
Daniel keluar dari kamarnya. Hari ini ia tidak menggunakan pakaian kerja seperti biasa. Ia menggunakan kemeja lengan pendek dengan celana jeans. Ia turun melalui tangga menuju lantai dasar.
Daniel menghampiri kedua orang tuanya yang sedang sarapan pagi. Daniel duduk di kursi makan. Ia mengambil roti lalu mengoles mentega di atasnya. Pak Dandi dan Ibu Gita memandangi Daniel. Sudah beberapa hari ini putra sulung mereka terlihat ceria.
“Sudah ada jawaban dari Karima, belum?” tanya Ibu Gita.
“Sudah,” jawab Daniel. Pandangannya tertuju pada roti yang sedang ia olesi dengan mentega.
“Lalu apa jawabannya?” tanya Ibu Gita dengan penasaran.
Danie mengambil selai coklat lalu mengolesi roti dengan selai coklat. Pandangan Ibu Gita terus saja tertuju pada Daniel. Beberapa hari yang lalu suaminya bercerita kalau Daniel pergi makan siang berdua dengan Karima di restaurant di sebuah hotel.
“Jawabannya diterima,” jawab Daniel dengan tenang.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Gita.
Ibu Gita menoleh ke Pak Dandi.
“Pah, anak kita akan menikah. Cucu kita akan bertambah banyak,” kata Ibu Gita dengan senang.
“Iya. Tapi Bunda tidak boleh pilih kasih antara cucu kandung dan cucu sambung. Bunda harus berlaku adil dengan semua cucu-cucu kita! Kasihan mereka sudah tidak memiliki Papa lagi,” ujar Pak Dandi.
“Iya, Pa. Iya. Papa tidak usah khawatir,” jawab Ibu Gita.
“Kamu juga Daniel. Kalau kamu mau menerima ibu mereka, kamu juga harus mau menerima mereka!” ujar Pak Dandi.
“Tenang saja, Pa. Daniel sudah menganggap mereka seperti anak Daniel sendiri,” jawab Daniel dengan tenang.
“Dan menganggap ibu mereka seperti istri sendiri, begitu?” tanya Pak Dandi dengan menatap tajam ke Daniel.
Daniel menjawab dengan nyengir kuda. Pak Dandi mencibir.
“Dasar kamu! Awas kalau berani macem-macem!” seru Pak Dandi.
“Tenang saja, Pa. Daniel tahu batas, kok,” jawab Daniel.
Daniel memakan rotinya sampai habis. Lalu ia meminum susu sekaligus hingga habis. Ia mengelap mulutnya dengan tissue.
“Daniel berangkat dulu.” Daniel beranjak dari tempat duduknya.
Ia menghampiri kedua orang tuanya lalu mencium tangan orang tuanya.
“Mau kemana kamu? Cepat-cepat sekali berangkatnya. Ini kan masih pagi. Baru jam setengah tujuh,” tanya Pak Dandi.
“Mau ngecek proyek pembangunan resort di Ujung Genteng Sukabumi,” jawab Daniel.
__ADS_1
Pak Dandi kaget mendengarnya. Setahu Pak Dandi, mereka tidak sedang membangun resort dan juga tidak mempunyai proyek membangun resort di Ujung Genteng Sukabumi.
“Kamu dapat proyek darimana?” tanya Pak Dandi.
“Bukan proyek Daniel, Pa. Itu proyek bos kecil,” jawab Daniel.
“Siapa bos kecil?” tanya Pak Dandi penasaran.
“Calon cucu Papa. Hari, Gathan dan Rachel,” jawab Daniel.
“Maksud kamu apa?” tanya Pak Dandi yang tidak mengerti.
“Sudah siang. Daniel tidak punya waktu untuk menjelaskan,” jawab Daniel.
“Kapan Bunda dan Papa melamar Karima?” tanya Ibu Gita.
“Nanti, deh. Daniel bicarakan dulu dengan Karima,” jawab Daniel.
“Daniel berangkat dulu. Daniel harus jemput Karima,” kata Daniel.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Gita dan Pak Dandi. Daniel berjalan menuju garasi. Ia keluar rumah melalui garasi.
Pak Min menghentikan mobil di depan kantor. Ia membunyikan klakson. Tak lama kemudian Karima keluar dari dalam kantor dan berjalan menuju ke mobil Daniel. Karima membawa tas kain yang sangat besar. Seperti orang yang mau pergi piknik.
