
Hari ini Ibu Titin dan Ibu Ecin akan berangkat umroh. Mereka berangkat dengan menggunakan travel haji dan umroh yang cukup terkenal dikalangan ekonomi atas. Sengaja Adrian memilih travel tersebut agar Ibu Titin dan Ibu Ecin mendapatkan pelayanan yang terbaik.
Mia dan Adrian serta keluarga Ibu Ecin mengantar Ibu Titin dan Ibu Ecin ke bandara internasional Soekarno Hatta. Sebelum berangkat Ibu Titin berangkat Mia memeluk erat Ibu Titin seolah mereka akan berpisah dalam waktu yang sangat lama.
“Doakan Mia agar Mia melahirkan dengan selamat. Bayi Mia lahir dalam keadaan selamat dan sehat,” kata Mia.
“Akan Emak doakan yang terbaik untuk Mia,” jawab Ibu Titin ambil mengusap punggung Mia. Mia melepaskan pelukannya.
“Sudah jangan menangis lagi!” Ibu Titin mengusap air mata Mia.
“Jangan lupa sering-sering telepon Mia!” kata Mia.
“Iya, Mia. Nanti Emak telepon Mia sehari tiga kali,” jawab Ibu Titin.
“Seperti minum obat saja,” sahut Citra yang sedang berdiri di dekat Mia dan Ibu Titin.
“Tau, tuh. Teteh Mia yang nyuruh Emak,” ujar Ibu Titin.
Lalu Mia beralih ke Ibu Ecin. Mia memeluk Ibu Ecin. “Titip Emak, Bu. Telepon Mia. Kalau terjadi apa-apa dengan Emak!” ujar Mia.
“Iya, Mia,” jawab Ibu Ecin.
Pak Dandi dan Ibu Gita serta Daniel datang menyusul ke bandara. Mereka ingin ikut mengantar Ibu Titin dan Ibu Ecin pergi umroh.
Ketika Daniel hendak mencium tangan Ibu Titin, Ibu Titin langsung memeluk Daniel. “Emak doakan semoga kamu dapat jodoh yang terbaik,” ujar Ibu Titin.
“Aamiin,” jawab Daniel.
Ibu Titin melepas pelukannya. “Emak titip Mia. Jaga dia baik-baik!” ujar Ibu Titin.
“Baik, Mak,” jawab Daniel.
Tiba-tiba terdengar panggilan dari pengurus travel kalau semua peserta umroh harus bersiap-siap untuk check in. Ibu Titin dan Ibu Ecin menyalami keluarganya satu persatu. Setelah itu mereka pergi bersama dengan rombongan menuju ke tempat check in.
Mia menatap ke pergi Ibu Titin. Hatinya begitu sedih melepas kepergian ibu Titin. Adrian merangkul punggung istrinya lalu mengusap punggung Mia.
“Sudah jangan bersedih. Kita doakan semoga Emak sampai dengan selamat dan semoga baik-baik saja selama di sana,” kata Adrian.
“Aamiin,” jawab Mia.
“Ayo sekarang waktunya kita makan siang bersama!” kata Pak Dandi.
“Papah mau makan siang dimana?” tanya Ibu Gita.
“Dimana saja. Terserah bumil mau makan siang dimana,” jawab Pak Dandi. Bumil yang dimaksud adalah Mia.
“Mia! Kata Papah, kamu mau makan siang dimana?” tanya Ibu Gita.
“Dimana, ya?” Mia berpikir sejenak.
__ADS_1
“Mia mau steak. Boleh nggak, Mah?” tanya Mia ragu-ragu.
“Boleh, sayang. Tapi harus sampai matang sekali,” jawab Ibu Gita.
“Ya sudah. Mia mau makan steak,” kata Mia.
Mulyana dan Eti pamit pulang karena mereka merasa ini acara keluarga Pak Dandi. Mereka merasa tidak enak karena mereka hanya orang luar.
“Eh, mau kemana?” tanya Pak Dandi ketika Mulyana pamit pulang.
“Mau langsung pulang ke Sumedang,” jawab Mulyana.
“Jangan pulang, dulu! Kita makan siang dulu,” ujar Pak Dandi.
“Ya nggak, Cit?” tanya Pak Dandi kepada Citra.
“Iya, Om,” jawab Citra.
“Tos dulu, dong.” Pak Dandi mengulurkan telapak ke arah Citra. Citra menepuk telapak tangan Pak Dandi.
“Pinter,” puji Pak Dandi sambil mengusap kepala Citra.
“Ayo kita berangkat sekarang. Kasihan bumil keburu kelaparan. Jalannya konvoi, ya!” ujar Pak Dandi.
“Citra mau naik mobil siapa?” tanya Pak Dandi kepada Citra.
“Nggak mau naik mobil Om?” tanya Pak Dandi.
