
Lima belas menit kemudian Lisa datang dengan membawa minuman untuk Karima dan Daniel. Lisa mengetuk pintu ruang kerja Daniel. Karima membukakkan pintu , Lisa masuk ke dalam ruangan. Ia menaruh teh di atas meja sofa.
“Terima kasih,” ucap Karima.
Kemudian Lisa menaruh kopi Daniel di atas meja kerja Daniel.
“Hm. Terima kasih,” ucap Daniel. Lalu Lisa keluar dari ruangan Daniel.
Lisa duduk di kursi kerjanya lalu ia menggeser kursi kerjanya mendekati Ilham.
“Ham, sebetulnya Ibu Karima siapa?” tanya Lisa dengan suara pelan supaya tidak kedengaran oleh orang lain.
Ilham menoleh ke Lisa. “Memang kenapa?” Ilham malah balik bertanya.
“Kok, sepertinya Pak Daniel memperlakukan Ibu Karima dengan istimewa,” jawab Lisa.
“Istimewa bagaimana? Perasaan biasa-biasa saja,” ujar LIlham. Ilham kembali fokus ke layar computer.
“Tadi Pak Daniel sedang membaca dokumen, tapi Ibu Karima cuma duduk manis di sofa,” kata Lisa.
Ilham menghela nafas lalu menoleh lagi ke Lisa.
“Memangnya dia harus ngapain, Sa?” tanya Ilham.
“Ngapain aja. Disuruh ngetik. Atau disuruh kirim email,” jawab Lisa.
“Dia kan sekreataris di perusahaan yang lain bukan di sini. Kalau untuk urusan di sini itu tugas kamu dan saya bukan tugas Bu Karima,” ujar Ilham.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Daniel terbuka. Cepat-cepat Lisa menggeser kursinya kembali ke meja kerjanya. Daniel dan Karima keluar dari ruangan Daniel. Daniel menghampiri meja Ilham.
“Masih ada dokumen yang harus saya tanda tangan?” tanya Daniel.
“Masih, Pak. Tapi belum selesai saya ketik,” jawab Ilham.
“Nanti kamu simpan di ruangan saya. Sekarang saya mau makan siang sama Ibu Karima,” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Ilham.
“Ayo Bu Karima.” Daniel dan Karima meninggalkan kantor Daniel.
***
__ADS_1
Mobil yang dikendarai oleh Pak Min berhenti di depan lobby sebuah hotel mewah yang berada di jalan Rasuna Said. Seorang bellboy membuka pintu mobil untuk Karima. Karima dan Daniel turun dari mobil lalu masuk ke dalam lobby hotel.
Mereka berjalan menuju ke sebuah restaurant western yang berada di hotel tersebut. Ketika sampai di depan restaurant seorang karyawan restaurant menghampiri mereka.
“Selamat siang, Pak-Ibu. Apakah sudah reservasi?” tanya karyawan tersebut.
“Sudah. Atas nama Daniel,” jawab Daniel.
Karyawan itu mencari nama Daniel di daftar reservasi setelah itu ia menghampiri Daniel kembali.
“Silahkan, Pak.” Karyawan itu mengantar Daniel dan Karima menuju ke meja yang sudah di pesan Daniel. Karyawan itu menarik kursi untuk Daniel dan Karima. Daniel dan Karima duduk di kursi lalu karyawan itu memberikan buku menu kepada Daniel dan Karima.
Daniel membuka buku menu. “Ibu Karima mau makan apa?” tanya Daniel sambil memperhatikan buku menu.
Karima memajukkan duduknya agar lebih dekat dengan Daniel. “Pak Daniel, Bapak ke sini mau bertemu klien?” tanya Karima dengan berbisik agar tidak terdengar oleh karyawan restaurant.
Daniel mengalihkan pandangannya dari buku menu. “Saya tidak ada janji dengan siapa-siapa,” jawab Daniel dengan tenang.
“Saya ke sini hanya mengajak Bu Karima makan siang,” lanjut Daniel.
Karima mengerutkan keningnya. “Kenapa harus di hotel, Pak? Kenapa tidak di tempat lain?” tanya Karima.
“Baiklah, Pak,” kata Karima. Karima kembali membaca buku menu.