Karima membuka pintu lalu masuk ke dalam mobil. Pak Min langsung menjalankan mobil. Daniel menatap tas kain yang dibawa oleh Karima.
“Kamu bawa apa? Banyak sekali bawaanmu?” tanya Daniel.
“Bawa bekal untuk di jalan,” jawab Karima.
“Mas sudah sarapan?” tanya Karima.
“Sudah, tapi cuma makan setangkap roti,” jawab Daniel.
“Karima bawakan sarapan untuk Mas Daniel,” kata Karima.
“Simpan dulu. Nanti kalau sudah lapar baru Mas makan,” ujar Daniel.
Karima mengeluarkan tas kain kecil dari dalam tas kain besar. Lalu ia menaruh tas itu di kursi depan.
“Pak Min, saya bawakan sarapan untuk Pak Min,” kata Karima.
Pak Min menoleh ke samping.
__ADS_1
“Terima kasih, Bu,” ucap Pak Min.
Perjalanan menuju ke Sukabumi cukup padat karena mereka menggunakan jalur lingkar luar lalu di sambung ke tol Jagorawi. Tol lingkar luar sangat padat karena banyak orang yang hendak berangkat ke kantor menggunakan tol tersebut.
Ketika mereka memasuki tol jagorawi kepadatan mulai terurai. Jalan tol Jagorawi tidak terlalu ramai karena bukan hari libur.
Di perjalanan Daniel merasa lapar. Daniel menoleh ke Karima yang sedang memperhatikan pemandangan di luar. “Rim.” Daniel memanggil Karima.
Karima menoleh ke Daniel. “Perut Mas lapar,” ujar Daniel.
“Mau makan?” tanya Karima. Daniel mengangguk.
Karima mengambil tas kain yang berada di dekat kakinya lalu ia mengeluarkan kotak makan beserta sendok garpu. Ia berikan kotak makan itu kepada Daniel. Daniel membuka kotak makan. Di dalamnya terdapat nasi, tumis brokoli wortel dan jagung serta ayam filet yang digoreng dengan menggunakan tepung.
Daniel memandangi makanan itu. Karima melihat Daniel tidak memakan makan makanan tersebut.
“Kenapa? Mas nggak suka, ya?” tanya Karima.
“Suka. Mas suka. Apalagi masakan kamu,” jawab Daniel.
“Tapi ini mirip seperti.” Daniel tidak melanjutkan kata-katanya.
“Bekal anak-anak?” tanya Karima.
Daniel nyengir kuda. “Iya,” jawab Daniel.
“Maaf, Mas. Karima masak sekalian sama buat bekal anak-anak. Jadi menunya disamakan dengan menu anak-anak,” kata Karima.
“Nggak apa-apa.” Daniel memakan makanannya. Ia menikmati rasanya.
“Hmm, enak,” ujar Daniel.
“Alhamdullilah,” ucap Karima. Daniel memakan makanannya sampai habis.
Pukul sebelas siang mereka sampai di Ujung Genteng Sukabumi. Mobil Daniel memasuki resort yang sedang dibangun. Pak Min memarkirkan mobil di tempat parkir. Daniel dan Karima turun dari mobil. Kedatangan mereka di sambut oleh mandor proyek, bernama Pak Said.
Pak Said mengajak Daniel dan Karima berkeliling mengeliling resort. Resort itu sudah sembilan puluh persen hampir selesai. Daniel mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pak Said sambil memeriksa ke adaan resort.
Setelah sejam mengelilingi resort. Mereka pun pamit pulang. Karena mereka masih harus ke tempat proyek lainnya. Dari Ujung Genteng mereka menuju ke Lido Bogor untuk mengunjungi proyek pembangunan hotel.
Namun sebelum mereka menuju Lido. Mereka mampir dulu ke rumah makan yang berada di Sukabumi untuk makan siang dan sholat dzuhur. Mereka berhenti di rumah makan sunda yang cukup besar di kota Sukabumi.
Daniel dan Karima turun dari mobil. Mereka masuk ke rumah makan itu. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan. Seorang karyawan rumah makan menghampiri mereka dan memberikan daftar menu kepada mereka. Karima dan Daniel memesan makan yang mereka inginkan. Karyawan restaurant mencatat pesanan mereka. Setelah itu karyawan itu pergi meninggalkan mereka.
“Rim.” Daniel memanggil Karima.
__ADS_1