Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
53. Pemberian Emak


__ADS_3

Sore harinya Mia dan Adrian berkumpul bersama dengan Ibu Ecin dan keluarganya di ruang keluarga. Ibu Ecin menceritakan apa yang dilakukannya bersama Ibu Titin ketika umroh. Ibu Ecin memperlihatkan foto-foto bersama Ibu Titin. Mia menangis melihat foto-foto tersebut.


“Sebelum tidur Emak sempat menitipkan ini kepada Ibu.” Ibu Ecin memberikan bungkusan plastik kepada Mia.


“Apa ini, Bu?” tanya Mia.


“Bukalah!” ujar Ibu Ecin.


Di dalam plastik itu terdapat dua buah kotak kecil beserta dua buah kertas yang dilipat. Mia membuka salah satu kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah gelang emas.


“Ini.” Mia tidak bisa melanjutkan perkataannya.


“Emak belikan gelang itu untuk kamu. Coba kamu buka kotak yang satu lagi!” ujar Ibu Ecin.


Mia membuka kotak yang satunya lagi. Di dalamnya terdapat sebuah gelang kecil dan anting untuk bayi. Air mata Mia berlinang melihat gelang tersebut.


“Kata Emak, siapa tahu saja bayi Mia perempuan. Kalau ia lahir bisa langsung dipakaikan anting dan gelang emas,” ujar Ibu Ecin.


“Emak menitipkan itu semua kepada Ibu sebelum emak tidur. Dengan alasan takut hilang, emak suka lupa menyimpannya,” lanjut Ibu Ecin.


Ibu Titin bisa membeli gelang emas karena Adrian memberikan uang pegangan untuk Ibu Titin dan Ibu Ecin dalam jumlah yang banyak. Agar Ibu Titin dan Ibu Ecin bisa berbelanja sepuasnya selama di Mekah.


Mia memandangi emas pemberian Emak sambil menangis.

__ADS_1


***


Tak terasa kandungan Mia sudah berusia sembilan bulan. Beberapa hari lagi Mia akan melahirkan. Adrian tidak pergi ke kantor, ia ingin di rumah menemani istrinya. Mia sudah mempersiapkan apa saja yang harus disiapkan.


Hari ini hari perkiraan lahir namun Mia belum merasakan mules sama sekali. Menjelang sore Mia belum merasakan mules tapi merasakan sakit pada kakinya. Mia merasakan sakit yang amat sangat sampai ia tidak bisa berjalan.


“Mas, kaki Mia sakit sekali,” keluh Mia.


“Sabar sayang. Mungkin anak kita hendak keluar,” ujar Adrian sambil mengusap kepala Mia.


“Kita ke rumah sakit sekarang saja. Sakit sekali, Mas,” kata Mia sambil merintih kesakitan.


“Sebentar. Mas masukin koper ke mobil.” Adrian mengambil koper yang ada di walking closet. Tiba-tiba ponsel Adrian berdering. Tertulis di ponselnya Bunda Gita calling. Adrian menjawab telepon Ibu Gita.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Gita.


“Dri, bagaimana dengan keadaan Mia? Apa sudah ada tanda-tanda akan melahirkan?” tanya Ibu Gita.


“Mia belum merasakan mules, hanya saja kakinya sakit sekali sampai tidak bisa berjalan,” jawab Adrian.


“Mungkin bayinya sedang mencari jalan keluar,” ujar Ibu Gita.


“Sekarang Mia dimana?” tanya Ibu Gita.

__ADS_1


“Masih di rumah, Bun. Baru mau berangkat ke rumah sakit,” jawab Adrian.


“Ya sudah, kalau kalian mau pergi sekarang. Nanti kalau ada kabar apa-apa telepon Bunda, ya!” ujar Ibu Gita.


“Iya, Bun,” jawab Adrian.


“Assalamualaikum,” ucap Ibu Gita.


“Waalaikumsalam,” jawab Adrian.


Adrian mematikan ponselnya lalu membawa koper-koper tersebut ke mobil. Setelah memasukkan koper ke mobil, Adrian kembali ke kamar menghampiri Mita


“Ayo, sayang. Kita berangkat sekarang,” ujar Adrian.


Mia menggerakkan kakinya sambil meringis kesakitan. Adrian dengan sabar membantu istrinya berdiri. Mia berjalan dengan pelan-pelan keluar dari kamar. Adrian menyanggah tubuh Mia agar tidak jatuh.


Setelah lamanya berjalan akhirnya mereka sampai juga ke mobil. Pak Ratno membukakan pintu mobil untuk Mia. Adrian membantu Mia masuk ke dalam mobil. Setelah Mia duduk di mobil Adria menutup pintu mobil. Ia masuk ke mobil melalui pintu sebelah kanan, ia duduk di sebelah Mia.


“Jalan, Pak!” ujar Adrian kepada Pak Ratno.


Mobilpun berjalan meninggalkan pekarangan rumah Adrian.


__ADS_1


__ADS_2