
Adrian membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam kamar. Mia sedang tidur menghadap ke jendela. Pelan-pelan Adrian berjalan mendekati tempat tidur lalu ia naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah Mia. Ia memandangi wajah istrinya yang sedang tidur. Ia mengusap-usap rambut Mia lalu mengecup kening Mia. Tiba-tiba Mia terbangun lalu menoleh ke arah Adrian.
“Mas sudah pulang?” tanya Mia dengan suara ciri khas orang bangun tidur.
“Sudah,” jawab Adrian.
“Kata Asih kamu sakit kepala dan mual. Sekarang masih kerasa, nggak?” tanya Adrian sambil membelai rambut Mia.
“Sudah nggak terlalu kerasa. Hanya kerasa sedikit saja,” jawab Mia.
“Nanti sore kita ke dokter, ya! Takut kamu kenapa-napa,” kata Adrian.
“Sekarang jam berapa, Mas?” tanya Mia.
Adrian menoleh ke arah jam yang menempel di dinding kamar. “Jam setengah tiga,” jawab Adrian.
Mia bangun dari tempat tidur lalu ia turun dari tempat tidur. “Kamu mau kemana?” tanya Adrian.
“Mau ke kamar mandi. Mia mau pipis,” jawab Mia.
“Nanti kalau sudah dari kamar mandi ganti baju yang sopan! Di luar ada tamu,” kata Adrian.
“Siapa, Mas?” tanya Mia.
“Om Dandi dan Daniel. Mereka mau ketemu sama kamu,” jawab Adrian.
“Ada urusan apa mereka mau ketemu Mia?” tanya Mia. Ia bingung mengapa orang kaya seperti Pak Dandi ingin bertemu dengannya? Padahal ia hanya orang kampung yang tidak pernah memiliki kenalan orang-orang kaya kecuali dengan Adrian dan Daniel.
“Nanti juga kamu tau,” jawab Adrian.
“Mas tunggu di luar, ya! Nggak enak meninggalkan tamu lama-lama,” kata Adrian.
“Iya, Mas,” jawab Mia. Mia berjalan menuju ke kamar mandi lalu Adrian keluar dari kamar untuk menemui Pak Dandi dan Daniel.
Adrian berjalan menuju ke ruang tamu lalu duduk bersama dengan Pak Dandi dan Daniel.
“Apa Mia sedang sakit?” tanya Pak Dandi cemas.
__ADS_1
“Sudah agak mendingan. Nanti juga dia keluar, sekarang sedang ke kamar mandi,” jawab Adrian.
Tak lama kemudian Mia keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.
“Tuh dia, yang ditunggu sudah datang,” kata Adrian. Pak Dandi dan Daniel langsung berdiri. Mia menghampiri Pak Dandi dan menyalami Pak Dandi tanpa tangannya harus bersentuhan dengan Pak Dandi. Ia juga menyalami Daniel.
“Maaf, Om jadi mengganggu istirahat Mia,” ucap Pak Dandi.
“Tidak apa-apa, Om. Mia hanya tidur-tiduran saja,” jawab Mia. Kemudian Mia duduk di sebelah Adrian. Tiba-tiba Asih datang membawa sepiring kue yang dibungkus dengan daun pisang. Mia mengambil piring kue tersebut lalu ia menaruh di atas meja.
“Silahkan dimakan kuenya! Tapi maaf ini hanya kue kampung.” Mia mempersilahkan Pak Dandi dan Daniel untuk menyicipi kue buatannya.
“Om jadi ngerepotin,” kata Pak Dandi.
“Nggak kok, Om. Kebetulan tadi Mia bikin kue nagasari,” jawab Mia.
Daniel mengambil kue tersebut lalu memakannya. “Hm, enak. Cobain deh, Pah!” kata Daniel sambil mengunyah kue.
“Kamu ini makan terus,” ujar Pak Dandi.
“Namanya juga disajikan kue. Ya Daniel makan,” jawab Daniel dengan tenang.
“Iya. Kebetulan Mia lagi pengen kue nagasari,” jawab Mia.
“Kedatangan Om ke sini ada perlu dengan kamu,” ujar Om Dandi dengan serius.
“Ada perlu apa ya, Om?” tanya Mia.
Pak Dandi menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
“Ini tentang papah kamu,” jawab Pak Dandi.
“Papah? Ada apa dengan papah saya?” tanya Mia tidak mengerti.
“Om adalah papah kamu,” jawab Pak Dandi.
