Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
42. Kedatangan Pak Dandi


__ADS_3

Tiba-tiba pintu dibuka, seorang office boy masuk ke dalam ruang kerja Adrian. Office boy mengantarkan minuman yang dipesan oleh Adrian. Ia menaruh dua buah cangkir yang berisi teh di atas meja. Setelah itu office boy itu pergi dari ruang kerja Adrian.


“Diminum tehnya, Om,” kata Adrian.


“Terima kasih.” Pak Dandi meminum teh tersebut. Ia kaget rasa tehnya tidak seperti biasa, rasanya enak sekali.


“Teh ini rasanya beda dari yang lain. Rasanya enak dan harum,” puji Pak Dandi.


“Itu teh dari perkebunan teh milik sendiri, Om,” kata Adrian. Mendengar perkataan Adrian, Pak Dandi mengerutkan keningnya.


“Kamu punya perkebunan teh? Sejak kapan? Setau Om orang tua kamu tidak memiliki perkebunan teh,” tanya Pak Dandi.


“Adrian baru beli sebulan yang lalu. Letak perkebunan itu di dekat rumah neneknya Mia di Sumedang,” jawab Adrian.


Wajah Pak Dandi langsung berubah menjadi sendu ketika mendengar nama Mia. Adrian melihat perubahan wajah Pak Dandi.


“Om, Om kenapa?” tanya Adrian. Pak Dandi langsung tersadar.


“Om tidak apa-apa,” jawab Pak Dandi.


“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kita sudah lama tidak makan bersama. Di atas ada restaurant Jepang. Kita makan di sana,” ujar Pak Dandi.


“Kita makan di sini saja, Om. Sebentar lagi Mia datang membawa makan siang. Om harus coba masakan Mia!” kata Adrian. Mendengar nama Mia wajah Pak Dandi kembali sendu.


“Om jadi merepotkan istrimu,” kata Pak Dandi.


“Tidak apa-apa, Om. Daniel sering makan siang di sini,” jawab Adrian.


Pak Dandi kembali meminum teh. “Kamu bertemu dengan istrimu dimana?” tanya Pak Dandi yang penuh rasa ingin tau.


“Dia juru masak di rumah Adrian,” jawab Adrian.


“Adrian menikahi Mia karena hampir terjadi kemalangan padanya,” kata Adrian. Pak Dandi langsung kaget mendengarnya.


“Kemalangan apa?” tanya Pak Dandi dengan penuh rasa ingin tahu.


“Dia hampir diperkosa oleh panjaga rumah Adrian,” jawab Adrian.


“Astagfirullahaladzim!” ucap Pak Dandi.


“Bagaimana kejadiannya?” tanya Pak Dandi yang ingin tahu apa yang terjadi kepada Mia.


Adrian menceritakan semua yang terjadi pada Mia.


“Brengsek! Dasar baji-ngan!” seru Pak Dandi setelah mendengar cerita Adrian. Wajah memerah seperti marah. Adrian hanya diam melihat ekspresi wajah Pak Dandi.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan baji-ngan itu?” tanya Pak Dandi.


“Sudah Adrian masukkan ke dalam penjara,” jawab Adrian.


“Jadi kamu menikahi Mia karena kasihan kepada Mia?” tanya Pak Dandi dengan penuh selidik.


“Bukan hanya rasa kasihan. Adrian merasa peristiwa itu terjadi karena kesalahan Adrian. Adrian merasa bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Adrian ingin melindungi Mia dan juga ingin meringankan beban Mia. Mia juga sudah mengingatkan Adrian untuk sholat. Semenjak Papah dan Mamah meninggal belum ada yang pernah mengingatkan Adrian untuk sholat hanya Mia yang mengingatkan Adrian. Dari situlah timbul rasa sayang dan rasa cinta Adrian kepada Mia,” jawab Adrian dengan wajah bahagia menceritakan awal mula ia jatuh cinta kepada Mia.


“Bagaimana reaksi orang tua Mia ketika tahu anaknya hendak diperkosa?” tanya Pak Dandi. Ia ingin tahu siapa Mia sebenarnya.


“Mia sudah tidak punya orang tua. Mamahnya meninggal ketika melahirkan Mia. Papahnya meninggal sebelum Mia lahir. Mia dibesarkan oleh neneknya. Sebelum ia bekerja di rumah Adrian, ia menjadi pemetik daun teh di perkebunan teh. Tapi ia beruntung memiliki tetangga yang baik seperti Ibu Ecin. Ibu Ecin sering sekali membantu Mia dan neneknya sehingga mereka bean mereka terasa ringan,” kata Adrian. Pak Dandi hanya diam mendengarkan cerita Adrian.


