Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
117. Melahirkan


__ADS_3

“Koper Rima mana?” Karima menunjuk ke pojok kamar, tempat ia menyimpan koper yang akan dibawa ke Rumah sakit.


“Oh. Sudah Mas simpan di bagasi mobil,” jawab Daniel.


Karima mengambil tas selempang lalu ia selempangkan di bahunya. “Ayo kita berangkat sekarang!” Karima hendak berjalan ke luar kamar.


“Eh, tunggu dulu!” Daniel memegang lengan Karima menahan Karima agar tidak keluar dari kamar.


Karima mengerutkan kening. “Kenapa, Mas?” tanya Karima.


“Kamu mau ke rumah sakit dengan baju seperti itu?” Daniel menunjuk ke pakaian yang dipakai Karima.


Karima memperhatikan pakaian yang digunakan. Ia hanya memakai daster dan tidak menggunakan kerudung. Karima baru sadar kalau ia belum berganti pakaian.


“Karima lupa, Mas. Habis perut Karima mules sekali.” Karima mengusap-usap perutnya yang bertambah mules.


Daniel berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengambil gamis dan kerudung instan dari dalam lemari lalu ia berikan kepada Karima. “Ganti baju dulu!” Karima mengganti pakaiannya lalu menutup rambutnya dengan kerudung instan.


Daniel memandangi istrinya yang sudah berganti pakaian. “Nah, kalau begitukan cantik. Tidak seperti orang baru bangun tidur,” puji Daniel.


“Ayo cepet, Mas!” Karima mengambil tasnya lalu bergegas keluar dari kamarnya. Ia sudah tidak tahan karena perutnya mules sekali.


“Iya, ayo.” Daniel mengambil kunci mobil lalu keluar kamar menyusul istrinya.


Karima berjalan menuju ke kamar Rachel. Ia membuka pintu kamar Rachel. Karima memanggil Mpok Minah yang tidur di kamar Rachel. Mendengar suara Karima memanggilnya, Mpok Minah langsung bangun dari tempat tidur.


“Iya, Bu?” tanya Mpok Minah.


“Saya mau berangkat ke rumah sakit sekarang,” ujar Karima.


Mbok Minah langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Karima.


“Titip anak-anak, ya. Tolong kunci lagi pintunya!” ujar Karima.


“Baik, Bu.” Karima meninggalkan kamar Rachel lalu berjalan keluar rumah. Daniel sudah berada di dalam mobil dan sudah menghidupkan mesin mobil. Mereka akan pergi dengan menggunakan mobil Karima.

__ADS_1


Karima langsung masuk ke dalam mobil. Mpok Minah membuka pintu pagar, Daniel mengeluarkan mobil dari halaman rumah. Setelah itu mobilpun meluncur meninggalkan rumah Karima. Mpok Minah menutup kembali pintu pagar dan masuk ke dalam rumah.


Daniel mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah rumah sakit yang berada di daerah Bintaro. Ia menggunakan tol untuk menuju ke Bintaro. Jalan menuju ke Bintaro sangat sepi sehingga mereka bisa sampai ke Bintaro dengan cepat. Selama di perjalanan Karima meringis kesakitan. Sesekali Daniel menoleh ke Karima dan mengelus perut Karima.


“Sabar ya, Dek. Ayah sedang berusaha membawa Mama ke rumah sakit.” Daniel mengajak berbicara bayi yang berada di dalam kandungan Karima.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Daniel membelokkan mobil ke dalam rumah sakit. Ia hendak mengarahkan mobilnya menuju ke Instalasi Gawat Darurat, namun dicegah oleh Karima.


“Jangan berhenti di depan IGD. Parkir di tempat biasa saja!” ujar Karima sambil mengusap-usap perutnya dan meringis kesakitan.


Daniel menghentikan mobilnya.  Ia menoleh ke Karima. “Kenapa? Bukankah kamu mau melahirkan?” tanya Daniel tidak mengerti.


“Tidak apa-apa, Mas. Lebih baik ke IGD dengan berjalan kaki,” jawab Karima.


Daniel tidak jadi menuju ke IGD, ia memundurkan mobil lalu mengarahkan mobil menuju ke tempat parkir. Setelah memarkirkan mobil Daniel dan Karima keluar dari mobil. Mereka berjalan menuju ke IGD. Daniel salut kepada Karima walaupun sudah merasa mules yang luar biasa, ia masih sanggup berjalan kaki ke ruang IGD padahal jaraknya lumayan jauh dari tempat parkir.


