Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
58. Bingung Mau Dikasih Judul Apa?


__ADS_3

Daniel sedang berada di ruang kerjanya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


“Masuk!” kata Daniel dengan suara yang kencang agar terdengar sampai keluar ruangannya.


Pintu terbuka, Pak Taslim manager Human Resource Development masuk ke dalam ruang kerja bersama dengan seorang office boy bernama Ngadimin. Ia membawa dokumen dengan tumpukan yang sangat tinggi.


“Pak ini dokumen yang Bapak butuhkan,” kata Pak Taslim.


“Tolong bawa ke mobil saya. Nanti malam saya periksa. Sekarang saya harus kembali ke kantor pusat,” ujar Daniel. Daniel beranjak dari kursinya lalu keluar dari ruag kerjanya. Pak Taslim dan Ngadimin mengikuti Daniel dari belakang. Mereka turun ke lantai dasar dengan menggunakan liff.


“Pak Taslim, saya butuh seorang sekretaris untuk membantu saya,” ujar Daniel.


“Apa Bapak mau merekrut pegawai baru?” tanya Pak Taslim.


“Tidak usah. Saya cari dari pegawai lama saja. Makanya saya meminta dokumen kepegawaian agar saya tau apakah penempatan pegawai di perusahaan ini sudah benar? Atau hanya asal menempatkan saja,” jawab Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Pak Taslim.


Liff berhenti di lantai dasar dan pintu liff terbuka. Mereka keluar dari liff. Tiba-tiba Daniel mendengar suara cekikikan dari arah meja operator. Daniel menghampiri meja operator. Ia melihat dua orang petugas operator sedang asyik makan rujak sambil main ponsel dan tertawa cekikikan.Pak Taslim dan Ngadimin hanya bisa diam melihat Daniel memergoki kedua petugas operator sedang bermain ponsel.


“Ekhem.” Daniel pura-pura batuk.


Salah satu dari mereka menoleh ke arah Daniel. Melihat Daniel sedang berdiri di depan meja operator ia langsung berdiri.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya petugas operator.


Temannya yang sedang asyik melihat ponsel langsung menoleh ke arah Daniel. Cepat-cepat ia meletakkan ponselnya dan langsung berdiri. Daniel membaca name tag mereka satu persatu. Nama mereka adalah Tia dan Uri.

__ADS_1


“Coba saya lihat ponselnya!” ujar Daniel.


Dengan ragu-ragu Tia memberikan ponsel yang tadi mereka mainkan. Daniel memgambil ponsel tersebut. Ia menyentuh layar tersebut dan ternyata mereka sedang melihat aplikasi tiktok. Ia juga memeriksa data seluler ponsel tersebut. Ternyata mereka menggunakan wifi kantor untuk menonton tiktok.


Daniel terlihat menahan marah.


“Bagus, ya. Korupsi waktu dan pakai wifi kantor untuk bersenang-senang!” ujar Daniel dengan sinis.


“Gaji kalian saya potong! Kalau kalian tidak terima, silahkan mengundurkan diri! Di luar sana masih banyak orang yang bisa menggantikan posisi kalian dan mau bekerja dengan baik,” kata Daniel dengan kejam. Kedua operator itu hanya bisa menunduk. Mereka tidak bisa berkata apa-apa karena mereka kepergok berbuat salah.


“Pak Taslim. Tolong catat apa yang barusan saya katakan!” kata Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Daniel.


Pandangan Daniel tertuju pada surat-surat yang menumpuk di atas meja operator.


“Itu surat-surat yang masuk, Pak,” jawab Uri.


“Kenapa ditaruh di sini? Kenapa tidak diantar ke nama yang dituju?” tanya Daniel.


“Biasanya Ngadimin yang mengantar surat-surat itu ke nama yang dituju,” jawab Tia.


“Lalu kerja kalian apa?” tanya Daniel. Tya dan Uri hanya bisa diam, tidak bisa mengatakan apa-apa.


Daniel mengambil salah satu surat yang berada di tumpukan paling atas. Surat itu hanya berupa lembaran mirip seperti sebuah bon. Daniel membaca surat itu. Ia kaget ketika melihat surat itu adalah surat tagihan listrik. Perusahaan belum membayar tagihan listrik selama satu bulan.


“Astagfirullahaladzim,” ucap Daniel.

__ADS_1


“Surat sepenting ini kalian diamkan begitu saja di atas meja?” tanya Daniel kepada Tya dan Uri. Tya dan Uri hanya bisa diam dan menundukkan kepala.


Daniel memberikan surat tagihan itu kepada Pak Taslim. “Berikan surat ini kepada manager keuangan! Suruh mereka bayar tagihannya!”


“Baik, Pak,” jawab Pak Taslim.


Daniel pun berjalan keluar dari kantor baru. Berlama-lama di kantor baru membuat sakit kepala.


***


Daniel sedang berada di kamarnya. Ia duduk di atas tempat tidur sambil membaca dokumen dari devisi HRD. Ia ingin memeriksa pegawainya satu persatu. Ia tidak ingin kecolongan harus menggaji besar karyawannya tapi karyawan itu tidak bisa bekerja sama sekali.


Daniel memilah-milah mana karyawan yang harus dipertahankan dan mana karyawan yang harus diturunkan ketingkat yang lebih rendah karena mereka tidak mampu bekerja. Sesekali Daniel menggelengkan kepalanya ketika membaca dokumen itu. Ada yang berpendidikan tamatan SMP tapi dipekerjakan menjadi staf. Entah siapa yang menyuruh orang tersebut dijadikan staf perusahaan? Sedangkan banyak yang berpendidikan tamatan setingkat SMA tapi diberikan pekerjaan rendahan. Contohnya Ngadimin. Ia tamatan SMK tapi dijadikan office boy. Perusahaan itu benar-benar menganut management tukang warung.


Sampai akhirnya ia membaca dokumen seorang karyawan wanita. Yang uniknya karyawan itu baru bekerja di perusahaan itu selama setahun namun sebelumnya ia belum pernah bekerja sama sekali alias tidak punya pengalaman kerja. Memang begitulah keuntungan perusahaan management tukang warung mau menerima pekerja yang belum memiliki pengalaman kerja sama sekali. Pendidikannya tamatan strata satu falkutas ekonomi. Dia memiliki keahlian bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.


“Wah, lumayan juga nih. Kalau perlu penterjemah bahasa Mandarin tinggal bawa dia saja,” kata Daniel di dalam hati.


Daniel membaca nama karyawan tersebut, namanya Karima.


“Karima? Perasaan pernah mendengar nama orang ini,” kata Daniel kepada dirinya sendiri. Daniel mencoba mengingat nama tersebut. Akhirnya ia ingat, Karima adalah nama karyawan yang datang terlambat. Ia ijin kepada atasannya untuk mengambil raport anaknya.


“Sepertinya tadinya dia hanya seorang ibu rumah tangga,” kata Daniel.


“Oke! Besok kita lihat apakah ia bisa bahasa Inggris dan bahasa Mandarin,” ujar Daniel.


Daniel melanjutkan lagi pekerjaannya. Ia ingin agar besok ia sudah bisa mendiskusikan dengan PK Taslim tentang mutasi para karyawan.

__ADS_1



__ADS_2