“Nggak,” jawab Citra sambil menggelengkan kepalanya.
“Mobil Om ada televisinya, loh. Citra bisa sambil nonton film kartun,” bujuk Pak Dandi.
“Mau naik mobil Papah, aja.” Citra tetap dengan pendiriannya.
“Citra takut ditinggalin ke Sumedang,” kata Mia.
“Kalau ditinggal ke Sumedang, sekolah di Jakarta aja sama Om Dan Tante,” ujar Pak Dandi.
“Sudah, Papah. Kalau nggak mau jangan dipaksa! Nanti nangis,” kata Ibu Gita melihat suaminya sedang merayu Citra agar ikut di mobil mereka.
“Ya sudah kalau nggak mau naik mobil Om. Ayosekarang kita berangkat sekarang!” Merekapun berjalan meninggalkan bandara menuju ke tempat parkir.
***
Mia sedang sibuk membuat kue. Ia ingin makan kue buatannya sendiri. Tiba-tiba Adrian datang. Ia masuk melalui pintu garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Adrian.
“Waalaikumsalam,” jawab Mia. Mia menoleh ke arah suaminya. Wajah suaminya seperti yang lesu dan seperti orang yang sedang sedih. Wajahnya jauh berbeda dengan sewaktu berangkat ke kantor.
__ADS_1
“Loh, Mas. Kenapa pulang lagi? Ada yang ketinggalan?” tanya Mia. Mia sedang fokus mengocok adonan kue dengan mixer. Adrian baru berangkat ke kantor sejam yang lalu tapi ia kembali lagi pulang ke rumah. Entah ada dokumen yang tertinggal atau sedang ada masalah sehingga Adrian memutuskan untuk kembali ke rumah.
“Nggak ada yang ketinggalan. Hanya saja Mas males ke kantor,” jawab Adrian. Adrian mendekati istrinya.
“Kamu lagi sibuk, ya?” tanya Adrian.
“Mas mau apa?” tanya Mia. Mia mematikan mixer.
“Ada yang hendak Mas bicarakan dengan kamu,” jawab Adrian.
“Tunggu dulu, ya. Nanti kalau kue sudah dimasukan ke dalam oven, baru kita bicara,” kata Mia. Adrian duduk di sofa menunggu istrinya yang sedang membuat kue.
Mia memasukkan adonan kue ke dalam loyang. Setelah itu ia memasukkan loyang ke dalam oven. Mia ngatur waktu dan api pembakaran. Barulah ia tenang meninggalkan kue di dalam oven.
Mia menghampiri Adrian. Ia duduk di sebelah Adrian. “Mas mau bicara tentang apa?” tanya Mia. Adrian memegang telapak tangan Mia lalu menaruhnya di atas pangkuannya.
“Mas harap kamu tenang dan ikhlas dengan semua ini,” ujar Adrian. Ia memggenggam tangan Mia.
“Tentang apa dulu? Kalau Mas mau menikah lagi, Mia tidak ikhlas!” jawab Mia.
“Bukan soal itu,” ujar Adrian. Mia melihat wajah Adrian yang terlihat serius. Mia langsung merasa cemas.
“Ada apa, Mas?” tanya Mia dengan was-was.
Tiba-tiba Pak Kardi datang dari arah dapur. “Pak, tendanya sudah datang,” kata Pak Kardi.
“Langsung pasang aja, Pak! Sekalian kursinya dijejerkan. Nanti kalau sudah selesai pasang tenda geser-geser meja dan kursi di ruang tamu!” ujar Adrian.
“Baik, Pak,” jawab Pak Kardi.
Mia bingung mengapa suaminya tiba-tiba memasang tenda dan menggeser meja dan kursi di ruang tamu. Suaminya mau mengadakan apa? Mengapa semuanya serba tiba-tiba?
“Mas, mau ada apa? Kok pasang tenda?” tanya Mia.
“Ini yang mau Mas bicarakan sama kamu,” jawab Adrian.
Adrian menarik nafas rasanya sulit untuk mengatakan kepada istrinya. “Ada apa sih, Mas?” tanya Mia penasaran.
“Sewaktu Mas sampai di kantor Mas mendapat telepon dari Ibu Ecin.” Adrian berhenti dan diam sejenak. “Terus?” tanya Mia.
“Ibu Ecin mengatakan kalau Emak meninggal dunia ketika sedang tidur,” jawab Adrian. Mia kaget mendengarnya.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun,” ucap Mia. Air mata Mia langsung berlinang, ia pun menangis.
Ibu Ecin sengaja tidak menelepon langsung ke Mia karena kondisi Mia yang sedang hamil muda. Ia takut berita yang ia sampaikan mempengaruhi kandungan Mia. Ibu Ecin memutuskan untuk menelepon Adrian agar Adrian menyampaikan ke Mia dengan berhati-hati.
??
__ADS_1