Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
90. Yarfin Pergi Untuk Selamanya.


__ADS_3

Karima sedang mencatat jadwal Daniel. Tiba-tiba ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertulis Kak Mirna calling. Mirna adalah kakak kandung Yarfin.


Ada apa Kak Miirna meneleponku? tanya Mita di dalam hati.


Karima menjawab telepon Mirna.


“Assalamualaikum, Kak,” ucap Karima.


“Waalaikumsalam, Karima. Ini Bang Dahlan.” Ternyata yang memelepon bukan Mirna tapi Dahlan suami Mirna. Ia menelepon Karima dengan menggunakan telepon Mirna.


“Ada apa, Bang?” tanya Karima.


“Abang mau memberitahu kalau Yarfin meninggal dunia,” jawab Dahlan.


Karima kaget mendengarnya.


“Innalilahi wa innaillaihi ra’jiun,” ucap Karima.


“Kapan Bang Yarfin meninggal?” tanya Karima.


“Entahlah, Rim. Kami semua belum tahu. Kami hanya dapat kabar kalau Yarfin ditemukan oleh warga di dalam mobil dalam keadaan tewas dengan luka tusukan di perut,” jawab Dahlan.


Karima kaget mendengar perkataan Dahlan. Tidak terbayangkan oleh Karima kalau Yarfin meninggal karena dibunuh orang.


“Sekarang jenasahnya dimana?” tanya Karima.


“Jenasah masih di rumah sakit sedang diotopsi oleh dokter,” jawab Dahlan.


“Kata Kak Mirna, Karima tidak usah ke rumah sakit. Karima dan anak-anak tunggu saja di rumah mama karena jenasahnya akan disemayamkan di rumah mama bukan rumah Yarfin,” lanjut Dahlan.


“Baiklah, Bang. Karima akan ke rumah mama sekarang,” jawab Karima,


“Abang hanya mau memberitahu itu saja. Assalamualaikum,” ucap Dahlan.


“Waalaikumsalam,” jawab Karima.


Karima mengakhiri pembicaraannya. Ia merasa sedih mendengar berita tentang meninggalnya Yarfin. Walau bagaimanapun juga Yarfin adalah orang yang pernah ia cintai dan papanya anak-anak.


Karima menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ia melihat jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia hendak ijin ke Daniel namun Daniel belum datang.


Apa ditelepon saja, ya? tanya Karima di dalam hati.


Karima mengambil ponselnya lalu menelepon Daniel.


“Assalamualaikum,” ucap Karima.


“Waalaikumsalam,” jawab Daniel.


“Ada apa, Karima?” tanya Daniel.


“Saya ijin tidak masuk hari ini. Mantan suami saya meninggal dunia. Saya harus mengantar anak-anak saya ke rumah nenek mereka,” jawab Karima.


“Innalilahi wa innaillaihi ra’jiun,” ucap Daniel.

__ADS_1


“Kamu tunggu di kantor sampai saya datang! Saya sedang dalam perjalanan. Nanti saya antar ke rumah orang tua Yarfin,” ujar Daniel.


“Tidak usah, Pak! Saya tidak mau merepotkan Bapak,” kata Karima.


“Pokoknya kamu tunggu di situ sampai saya datang!” ujar Daniel.


Karima menghela napas. Daniel memang keras kepala, tidak boleh dibantah.


“Baiklah, Pak,” jawab Karima.


“Bagus. Sudah dulu. Assalamualaikum,” ucap Daniel.


“Waalaikumsalam,” jawab Karima. Daniel mengakhiri pembicaraannya.


Karima membereskan meja kerjanya dan mematikan komputer. Ia bersiap-siap jika Daniel datang mereka bisa langsung berangkat.


Tiga puluh menit kemudian Daniel sampai di kantor. Ia menunggu Karima di lobby kantor. Karima membawa tasnya dan langsung turun ke lantai dasar.


Ketika Karima sampai di lantai dasar, Daniel sedang berbicara dengan salah seorang pegawai. Karima menghampiri Daniel. Melihat Karima sudah turun Daniel mengakhiri percakapannya dengan pegawainya.


“Kita pergi sekarang?” tanya Daniel.


“Iya, Pak,” jawab Karima.


Daniel dan Karima berjalan menuju ke mobil Daniel. Daniel membukakan pintu untuk Karima, setelah Karima masuk ke dalam mobil barulah ia masuk ke dalam mobil.


