
Suster menggendong bayi tersebut lalu di dekatkan kepada Karima dan Daniel.
“Selamat ya, Bu Pak. Bayinya laki-laki,” ucap suster.
Daniel dan Karima melihat mereka yang baru lahir.
“Assalamualaikum, Ade.” Karima menyentuh tangan bayi yang mungil dan menggemaskan.
“Apakah dia dalam keadaan sehat, Sus?” tanya Daniel.
“Baru akan diperiksa dokter anak. Silahkan Bapak adzan kan dulu, agar bisa secepatnya diperiksa dokter anak,” kata suster.
Daniel menggendong bayinya. Ini bukan pertama kali Daniel menggendong bayi. Ia pernah menggendong Safina sewaktu masih bayi. Walaupun Adrian terus saja menempel pada Daniel. Adrian takut Safina terjatuh dari gendongan Daniel. Sekarang ia baru bisa merasakan apa yang Adrian rasakan.
Daniel memandangi putranya. Ia tersenyum melihat wajah putranya. Bayi itu sepertinya kelaparan karena ia seperti mencari susu. Daniel mengadzankan bayinya. Bayi itu terlihat tenang ketika mendengar suara ayahnya yang sedang mengumandangkan adzan dan komat di telinganya.
Setelah selesai di adzankan Daniel memberikan kembali bayinya kepada suster. Suster membawa bayi mereka untuk diperiksa oleh dokter anak. Daniel mendekati Karima dan mengecup kening Karima.
“Terima kasih sudah melahirkan anak Mas yang lucu,” ucap Daniel.
Karima hanya tersenyum. Ia memejamkan mata karena ia merasa letih dan ngantuk. Sementara itu dokter Luci sedang menjahit bagian tubuh Karima yang sobek.
***
Setelah selesai dijahit Karima dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP. Karima dan Daniel langsung beristirahat di kamar itu.
Pukul setengah sembilan Pak Dandi dan Ibu Gita datang ke rumah sakit. Mereka membawa Hari, Gathan dan Rachel.
“Mama!” teriak Hari, Gathan dan Rachel ketika masuk ke dalam kamar.
“Sstt jangan berisik! Papa dan ade lagi bobo,” ujar Karima dengan suara yang pelan.
“Oh.” Anak-anak langsung mengecilkan suaranya.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi dan Ibu Gita ketika masuk ke dalam kamar inap.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima.
Pak Dandi dan Ibu Gita mendekati tempat tidur Karima. Karima mencium tangan kedua mertuanya.
“Ayah bobo dimana?” tanya Hari karena Daniel tidak terlihat di ruangan itu.
Karima membuka tirai yang menutupi Daniel tempat tidur Daniel dan box bayi. Sengaja ia menutup tirai yang ke arah tempat tidur Daniel agar Daniel tidak terganggu oleh suster dan dokter yang datang.
Anak-anak mendekati tempat tidur Daniel. Daniel sedang tidur pulas sambil mendengkur. Anak-anak tertawa cekikikan mendengar suara dengkuran Daniel. Ibu Gita mendekati box bayi. Anak-anak ikut mendekati box bayi. Mereka ingin melihat adik mereka yang baru lahir.
__ADS_1
Hari bisa melihat adik bayi karena ia sudah tinggi. Sedangkan Rachel dan Gathan kesulitan untuk melihat adik mereka. Pak Dandi dan Ibu Gita menggendong Rachel dan Gathan. Sehingga Rachel dan Gathan bisa melihat adik mereka.
“Ade laki-laki atau perempuan, Mah?” tanya Hari.
“Laki-laki,” jawab Karima.
“Rachel! Adenya botak bukan kuncir dua,” kata Hari kepada Rachel.
Namun, Rachel tidak terlihat kecewa mengetahui adiknya laki-laki. Ia asyik memandangi adiknya yang terlihat lucu ketika sedang tidur.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Mia dan Adrian beserta Safina masuk ke dalam kamar inap. Adrian membawa kado yang sangat besar.
“Assalamualaikum,” ucap Mia dan Adrian ketika masuk ke dalam kamar inap.
“Waalalikumsalam,” jawab semua orang yang berada di dalam kamar.
