
Setelah acara saweran selesai mereka pun berganti baju untuk acara resepsi. Untuk acara resepsi mereka menggunakan baju pengantin adat sunda. Para penata rias dengan cepat membantu Adrian dan Mia berganti baju. Ketika sedang berganti baju Adrian sempat melirik ke arah Mia yang sedang berganti baju karena bagaimanapun juga sudah halal melihat Mia yang sedang berpakaian. Ia melihat kulit putih mulus istrinya. Ia pernah melihat kulit putih mulus Mia sewaktu Mia hampir diperkosa oleh Pak Sapto. Tapi waktu itu ia tidak terlalu memperhatikan kulit Mia karena ia panik melihat kondisi Mia.
Acara resepsi diadakan dengan megah dan mewah. Maklumlah karena tamu yang diundang sebagian besar adalah teman-teman Adrian dan rekan bisnis Adrian. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menghadiri pernikahan Adrian dan Mia.
Daniel memberikan selamat kepada Adrian dan Mia.
“Selamat ya, atas pernikahan kalian. Semoga sakinah mawadah warohmah,” ucap Daniel sambil menyalami Adrian dan Mia.
“Terima kasih Tuan Daniel,” ucap Mia.
“Jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya Daniel,” protes Daniel.
“Iya, Pak Daniel,” jawab Mia. Ia tidak enak kalau hanya memanggil Daniel saja. Bagaimanapun juga Daniel jauh lebih tua dari dirinya.
“Dri, ada salam dari bokap nyokap gue. Maaf mereka tidak bisa datang ke pernikahan lu karena sedang berada di New Zealand,” kata Daniel.
“Waalaikumsalam. Nggak apa-apa mereka tidak bisa hadir. Nanti kapan-kapan gue mampir ke rumah lu untuk mengenalkan Mia ke orang tua lu,” jawab Adrian.
“Gue pamit, ya. Gue mau kembali ke Jakarta,” ujar Daniel.
“Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh ke Sumedang,” ucap Mia.
“Mau ngapain buru-buru?” tanya Adrian.
“Gue di suruh nyokap ke pasar Sumedang,” jawab Daniel.
“Ngapai lu ke pasar Sumedang? Masa CEO belanja ke pasar?” tanya Adrian.
“Biasalah. Gue disuruh belanja makanan kesukaan bokap dan nyokap gue,” jawab Daniel.
“Kan bokap nyokap lu di New Zealand? Nanti makanannya keburu basi,” kata Adrian.
“Besok mereka pulang,” jawab Daniel.
“Ya sudah, gih sana belanja! Selamat belanja, ya,” ucap Adrian. Daniel pun pergi dari hadapan Mia dan Adrian.
***
Acara resepsi pernikahan selesai pukul tiga. Mereka pulang ke rumah Ibu Titin untuk mengambil pakaian Mia. Adrian membawa tas travel ke kamar Mia. Di dalam kamar Mia belum mengganti pakaiannya, ia sedang duduk di kursi sambil menghapus cat kuku. Adrian menaruh tasnya di atas tempat tidur. Kamar Mia terlihat berantakan tidak seperti kamar pengantin.
“Belum ganti baju?” tanya Adrian. Ia mengeluarkan baju dari dalam tas.
“Hapus cat kuku dulu. Nanti nggak bisa sholat,” jawab Mia tanpa menoleh ke Adrian.
Adrian membuka beskap dan kain. Ia hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek.
__ADS_1
“Akhhirnya selesai juga,” kata Mia sambil memperhatikan kukunya sekali lagi. Barangkali ada cat kuku yang belim di bersihkan.
“Mas, mau mandi dulu,” kata Adrian. Mia menoleh ke Adrian. Adrian hanya membawa peralatan mandi dan pakaian ganti tanpa membawa handuk.
“Mas bawa handuk, nggak?” tanya Mia.
“Oh, iya. Mas lupa bawa handuk,” jawab Adrian.
Mia beranjak menuju ke lemari pakaian. Ia mengambil handuk dari dalam lemari lalu diberikan kepada Adrian.
“Terima kasih, sayang,” ucap Adrian. Tiba-tiba Adrian langsug mengecup sekilas bibir Mia. Mia tertegun ketika dikecup Adrian. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ini pertama kalinya ia merasakan dikecup oleh seorang laki-laki.
“Kenapa? Mau lagi?” tanya Adrian menggoda Mia. Mia langsung menggeleng kepala.
“Kamu belum pernah dikecup laki-laki?” tanya Adrian. Mia menjawab dengan mengangguk.
