
Karima sedang melipat mukenahnya. Ia baru saja selesai sholat subuh. Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Karima cepat-cepat melipat mukenah lalu menyimpannya di rak tempat untuk menyimpan perangkat sholat. Setelah itu ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias.
Ia membaca pesan yang masuk, pesan dari Daniel.
Daniel :
[Assalamualaikum, Bu Karima.]
[Apakah Ibu memiliki paspor?]
[Jika Ibu memiliki paspor, bisakah Ibu menemani saya ke Malaysia? Saya harus ke Malaysia mewakili papa saya. Asisten yang biasa mendampingi saya perjalanan luar saat ini sedang menderita covit nineteen sehingga harus isolasi mandiri dalam waktu lama. Sekretaris saya, ibunya sedang sakit. Sehingga tiba bisa mendampingi saya keluar negeri. Satu-satunya harapan saya hanya Ibu Karima. Semoga Ibu bisa mendampingi saya ke Malaysia.]
Karima menghela nafas setelah membaca pesan dari Daniel. Berat rasanya untuk meninggalkan anak-anaknya namun ia memerlukan pekerjaan untuk menafkahi anak-anaknya. Uang yang dikirimkan mantan suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Mungkin penghasilan mantan suaminya lebih banyak diberikan untuk kekasihnya.
Karima berjalan menuju ke lemari yang berada di bawah televisi. Ia membuka pintu lemari dan mengambil salah satu map organizer untuk menyimpan dokumen berharga. Ia membuka map tersebut dan mengambil paspor yang ada di dalam map. Paspor ada empat buah. Paspor miliknya dan milik anak-anaknya. Ia membuka paspor satu persatu. Ia mencari paspor miliknya. Setelah mendapatkan paspor itu ia membaca masa berlaku paspor tersebut. Masih berlalu tiga tahun lagi.
Paspor itu dipergunakan dua tahun yang lalu sebelum mereka bercerai. Waktu itu Yarfin mengajak istri dan anak-anaknya berlibur ke Autralia. Beberapa bulan setelah mereka pulang berlibur sikap Yarfin jadi berubah dan jarang pulang ke rumah. Setelah di selidiki Yarfin sedang dekatdengan rekan bisnis cantik dan masih muda. Suaminya yang dulu sangat mencintai keluarganya langsung berubah menjadi orang lain. Bahkan menjadi kasar kepada istri dan anak-anaknya.
Tidak sanggup menghadapi sikap suaminya yang acuh dan kasar, Karima langsung menggugat cerai suaminya. Pengadilan agama mengabulkan gugatan Karima. Rumah milik mereka jatuh ke tangan Karima karena sebagian dari rumah itu ada warisan dari orang tua Karima. Mobil yang dipakai Karima juga menjadi milik Karima karena dianggap hak anak-anak. Semua yang ada di dalam rumah itu menjadi milik anak-anak. Yarfin pergi hanya membawa barang-barang pribadi dan mobil yang biasa ia pakai.
Karima menitikkan air mata mengingat kejadian itu. Cepat-cepat ia menghapus air matanya. Karima mengambil paspor miliknya dan menyimpan kembali map organizer ke dalam lemari.
Sekarang ia tinggal menunggu Mpok Minah datang. Mudah-mudahan Mpok Minah mau dititipkan anak-anak selama beberapa hari dan anak-anaknya juga mau ditinggalkan.
Tiba-tiba ponsel Karima berdering. Karima mengambil ponselnya yang berada di atas lemari televisi. Tertulis di layar ponselnya Pak Daniel calling. Karima menjawab telepon Daniel.
__ADS_1
“Assalamualikum,” ucap Karima.
“Waalaikumsalam,” jawab Daniel.
“Bagaimana, Bu? Apa Ibu bisa mendampingi saya ke Malaysia?” tanya Daniel.
“Saya harus tanya pembantu saya dulu, apa dia bisa dititpi anak-anak. Pembantu saya baru datang jam jam enam kurang lima belas menit,” jawab Karima.
“Ibu punya paspor?” tanya Daniel.
“Punya, Pak. Dan masih berlaku,” jawab Karima.
“Bagus kalau begitu. Kabari saya kalau sudah ada jawaban dari pembantu Ibu Karima,” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima.
“Baik, Pak,” jawab Karima.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel lalu mengakhiri pembicaraannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima.
Karima menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
Ketika Mpok Minah datang, Karima mengatakan kalau ia harus mendampingi bosnya ke Malaysia selama beberapa hari. Mpok Minah menyanggupi untuk menjaga anak-anak.
__ADS_1
“Biar anak-anak sama saya, Bu. Ibu pergi aja,” kata Mpok Minah.
“Alhamdullilah,” ucap Karima. Sekarang ia tinggal berpikir bagaimana caranya agar anak-anak mau ditinggal.
Setelah pulang kerja Karima mengumpulkan anak-anaknya. Ia memberitahu kalau ia harus tugas ke luar negri. Langsung terdengar rengekan Rachel dan Gathan. “Mau Ikut.”
“Tidak boleh, sayang! Mama ke Malaysia untuk bekerja bukan untuk jalan-jalan,” ujar Karima.
“Lachel mau cama Mama,” kata Rachel dengan manja.
“Rachel di rumah main sama Abang,” ujar Hari.
“Ngga mau. Mau cama Mama,” jawab Rachel.
“Nanti kalau Mama sudah pulang, kita jalan-jalan, Rachel mau kemana?” tanya Karima.
“Mau belenang, cama naik pelahu, cama naik kuda,” jawab Rachel.
“Iya, nanti kita jalan-jalan. Mama kerja dulu cari uang untuk jalan-jalan dan beli mainan,” ujar Karima.
“Hole, kita jalan-jalan,” teriak Rachel.
Akhirnya Rachel dan Gathan mau ditinggal setelah diiming-imingi mainan dan jalan-jalan.
__ADS_1