Mia mendekati Karima.
“Selamat ya, Mbak. Atas kelahiran bayinya.” Mia dan Karima saling cipika cipiki.
“Terima kasih,” jawab Karima.
Mia melihat bayi Karima yang sedang tidur di dalam box bayi.
“Bayinya lucu. Laki-laki atau perempuan, MBak?” tanya Mia.
“Laki-laki,” jawab Karima.
Adrian mendekati tempat tidur Daniel. Ia memandangi Daniel yang sedang tidur nyenyak.
“Si Ayah tidurnya nyenyak banget. Dia nggak bangun-bangun walaupun banyak orang,” kata Adrian.
“Biarkan saja, Mas. Mas Daniel kecapaian sudah menemani Mbak Karima melahirkan,” ujar Mia.
Dasar Adrian tetaplah Adrian. Ia senang berbuat iseng kepada Daniel.
“Wey, Pak. Bangun!” Adrian menarik kaki Daniel.
“Mas Adrian!” Mia melotot melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
Daniel pun terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan melihat keluarganya datang menjenguk Karima.
“Eh, ada Kakak Rachel,” ujar Daniel ketika melihat Rachel digendong Ibu Gita.
“Kenapa Kakak Rachel digendong Nenek?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Lagi liat ade,” jawab Rachel.
“Sudah lihat adenya?” tanya Daniel.
“Cudah Ayah. Adenya lucu kayak Kakak,” jawab Rachel.
“Siapa nama bayinya?” tanya Ibu Gita.
“Andika Daniel,” jawab Daniel.
“Kamu sudah sarapan, belum?” tanya Ibu Gita.
“Belum,” jawab Daniel.
“Sarapan dulu! Bunda bawa makanan untuk kamu,” ujar Ibu Gita.
“Sudah mandi, belum?” tanya Adrian.
“Belum,” jawab Daniel.
“Sana, mandi dulu! Jangan sampai kami semua pingsan karena bau lu belum mandi,” kata Adrian.
“Iya. Gue mandi, nih,” jawab Daniel.
Daniel beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Daniel sudah selesai mandi.
“Nah, kan kalau sudah mandi kelihatan seger nggak rudet,” ujar Adrian.
Daniel duduk di sofa. Ia membuka rantang yang berada di atas meja. Daniel memakan sarapan yang dibawakan oleh Ibu Gita.
Menjelang siang kamar inap tempat Karima dirawat terlihat ramai oleh keluarga Daniel dan keluarga Karima yang datang menjenguk bayi yang baru lahir. Abang-abang Karima beserta istri mereka datang menjenguk Karima. Ibu Gita dan Reni bergantian menggendong Andika. Kakak-kakak ipar Karima yang lain juga ikut bergantian menggendong Andika. Mereka gemas melihat bayi Karima. Daniel dan Karima terlihat bahagia melihat kamar inap ramai oleh keluarga mereka. Mereka berdoa agar kebahagiaan mereka kekal selamanya hingga maut datang menjemput mereka. Aamiin.
Tamat.
Terima kasih sudah membaca novel ini hingga tamat. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca Deche.
,
Deche mau promosi novel baru Deche yang berjudul 183 Hari Menjadi Kekasih.
Ketika Rahma Sasmita berjalan menuju ke kantornya. Tanpa sengaja ia melihat seorang kakek yang hampir terjatuh karena kakinya keseleo akibat tidak melihat lubang yang ada di trotoar. Namun, siapa sangka pertemuannya dengan kakek itu bisa merubah hidupnya yang tenang menjadi nano-nano.
Rendi Dirgantara Kartabatara seorang pria keren dan tampan. Ia berasal dari keluarga kaya raya namun sayang dia sangat sombong. Pada suatu hari kakeknya memperkenalkan Rendi dengan seorang perempuan sederhana yang berprofesi sebagai aparatur sipil negara. Kakeknya mengancam jika Rendi tidak menikah dengan perempuan itu maka namanya akan dicoret dari daftar ahli waris. Dengan terpaksa Rendi mengikuti perkataan kakeknya.
Bagaimana hubungan Rendi dan Rahma selanjutnya?
__ADS_1