“Sudah pernah dikecup laki-laki?” tanya Adrian dengan kaget. Mia langsung menggelengkan kepalanya. Adrian tersenyum melihat reaksi Mia.
“Nanti Mas ajari cara mengecup, ya. Sekarang Mas mau mandi dulu, badan Mas lengket,” kata Adrian. Adrian keluar kamar sambil membawa handuk dan pakaiannya.
Dua puluh menit kemudian Adrian sudah selesai mandi. Ia kembali ke kamar Mia. Ketika ia masuk ke dalam kamar Mia sudah mengganti bajunya dengan menggunakan dasters. Ia sedang membersihkan wajahnya.
“Sudah mandinya, Mas?” tanya Mia.
“Sudah,” jawab Adrian sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
“Sekalian wudhu! Nanti kita sholat ashar berjamaah,” kata Adrian.
“Iya, Mas.” Mia langsung keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian Mia sudah selesai mandi. Rambutnya basah setelah dikeramas. Ia masuk ke dalam kamarnya. Adrian sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca chat.
“Ayo Mas! Kita sholat,” kata Mia. Adrian menoleh ke Mia. Mia terlihar segar habis di keramas membuat Adrian ingin memeluk dan mengecup istrinya.
Sabar, Adrian. Jangan di sini! Tunggu sampai kembali ke hotel, kata Adrian di dalam hati. Mia menggelar sajadah lalu memakai mukenah. Mereka pun sholat berjamaah.
Setelah selesai sholat ashar mereka keluar dari kamar. Adrian duduk di ruang keluarga lalu menyalakan televisi. Ia mencari saluran berita.
“Mas mau minum apa?” tanya Mia.
“Air putih saja,” jawab Adrian.
Mia menuju ke dapur. Di dapur Ibu Titin dan dan Lina sedang memanaskan makanan.
“Kapan kamu kembali ke hotel?” tanya Ibu Titin.
__ADS_1
“Tidak tau, Mak. Terserah Mas Adrian saja,” jawab Mia.
“Ke hotelnya nanti malam saja kalau sudah makan malam. Ini banyak makanan sayang kalau di buang,” kata Ibu Titin. Makanan sisa sarapan masih banyak. Belum lagi sisa makanan di gedung.
“Suruh Pak Ratno dan Ryan makan malam di sini!” kata Ibu Titin.
“Iya, Mak,” jawab Mia.
“Bu Ecin sudah dikirimi makanan?” tanya Mia. Tetangga pertama yang harus dikirimi makanan adalah Ibu Ecin karena Mia sudah menganggap Ibu Ecin seperti Ibu sendiri.
“Belum. Tadi Emak sudah suruh Citra membawa rantang yang banyak,” jawab Ibu Titin.
Mia membawa segelas air putih beserta camilan untuk Adrian lalu menaruh di atas meja.
“Mia bantu Emak dulu ya, Mas,” kata Mia.
“Iya,” jawab Adrian. Mia kembali ke dapur.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum,” ucap Citra.
“Waalaikumsalam,” jawab Adrian. Adrian membuka pintu.
“Masuk, Cit!” kata Adrian.
Citra masuk ke dalam rumah Ibu Titin. Ia membawa dua set rantang.
“Bawa apa tuh, Cit?” tanya Adrian.
“Disuruh Emak bawa rantang yang banyak,” jawab Citra. Citra membawa rantang ke dapur.
“Mak, ini rantangnya.” Citra memberikan rantang kepada Ibu Titin.
“Terima kasih Citra. Citra duduk dulu! Emak mau isi rantangnya,” kata Ibu Titin.
“Iya, Mak,” jawab Citra. Citra berjalan menuju ke ruang keluarga. Ia duduk di sebelah Adrian sambil ikut menonton televisi. Adrian menoleh ke Citra. “Citra mau nonton film kartun?” tanya Adrian. Citra menjawab dengan gelengan kepala. Adrian kembali menonton berita.
Tak lama kemudian Mia datang membawa rantang yang tadi dibawa oleh Citra. Citra langsung bangun dari tempat duduk dan hendak mengambil rantang dari tangan Mia.
“Berat, Cit. Biar Teteh yang bawakan,” kata Mia. Adrian menoleh ke Mia.
“Berat sekali?” tanya Adrian.
“Tidak terlalu,” jawab Mia.
__ADS_1
“Sini! Mas yang bawa.” Adrian berdiri lalu mengambil rantang dari tangan Mia. Lalu ia keluar rumah dan berjalan menuju ke rumah Ibu Ecin. Citra mengikuti Adrian dari belakang