ikut tahlil!” kata Karima.


“Mudah-mudahan saya tidak cape. Jadi saya bisa ikut tahlil,” ujar Daniel.


Tiba-tiba Karima ingat kalau mobilnya masih di parkiran kantor. Tadi siang ia pulang diantar Daniel sehingga mobil miliknya ia tinggalkan begitu saja di kantor.


“Saya lupa kalau mobil saya masih di kantor,” kata Karima.


“Bu Karima tidak perlu khawatir. Saya sudah titipkan mobil Bu Karima ke satpam,” ujar Daniel.


“Alhamdullilah kalau sudah dititipkan ke satpam,” kata Karima.


“Saya pulang dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Daniel. Daniel masuk masuk ke dalam mobil. Sekarang ia duduk di belakang karena sudah tidak ada Karima dan anak-anak di mobilnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Karima. Mobil Daniel meluncur meninggalkan rumah Ibu Menar.


“Ma. Kata nenek kita tidur di kamar Papa,” ujar Hari.


“Hari masih ingat yang mana kamar papa?” tanya Karima.


“Masih, dong. Hari masih ingat yang mana kamar papa,” jawab Hari.


“Ayo, Hari tunjukin kamar papa,” kata Hari.


Hari berjalan masuk ke dalam rumah. Karima mengikuti Hari dari belakang. Hari berjalan menuju ke sebuah kamar yang ada di dekat ruang keluarga. Ia membuka pintu kamar tersebut. Hari dan Karima masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar sudah ada Rachel dan Gathan yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Mereka nampak sudah letih sekali.


Karima menaruh koper di sudut kamar itu. Lalu ia duduk di kursi meja rias. Ia memandangi sekeliling kamar. Kamar itu masih seperti dulu.


Sewaktu Karima dan Yarfin baru menikah mereka tinggal di rumah Ibu Menar. Mereka tidur di kamar ini. Kamar ini adalah saksi bisu cinta mereka.


Setelah beberapa bulan tinggal di rumah Ibu Menar, barulah Ysarfin dapat membeli rumah. Itupun juga letaknya sangat jauh yaitu di daerah Pamulang Tangerang Selatan. Waktu itu Pamulang masih sangat sepi. Jalanannya juga masih bolong-bolong dan sangat gelap ketika malam hari.


Ibu Menar tidak mengijinkan mereka tinggal di Pamulang dengan alasan tempatnya sangat sepi. Beliau takut terjadi apa-apa pada Karima jika ditinggal Yarfin bekerja. Apalagi saat itu Karima sedang hamil Hari.

__ADS_1


Namun, bagi Karima tidak masalah tinggal dimana pun juga. Asalkan ia ikut kemanapun suaminya pergi. Hingga akhirnya Pamulang berubah menjadi kota kecil yang ramai. Apalagi kantor walikota Tangerang Selatan letaknya di dekat perumahan tempat tinggal mereka.


Rumah Karima dan Yarfin yang dulunya sepi sekarang berubah menjadi ramai. Sehingga Ibu Menar tidak merasa khawatir lagi mereka tinggal di sana. Hingga akhirnya pernikahan  mereka berakhir karena kehadiran orang ketiga.


Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Karima. Karima mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Karima beranjak dari tempat duduknya.


“Siapa yang mau mandi lebih dulu?” tanya Karima.


“Saya.” Ketiga anak Karima mengangkat tangan.


“Abang dulu yang mandi,” ujar Karima.


Karima membuka koper lalu mengeluarkan handuk dari dalam koper.


“Nih, Bang. Handuknya.” Karima memberikan handuk kepada Hari.


Hari membawa handuk itu ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar Yarfin ada kamar mandi sehingga mereka tidak harus keluar dari kamar jika hendak ke kamar mandi.


***


Setelah selesai sholat magrib keluarga berkumpul di rumah Ibu Menar untuk mengikuti tahlilan satu hari meninggalnya Yarfin. Daniel juga hadir untuk mengikuti tahlilan di rumah Ibu Menar. Daniel menggunakan baju koko lengan pendek berwarna putih dan menggunakan kopeyah berwarna hitam.


Hari dan Gathan juga ikut tahlil. Mereka ingin mendoakan papa mereka yang sudah tiada. Hari dan Gathan duduk di sebelah Daniel.


Acara tahlilan dipimpin oleh seorang ustad. Dan pengajiannya sangat lama sekitar satu jam. Gathan terlihat sudah sangat ngantuk sehingga ia tertidur sambil bersandar pada Daniel. Rachel pun sudah ngantuk dan ia tertidur di pangkuan Karima.


Akhirnya tahlilan sudah selesai. Karima memindahkan Rachel ke kamarnya. Ketika ia keluar dari kamar Daniel mendekatinya sambil menggendong Gathan. Karima membuka pintu kamar dan membiarkan Daniel masuk ke dalam kamar. Daniel menaruh Gathan di atas tempat tidur. Setelah itu mereka ke luar dari kamar.


Di luar para tamu sedang mengantri mengambil makan malam.


“Pak Daniel makan dulu!” Karima mengantar Daniel menuju ke meja prasmanan. Karima memberikan piring kepada Daniel. Lalu Daniel memngambi makan sendiri.


“Ibu tidak makan?” tanya Daniel. Ia melihat Karima tidak mengambil makanan. Ia hanya menemani Daniel.


“Saya makan nanti,” jawab Karima.


“Jangan sampai lupa makan! Nanti Bu Karima sakit,” ujar Daniel.


“Iya, Pak Daniel,” jawab Karima.

__ADS_1


Setelah mengambil makan Daniel duduk di ruang tamu bersama dengan para laki-laki. Ia duduk di sebelah Hari.


__ADS_2