Setelah selesai mereka memesan makanan, karyawan restaurant pun pergi. Karima mengedarkan pandangannya ke sekeliling restaurant. Kebanyakan para tamu yang datang terlihat serius seperti sedang membicarakan bisnis dengan patner atau dengan klien. Ada juga beberapa yang maka siang dengan pasangan bahkan ada juga yang kencan buta.
Daniel memandang Karima yang sedang sibuk mengamati tamu-tamu yang lain.
“Bu Karima.” Daniel memanggil Karima.
Karima menoleh ke Daniel, “Ya, Pak.”
Daniel tersenyum menatap wanita di depannya. Usia Karima lebih tua darinya. Anaknya sudah tiga tapi ia masih terlihat cantik di usia tiga puluh empat tahun.
“Bapak mau bicara apa?” tanya Karima.
“Maukah Ibu Karima menikah dengan saya?” tanya Daniel. Karima kaget mendengarkan perkataan Daniel.
“Apa saya tidak salah mendengar?” tanya Karima.
“Ibu tidak salah mendengar. Saya sedang melamar Ibu,” jawab Daniel. Karima menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
“Maafkan saya. Saya sudah membuat Ibu kaget,” ujar Daniel.
Karima mengangkat wajahnya. “Tidak apa-apa, Pak,” jawab Karima.
“Semestinya saya melamar Ibu dengan makan malam yang romantis. Tapi kalau malam anak-anak tidak bisa ditinggal,” ujar Daniel.
Karima menghela nafas. Ya, itulah Daniel. Dia selalu memperhatikan dan mempertimbangkan perasaan anak-anak. Apa itu cara Daniel untuk menarik hatinya? Apa nanti setelah menikah perlakuan Daniel kepada anak-anaknya akan berubah? Karima tidak tau jawabannya. Ia tidak ingin suudzon kepada orang lain.
“Lalu apa jawaban Ibu tentang lamaran saya?” tanya Daniel.
“Beri saya waktu untuk menjawab lamaran Bapak,” jawab Karima.
“Baiklah. Saya akan memberi Ibu waktu untuk berpikir. Tapi jangan lama-lama karena sebentar lagi bulan Ramadhan. Bunda ingin kita menikah sebelum bulan Ramadhan,” ujar Daniel. Karima bengong mendengarkan perkataan Daniel yang yakin lamarannya akan diterima oleh Karima.
Daniel tersenyum melihat wajah Karima yang bingung. “Bunda yakin kalau lamaran saya akan diterima oleh Ibu Karima,” ujar Daniel.
“Bagaimana kalau saya menolak lamaran Pak Daniel?” tanya Karima.
“Saya akan patah hati. Dan saya membutuhkan waktu yang lama untuk menerima kehadiran perempuan lain,” jawab Daniel sambil tersenyum. Karima menghela nafas. Daniel sangat percaya diri kalau lamarannya akan diterima oleh Karima.
Tanpa mereka sadari seorang karyawan restaurant datang membawa pesanan mereka. Mereka menghentikan pembicaraan mereka. Karyawan itu menaruh pesanan mereka di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Karima. Karyawan itu pun pergi meninggalkan meja mereka.
“Kita makan dulu,” ujar Daniel. Mereka pun menyantap makanan mereka.
Daniel memperhatikan Karima yang sedang makan. “Enak tidak makanannya?” tanya Daniel.
“Enak,” jawab Karima.
“Kapan-kapan kita bawa anak-anak ke sini. Mereka pasti akan suka makan makanan di sini. Kalau membawa mereka, kita bisa pergi malam-malam,” ujar Daniel.
“Tapi nanti Bapak pulangnya jadi larut malam. Terlalu bahaya pulang malam-malam sendiri. Jalannya sepi,” kata Karima.
“Ya sudah. Kalau begitu kita perginya setelah kita menikah,” ujar Daniel.
“Kenapa begitu?” tanya Karima.
“Kan kalau sudah menikah tinggal serumah. Masa setelah mengantarkan istri dan anak-anak pulang saya harus pulang ke rumah orang tua saya. Apa kata orang nanti kalau kita tinggalnya terpisah,” jawab Daniel.
Karima menghela napas. Sepertinya Daniel benar-benar yakin kalau lamarannya bakalan diterima Karima.
__ADS_1