“Jalan, Pak!” ujar Daniel kepada Pak Min. Mobilpun melaju meninggalkan halaman kantor Daniel.


“Jemput Hari di sekolahnya,” jawab Karima.


Daniel memandang wajah Karima, wajah Karima terlihat habis menangis. Ada rasa cemburu di hati Daniel melihat wanitanya menangisi pria lain.


Sabar Daniel! bagaimanapun juga mereka pernah saling mencintai. Wajar kalau Karima menangisi Yarfin, kata Daniel di dalam hati.


Akhirnya mereka sampai di sekolah Hari. Karima turun dari mobil. Daniel juga turun dari mobil, ia hendak menemani Karima.


Karima masuk ke ruang guru. Ia mengatakan kepada guru piket tujuannya datang ke sekolah. Guru piket menyuruh Karima  dan Daniel untuk duduk, sedangkan guru piket pergi menuju kelas Hari.


Beberapa menit kemudian guru piket datang bersama dengan Hari. Terlihat wajah Hari yang berseri-seri karena dijemput olah mamanya dan Daniel. Sepertinya guru piket belum memberitahu kepada Hari mengapa mamanya datang menjemput.


Kemudian Karima pamit kepada guru piket.


“Kami pamit dulu, Bu. Assalamualaikum,” ucap Karima.


“Waalaikumsalam,” jawab guru piket.


Merekapun meninggalkan ruang guru menuju ke tempat parkir mobil.


“Mah, kita mau kemana?” tanya Hari ketika mereka sedang berjalan menuju ke mobil.


Karima mengusap rambut Hari.


“Nanti Mama beritahu kalau sudah sampai di mobil,” jawab Karima.

__ADS_1


Mereka sampai di tempat pakrkir. Daniel membukakan pintu untuk Karima . Hari dan Karima masuk ke dalam mobil. Lalu Daniel juga masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah Hari. Pak Min menjalankan mobilnya.


“Abang, dengarkan Mama mau bicara,” ujar Karima.


Hari menoleh ke Karima. Karima menarik napas agar ia bisa mengatakan apa yang terjadi dengan dengan tenang.


“Papa sudah tidak ada lagi. Papa sudah meninggal dunia,” kata Karima dengan sedih.


Hari pun menangis setelah mendengar apa yang di katakan oleh Karima.


“Papaaaaa.”


Karima memeluk putra sulungnya. Ia pun ikut menangis. Daniel melihat ibu dan anak itu yang menangis sambil berpelukan.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Karima. Mereka keluar dari mobil. Dengan langkah gontai Hari berjalan menuju ke rumahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Daniel.


“Mama pulang.” Terdengar suara teriakan Rachel dan Gathan dari dalam rumah. Kemudian mereka berlari keluar rumah.


“Mama kok cudah pulang?” tanya Rachel.


“Mpok Minah! Bukain gembok pintu! Mama pulang,” teriak Gathan.


“Jawab salamnya mana?” tanya Daniel.


“Walaikucalam,” jawab Rachel.


Rachel dan Gathan melihat Hari yang habis menangis.


“Abang kenapa menangis?” tanya Gathan.


Mpok Minah keluar dari dalam rumah sambil membawa kunci pintu. Lalu ia membuka gembok pintu pagar. Hari masuk ke dalam rumah kemudian meluk kedua adiknya.


“Abang kenapa?” tanya Gathan tidak mengerti mengapa tiba-tiba Hari memeluk mereka.


“Papa meninggal, Kita sudah tidak punya Papa lagi,” ujar Hari.


Namun, Gathan dan Rachel belum mengerti.


“Meninggal itu apa, Bang?” tanya Rachel.


Rachel dan Gathan  malah tidak mengerti Hari katakan.


“Sudah. Bicaranya di dalam saja,” ujar Karima.


Mereka masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Hari mencoba menerangkan apa yang dimaksud dengan meninggal, tapi Rachel dan Gathan masih belum mengerti. Mereka masih terlalu polos. Daniel ketawa melihat tingkah Rachel dan Gathan.


Akhirnya terpaksa Hari mengumpamakan seperti binatang. Bahwa papa mereka sudah mati tidak akan pernah datang lagi. Barulah Rachel dan Gathan mengerti. Mereka pun menangis.


Karima keluar dari kamar. Ia membawa koper yang berisi baju miliknya dan baju milik anak-anak. Malam ini mereka akan menginap di rumah orang tua Yarfin.


“Mama. Papa cudah mati, ya?’ tanya Rachel.

__ADS_1


__ADS_2