
Setelah selesai makan siang Daniel pamit untuk kembali lagi ke kantor dengan alasan ada rapat dengan management. Daniel mengantar Karima sampai ke kantor. Sedangkan Daniel kembali pulang ke rumah. Ia jadi tidak semangat untuk bekerja.
Ketika sampai di rumah Ibu Gita langsung menghampiri Daniel. Ia menanyakan segala macam kepada Daniel.
“Bagaimana kencannya?” tanya Ibu Gita.
“Biasa aja,” jawab Daniel.
“Biasa bagaimana?” tanya Ibu Gita
“Biasa saja tidak ada istimewanya,” jawab Daniel.
“Niken cantik, nggak?” tanya Ibu Gita.
“Cantik. Tapi bukan tipe Daniel,” jawab Daniel.
“Lalu tipe kamu seperti apa?” tanya Ibu Gita penasaran.
“Seperti Mia dan sepertiiiii.” Daniel berhenti sejenak.
“Karima,” lanjut Daniel.
“Karima siapa?” tanya Ibu Gita penasaran. Ia baru mendengar nama Karima.
“Ada, deh. Bunda kepo,” jawab Daniel.
Daniel beranjak dari tempat duduk menuju ke kamarnya. Pak Dandi keluar dari ruang kerja lalu ia menghampiri Ibu Gita.
“Pah. Karima siapa, sih? Kata Daniel, Karima adalah perempuan tipe dia,” tanya Ibu Gita.
“Mana Papa tau? Tanya saja ke Daniel,” jawab Pak Dandi.
***
Malam harinya setelah selesai sholat magrib Daniel sudah terlihat rapi. Ia pamit kepada kedua orang tuanya.
“Mau kemana?” tanya Ibu Gita.
__ADS_1
“Biasa, Bun. Nongkrong-nongkrong sama teman-teman,” jawab Daniel.
“Pulangnya jangan sampai larut malam!” pesan Pak Dandi.
“Baik, Pah,” jawab Daniel.
“Daniel berangkat dulu.” Daniel mencium tangan Pak Dandi dan tangan Ibu Gita.
“Hati-hati di jalan!” pesan Pak Dandi.
“Baik, Pah,” jawab Daniel.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Dandi dan Ibu Gita.
Daniel keluar dari rumahnya lalu masuk ke dalam mobilnya. Dan mobilpun meluncur meninggalkan rumah orang tua Daniel.
Daniel memarkirkan mobilnya di sebuah cafe tempat biasa ia dan teman-temannya nongkrong. Hari ini ia dan teman-temannya janjian untuk nongkrong di café. Biasanya Adrian juga ikut nongkrong namun semenjak kejadian yang menimpa Mia, Adrian tidak pernah lagi ikut berkumpul bersama dengan teman-temannya. Adrian lebih sering di rumah menemani Mia.
Itu kan Yarfin, kata Daniel di dalam hati.
Yarfin datang bersama dengan seorang wanita cantik yang berpakaian ketat dan bertumbuh bagaikan biola. Kalau dibandingkan dengan Karima wanita itu tidak ada apa-apanya. Karima lebih cantik dibalik dandanan yang sederhana.
Yah, menyianyiakan istri yang cantik hanya untuk wanita seperti itu, kata Daniel di dalam hati.
Rendi melihat Daniel memperhatikan Yarfin dan pacarnya.
“Heh! Elu ngelihatin siapa?” tanya Rendi.
“Tuh.” Daniel menunjuk ke Yarfin dengan mulutnya.
“Itu siapa?” tanya Rendi.
“Mantan suami sekretaris gue,” jawab Daniel.
“Maksud lu Eka?” tanya Rendi.
__ADS_1
“Bukan. Ada lagi. Gue punya sekretaris baru,” jawab Daniel.
“Wah, gaya lu macam bos-bos besar. Banyak sekretarisnya,” ledek Rendi.
“Mau bagaimana lagi? Gue Memang butuh sekretaris banyak,” jawab Daniel.
Daniel menoleh lagi kearah Yarfin. Teman wanita Yarfin sedang berbicara dengan Yarfin dengan gayanya yang centil. Sungguh jauh berbeda dengan Karima. Yang lembut dan keibuan.
Astafirullahaladzim! Kenapa jadi ngebayangin Karima terus, ujar Daniel di dalam hati.
Daniel melanjutkan pembicaraannya dengan teman-temannya untuk menghapus bayangan Karima.
***
Daniel keluar dari kamarnya. Ia sudah berpakaian rapih dengan menggunakan suitnya. Ia duduk di kursi makan bergabung dengan orang tuanya yang sedang sarapan.
Daniel mengambil nasi putih beserta dengan lauk pauknya.
“Daniel, kamu bisa tidak mewakilkan Papa ke Penang?” tanya Pak Dandi.
“Ada acara apa?” tanya Daniel.
“Teman Papa mengundang peresmian hotel baru di Penang Malaysia,” jawab Pal Dandi.
“Kok Papa tidak pergi? Biasanya urusan jalan-jalan ke luar negri Papa dan Bunda nomor satu,” tanya Daniel.
“Nggak ah, Papa cape. Papa mau istirahat,” jawab Pak Dandi.
“Ya sudah, nanti Daniel periksa dulu jadwal Daniel dulu,” kata Daniel.
“Pokoknya kamu harus bisa hadir ke acara itu! Masa Papa harus menyuruh Adrian yang mewakili Papa? Dia sibuk dengan perusahaannya. Belum lagi Fani masih terlalu kecil untuk dibawa-bawa keluar negeri,” ujar Pak Dandi.
“Iya. Nanti Daniel usahakan,” jawab Daniel.
Daniel bingung harus pergi dengan siapa? Asistennya yang bernama Dito sedang terkena penyakit covit nineteen sehingga harus isolasi mandiri. Sekretarisnya yang bernama Eka, ibunya sedang sakit. Ia pasti tidak tega meninggalkan ibunya sendirian. Satu-satunya yang bisa menemaninya adalah Karima.
__ADS_1