Mia kaget mendengarnya. Mia menoleh ke Adrian seolah ia bertanya. Adrian mengangguk. Mia bertambah bingung.
__ADS_1
“Nggak mungkin, Om. Papah saya sudah lama meninggal sebelum saya lahir,” kata Mia. Ia bingung kenapa Pak Dandi tiba-tiba mengaku papahnya.
“Om adalah papah kamu. Nama Om Dandi Utomo. Nama kamu Mia Fahira. Om yang memberikan nama itu. Mamah kamu bernama Erin Widyawati. Nama nenek kamu Titin Sumarni,” ujar Pak Dandi. Mia kaget mendengarnya. Darimana Pak Dandi bisa tahu semua nama keluarganya.
Mia menoleh ke Adrian. “Mas yang memberitahu kepada Om Dandi, ya?” tanya Mia.
“Mas tidak memberitahu apa-apa. Om Dandi tahu semua karena beliau adalah papah kamu,” jawab Adrian.
“Bohong! Papah kan sudah meninggal. Mas sendiri yang menemukan makam papah,” kata Mia yang tidak terima perkataan Pak Dandi dan Adrian.
Adrian menghela nafas. “Itu makam fiktif, Mia. Papah kamu yang membuat makam itu untuk meyakinkan emak, mamah dan kamu bahwa beliau sudah meninggal. Mas tau dari para pembersih makam kalau di dalam makam itu hanyalah makam bohongan,” ujar Adrian.
“Lalu kenapa Mas Adrian membawa Mia ke sana dan mengatakan itu makam papah padahal itu hanya makam bohongan?” tanya Mia yang hampir menangis.
“Karena Mas tidak tega memberitahu kamu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu masih dalam tahap penyembuhan trauma kamu. Tapi kamu dihadapi kenyataan kalau sebenarnya papah kamu masih hidup. Hanya saja beliau sudah memutuskan tali silahturahmi dengan mamahmu dan kamu,” jawab Adrian.
Mia menangis tersedu-sedu. “Mas tega membohongi Mia,” kata Mia sambil menangis.
“Mas terpaksa melakukan itu, agar kamu tidak menghadapi kenyataan pahit,” jawab Adrian.
Adrian menggeser duduknya lalu merangkul punggung istrinya. Kemudian ia membelai kepala istrinya.
“Maafkan, Mas. Mas tidak bermaksud membohongi kamu. Mas tidak tega kalau sampai kamu mengetahui kenyataannya yang sebenarnya,” ujar Adrian dengan lembut.
“Nggak apa-apa, Mas. Dari kecil Mia sudah biasa hidup susah. Bahkan papah sendiri pun tidak mau mengakui Mia sebagai anaknya karena Mia orang susah,” jawab Mia.
Mia mengangkat kepalanya dan memandang wajah Pak Dandi dengan tajam. “Kenapa baru sekarang Om datang ke sini dan mengakui Mia sebagai anak, Om? Apa karena Mia sudah menjadi istri Mas Adrian sehingga Om mengakui Mia sebagai anak? Kalau saja Mia masih bekerja sebagai pemetik daun teh atau masih menjadi pembantu Mas Adrian, Om pasti tidak mau mengakui Mia sebagai anak Om,” kata Mia dengan kesal.
“Bukan begitu Mia. Om punya alasan mengapa Om terpaksa melakukan ini,” ujar Pak Dandi.
“Sudahlah, Om. Saya tidak mau dengar apapun!” kata Mia. Tiba-tiba kepala Mia terasa sakit sekali.
“Mas, antar Mia ke kamar,” kata Mia. Adrian mendekap Mia dan membawa ke kamar. Tubuh istrinya sangat ringkih. Tiba-tiba Mia pingsan di dekapan Adrian. Beruntung Mia tidak sampai jatuh karena Adrian mendekapnya. Sehingga Adrian bisa menahan tubuh Mia.
“Ya Allah. Mia!” seru Adrian yang kaget karena Mia tiba-tiba pingsan.
Adrian menoleh ke Daniel. “Niel, bantuin gue! Mia pingsan,” seru Adrian.
__ADS_1
Daniel dan Pak Dandi langsung berdiri dan mendekati Adrian. Mereka bertiga mengangkat tubuh Mia dan membawa ke kamar. Mia di baringkan di atas tempat tidur. Adrian menaikkan kaki Mia ke atas dan mengganjal dengan guling dan bantal. Lalu ia mengambil minyak kayu putih dan dioleskan ke hidung Mia.