“Tapi ada yang aneh dengan papahnya Mia,” lanjut Adrian.


“Apa itu?” tanya Pak Dandi.


“Papahnya seperti sengaja memutuskan tali silahturahmi dengan Mia,” jawab Adrian. Ia sedang menyindir Pak Dandi. Wajah Pak Dandi langsung berubah. Ia seperti maling yang tertangkap basah.


“Mengapa kamu beranggapan begitu?” tanya Pak Dandi.


Adrian hendak menjawab tapi tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka. Mia menampakkan dirinya di depan pintu.


“Assalamualaikum,” ucap Mia.


Mia masuk ke dalam ruang kerja Adrian. Ia menyimpan tas kain yang berisi rantang di atas meja.


“Kamu masih ingat dengan Om Dandi, kan?” tanya Adrian ke Mia.


“Masih ingat dong, ya,” kata Pak Dandi dengan sumeringah.


Mia menghampiri Pak Dandi dan bersalaman dengan Pak Dandi tanpa saling bersentuhan tangannya.


“Makan sekarang, Mas?” tanya Mia. Ia takut mengganggu pekerjaan suaminya.


“Iya,” jawab Adrian. Mia mulai menyajikan makanan. Pak Dandi memperhatikan Mia terus. Adrian memperhatikan cara Pak Dandi memandang Mia. ada kerinduan terpancar di mata Pak Dandi.


Akhirnya makanan sudah siap disajikan. “Mas, makanannya sudah siap,” kata Mia.


“Ayo Om kita makan.” Adrian mempersilahkan Pak Dandi untuk mengambil makanan. Mia menuangkan nasi ke piring Pak Dandi.


“Ini cukup nggak, Om?” tanya Mia menunjukkan nasi yang ada di piring Pak Dandi.


“Cukup,” jawab Pak Dandi. Lalu Mia mengambilkan nasi untuk Adrian. Setelah itu Adrian dan Pak Dandi makan namun Mia tidak ikut makan bersama mereka. Ia malah asyik memakan rujak.


“Kamu nggak makan, sayang?” tanya Adrian sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


“Nggak, Mas. Masih kenyang habis menyicipi makanan,” jawab Mia sambil mencocol mangga ke bumbu rujak. Ia memakan mangga muda dan bumbu rujak tanpa merasakan asam dan kepedesan.” Pak Dandi makan sambil memperhatikan Mia.


“Jangan makan rujak, dong! Nanti perut kamu sakit. Kamu kan belum makan siang,” ujar Adrian.


“Tapi pagi sudah sarapan jadi tidak akan sakit,” jawab Mia sambil memakan rujaknya. Adrian menghela nafas dan membiarkan istrinya makan rujak.


Selesai makan Pak Dandi pamit kembali ke kantor. “Om pamit, ya. Terima kasih masakannya. Rasanya lezat sekali,” ucap Pak Dandi.


“Sering-seing mampir ke sini, Om! Nanti Mia buatkan makanan yang lezat-lezat,” kata Adrian.


“Insyaallah,” jawab Pak Dandi.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi sebelum meninggalkan ruang kerja Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Mia dan Adrian.


Pak Dandi keluar dari ruang kerja Adrian. Ia mengantar Pak Dandi sampai ke pintu kantornya.


***


Adrian sedang memeriksa dokumen. Tiba-tiba ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertulis nama Pak Dandi.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Dandi.


“Bisa kita ketemu sebentar? Ada yang hendak Om bicarakan dengan kamu. Kita bicara di luar karena pembicaraan ini sangat privat, Tidak ada hubungannya dengan kantor” kata Pak Dandi.


“Bisa, Om,” jawab Adrian.


“Kita bertemu di restaurant Jepang di gedung Nusantara,” ujar Pak Dandi.


“Baik, Om. Adrian akan segera ke sana,” jawab Adrian. Lalu Pak Dandi mengakhiri pembicaraannya.


Ada apa, ya? tanya Adrian di dalam hati. Adrian menggunakan suitnya lalu ia keluar dari ruangannya.


Setelah sampai di gedung Nusantara, Adrian langsung menuju ke restaurant Jepang yang ada di gedung tersebut. Seorang karyawan restaurant menyambut kedatangannya.


“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” sapa karyawan tersebut.


“Saya ada janji dengan Pak Dandi,” jawab Adrian.


Karyawan itu mencari nama pengunjung yang sudah memesan tempat di buku tamu.


“Mari, Pak. Saya antar,” kata karyawan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2