Daniel dan Karima masuk ke dalam IGD mereka menghampiri suster jaga.


“Sus, istri saya mau melahirkan,” ujar Daniel.


“Baik, Sus.” Daniel meninggalkan ruang IGD. Namun, sebelum keluar dari ruang IGD ia menoleh ke belakang sekali lagi. Ia ingin melihat istrinya dulu.


“Ke sini, Bu.” Suster mengajak Karima ke salah satu tempat tidur yang kosong. Karima mengikuti suster menuju ke tempat tidur lalu ia naik ke atas tempat tidur. Setelah melihat istrinya berada di tempat tidur, barulah Daniel keluar dari ruang IGD.


Sepuluh menit kemudian Daniel datang dan membawa slip bukti tanda sudah mendaftar di loket pendaftaran. Ia memberikan slip itu kepada suster. Suster meninggalkan tempat itu. Daniel mendekati Karima yang sedang meringis menahan rasa mules yang luar biasa sakitnya. Ia  mengusap kerudung Karima.


“Sudah diperiksa belum?” tanya Daniel.


“Belum,” jawab Karima. Karima memegang telapak tangan Daniel lalu mencengkram telapak tangan Daniel dengan kencang untuk mengurangi rasa sakit. Daniel meringis kesakitan tapi ia membiarkan istrinya mencengkram telapak tangannya dengan kencang.


“Lalu dari tadi ngapai saja?” tanya Daniel.


“Tunggu Mas Daniel daftar ke loket pendaftaran,” jawab Karima. Karima kembali mencengkram telapak tangan Daniel dengan kencang. Daniel menghela nafas, ia kesal mendengarnya. Ia menyangka selama ia sedang mendaftar, pihak rumah sakit sudah memberi tindakan.


“Nanti diperiksa di ruang bersalin. Mas tenang saja, pihak rumah sakit sudah menghubungi dokter,” ujar Karima. Ia kembali mencengkram telapak tangan Daniel dengan kencang.

__ADS_1


“Semoga saja dokter cepat datang,” kata Daniel.


Tak lama kemudian seorang suster yang berbeda datang membawa kursi roda. Ia mendekati Karima.


“Ibu Karima?” tanya suster itu.


“Iya, Sus,” jawab Karima


“Ayo, Bu. Pindah ke ruang bersalin.” Suster membantu Karima turun dari tempat tidur lalu Karima duduk di atas kursi roda. Suster mendorong kursi roda membawa Karima menuju ruang bersalin. Daniel mengikuti Karima dari belakang.


Mereka naik lift menuju ke ruang bersalin. Ruang bersalin berada di lantai tiga. Selama di dalam lift Karima meringis menahan mules pada perutnya. Akhirnya mereka sampai di lantai tiga, suster mendorong kursi roda memasuki ruang bersalin. Suster menyuruh Daniel membuka sepatu dan memakai pakaian steril.


Suster mendekatkan kursi roda dengan tempat tidur. Ia membantu Karima turun dari kursi roda dan naik ke atas tempat tidur. Seorang suster lainnya mendekati Karima dan memeriksa Karima.


“Sudah pembukaan sepuluh. Dokter Lusi dalam perjalanan, sebentar lagi sampai,” ujar suster.


Rasa mules di perut Karima sudah semakin sering, ia terus saja mencengkram tangan Daniel. Tiba-tiba terdengar suara suster menyapa dokter Lusi. Sepertinya dokter Lusi sudah datang. Suster datang membawa alat pendeteksi jantung bayi. Suster memasang alat tersebut di perut Karima. Terdengar suara denyut jantung bayi yang sangat kencang.


Tidak lama kemudian dokter Lusi memasuki ruangan.


“Selamat pagi, Bu,” sapa dokter Lusi.


“Pagi, Dokter,” jawab Karima sambil menahan mules.


Di belakang dokter Lusi ada seseorang yang berpakaian dokter juga. Ia berdiri di dekat pintu.


“Oke, kita mulai persalinan,” ujar dokter Lusi. Dokter Lusi dan suster bersiap-siap melakukan persalinan.


“Dok, saya boleh menemani istri saya?” tanya Daniel.


“Tentu saja boleh. Bapak bantu mengangkat punggung ibu ketika ibu sedang mengejan,” ujar dokter Lusi.


“Baik, Dok,” jawab Daniel.


Persalinan pun dimulai, hanya dengan dua kali ngejan bayi dalam kandungan Karima pun lahir. Terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang.

__ADS_1


“Alhamdullilahirobbilalamin,” ucap Karima dan Daniel.


__ADS_2