Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
40. Pergi Berbelanja


__ADS_3

Setelah Adrian pergi, Mia pergi ke makam mamahnya. Ia mampir dulu ke toko bunga untuk membeli buket bunga yang cantik untuk mamahnya. Dulu dia hanya bisa membeli bunga tabur untuk di taruh di makam mamahnya. Sekarang ia manpu membeli rangkaian bunga cantik untuk ditaruh di makam mamahnya. Tapi sayang di Sumedang tidak ada bunga yang seperti Adrian belikan untuk makam papahnya.


Mia berjongkok di sebelah makam mamahnya. Kali ini tidak ada buket bunga dari seseorang yang biasa ia temukan di atas makam mamahnya. Mungkin orang belum datang berziarah ke makam mamahnya. Mia menyimpan buket bunga di atas makam mamahnya. Sebelum ia berdoa, ia mencabuti rumput liar dan pohon liat yang tumbuh di makam mamahnya. Selesai mencabut rumput Mia pun berdoa untuk mamahnya.


Pukul enam sore Adrian baru pulang dari Bandung. Ia datang untuk menjemput Mia.


“Jangan ke hotel dulu. Makan malam di sini! Emak sudah masak banyak untuk kalian,” kata Ibu Titin ketika Mia dan Adrian hendak pamit kembali ke hotel.


“Iya, Mak,” jawab Adrian menuruti permintaan Ibu Titin. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di rumah Ibu Titin sebelum kembali ke hotel.


***


Keesokan harinya Mia dan Adrian kembali ke Jakarta karena banyak dokumen yang harus diperiksa dan di tanda tangani Adrian. Lina terpaksa diberhentikan menjadi perawat Mia karena Mia sudah tidak membutuhkan perawat lagi.


Mia mulai melakukan perannya sebagai istri Adrian. Sebelum azan subuh ia sudah sibuk memasak di dapur membuat sarapan untuk suaminya. Padahal Adrian sudah melarang Mia untuk masak karena sudah ada ada Odah yang bertugas untuk masak. Tugas Mia hanya melayani suaminya. Mia tetap ingin memasak makanan untuk suaminya. Ketika suaminya masih tidur Mia sudah berada di dapur untuk mulai memasak. Setelah Adrian bangun Mia kembali ke kamar untuk melayani suaminya. Ia menyuruh Odah untuk menyelesai kan masakanya.


Pada suatu hari Adrian memdapatkan undangan dari Pak Dandi. Undangan itu diantar oleh kurir Pak Dandi. Adrian membaca isi undangan itu. Undangan ulang tahun pernikahan Pak Dandi dan Ibu Gita yang diadakan di ballroom hotel.


Pucuk dicinta ulampun tiba, kata Adrian di dalam hati. Ini adalah kesempatan bagi Adrian untuk memperkenalkan Mia kepada Pak Dandi dan Ibu Gita. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Pak Dandi ketika melihat Mia,


Sesampai di rumah Adrian memberitahu perihal undangan dari Pak Dandi kepada Mia.


“Orang tua Daniel mengundang kita ke pesta ulang tahun pernikahan mereka,” kata Adrian.


“Kapan, Mas?” tanya Mia.


“Malam minggu besok,” jawab Adrian.


“Tapi Mia tidak punya baju untuk ke pesta,” kata Mia. Semenjak menjadi istri Adrian, Mia belum pernah berbelanja barang-barang yang tidak perlu seperti yang sering dilakukan oleh para istri yang memiliki suami yang kaya raya. Ia menggunakan uang hanya seperlunya saja karena ia sudah terbiasa hidup sedarhana. Mia tahu tidak mudah suaminya mendapatkan uang yang banyak. Suaminya harus bekerja keras agar bisa mempertahankan perusahaan dan harta peninggalan orang tuanya.


“Besok kita beli di butik. Kamu bisa memilih baju yang kamu suka,” kata Adrian.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Adrian mengantar Mia ke butik pakaian muslim yang cukup terkenal di kalangan orang-orang ekonomi atas. Mia melihat-lihat koleksi butik tersebut. Alangkah kagetmya Mia ketika melihat harga yang tercantum di baju-baju tersebut. Baju-baju di butik tersebut harganya di atas satu juta rupiah.


“Mas, di sini harganya mahal-mahal,” bisik Mia.


“Nggak apa-apa. Pilih saja yang kamu suka,” ujar Adrian.


Mia menghela nafas. Untuk apa ia membeli baju semahal ini? Tapi bagaimanapun juga ia harus memantaskan diri sebagai istri Adrian agar tidak membuat malu suaminya. Akhirnya Mia mencari baju-baju yang cocok untuknya. Adrian membiarkan Mia memilih baju, sedangkan ia duduk di ruang tunggu sambil menelepon Ryan.


Setelah lama melihat-lihat koleksi di butik itu Mia menemukan baju yang siluetnya sederhana namun elegan. Baju itu sesuai dengan kepribadiannya. Mia membawa baju itu ke hadapan suami. Suaminya seperti sedang sibuk berbicara dengan Ryan.


“Mas, ini cocok nggak untuk Mia?” tanya Mia. Adrian menoleh ke Mia.


“Bagus. Dicoba dulu saja!” kata Adrian.


Mia membawa baju itu ke fitting room untuk dicoba. Beberapa menit kemudian Mia keluar dari fitting room dan menghampiri Adrian. Adrian yang sedang sibuk menelepon langsung menoleh ke Mia. Ia memperhatikan istrinya dari atas ke bawah.


“Bagus! Kamu cantik memakai baju itu,” puji Adrian.


“Beli beberapa baju lagi, jaga cuma satu!” kata Adrian.


“Iya, Mas,” jawab Mia. Mia kembali ke fitting room untuk ganti baju. Ia memberikan baju yang tadi ia coba kemudian ia kembali mencari baju yang lain.


Setelah selesai berbelanja di butik, Adrian mengajak Mia menuju ke sebuah mall yang berada kawasan Kuningan. “Mau apa kita ke sini?” tanya Mia ketika Pak Ratno membelokkan mobil menuju ke sebuah Mall.


“Mau beli tas dan sepatu untuk kamu,” jawab Adrian.


Mobil berhenti di depan lobby mall. “Ayo kita turun!” ajak Adrian. Mia dan Adrian turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam mall. Mia takjub melihat mall tersebut yang terkesan mewah. Ia belum pernah datang ke mall tersebut.


Adrian mengajak Mia ke sebuah outlet tas yang berada di lantai dasar mall. Outlet itu menjual tas dengan merek tertentu. Dari luar outlet terlihat tas-tas mewah yang berjejer rapih.

__ADS_1


“Mas tidak tau merek tas yang disukai wanita masa kini. Mungkin di outlet ini ada tas yang kamu suka,” Adrian menunjuk ke nama outlet yang juga nama merek tas. Adrian mengajak Mia masuk ke dalam outlet tersebut. Mereka disabut ramah oleh karyawan outlet.


“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” sapa karyawan outlet.


“Istri saya mencari tas yang cocok untuk pergi ke pesta,” jawab Adrian.


“Mari Mbak saya bantu. Mbak sukanya model tas seperti apa?” tanya karyawan tersebut kepada Mia.


“Saya mau lihat-lihat dulu,” jawab Mia.


“Silahkan, Bu,” jawab karyawan itu


Mia melihat-lihat tas yang berada di outlet tersebut. Mia melihat tas yang ia suka. Ketika melihat harganya ia langsung kaget. Harga tas tersebut sama dengan harga motor bekas. Adrian melihat istrinya yang kaget melihat bandrol harga tas tersebut. Adrian menghampiri Mia.


“Kamu suka tasnya?” tanya Adrian.


“Iya. Tapi harganya mahal,” bisik Mia.


“Tidak apa-apa kalau kamu suka,” ujar Adrian.


“Di sebelah sana masih ada lagi, Mbak. Edisi yang terbaru.” Karyawan outlet itu menunjuk ke tas yang dipajang dekat pintu masuk. Mia menyukai model tas yang ditunjuk karyawan itu.


“Bagus yang mana, Mas?” tanya Mia bingung.


“Kamu sukanya yang mana?” tanya Adrian.


“Yang ini,” jawab Mia menunjuk ke tas yang ia pegang.


“Ya sudah beli yang itu,” kata Adrian.


Setelah membeli tas Adrian mengajak ke sebuah outlet sepatu. Lagi-lagi Mia terkejut ketika melihat harganya. Dan lag-lagi Mia mengeluh karena harga sepatu yang mahal.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Yang penting kamu suka dan enak dipakai.” Selalu saja itu yang dijawab Adrian.


__ADS_2