Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
89. Percakapan Yarfin Dengan Daniel


__ADS_3

Daniel berjalan masuk ke dalam lobby kantornya. Ia melihat Yarfin sedang duduk di lobby kantornya. Yarfin tersenyum kepada Daniel lalu menghampiri Daniel.


“Apa kabar?” Yarfin mengulurkan tangannya mengajak Daniel untuk berjabat tangan.


Daniel menjabat tangan Yarfin. “Baik,” jawab Daniel.


“Bisa kita bicara sebentar? Tapi jangan bicara di sini. Kita bicara di luar. Saya tidak ingin Karima tau saya datang ke sini,” ujar Yarfin.


Daniel berpikir sejenak. “Boleh. Kita bicara di coffee shop,” jawab Daniel.


Sebelum pergi Daniel menghampiri operator kantor. “Ri. Bilang ke Ibu Karima, saya ke coffee shop di sebelah,” ujar Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Uri. Kemudian Daniel meninggalkan meja operator. Daniel dan Yarfin meninggalkan kantor.


Karyawan Daniel tidak ada yang tau kalau Yarfin adalah mantan suami Karima. Karima bekerja di kantor Daniel setelah bercerai dengan Yarfin. Jika ada urusan dengan Karima, Yarfin tidak pernah mendatangi Karima di kantornya. Biasanya  mereka janjian bertemu di luar atau Yarfin datang ke rumah Karima.


Daniel dan Yarfin jalan kaki menuju ke coffee shop. Coffee shop terletak dua puluh meter dari kantor Daniel. Sesampai di coffee shop mereka mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Setelah memesan kopi mereka mulai berbicara.


“Apa yang hendak Bung Yarfin bicara?” tanya Daniel langsung ke pokok masalahnya.


Yarfin menghela napas berat.


“Saya titip Karima dan anak-anak,” ujar Yarfin.

__ADS_1


Daniel mengerut keningnya.


“Maksud Bung Yarfin apa?” tanya Daniel tidak mengerti.


“Saya tau Bung Daniel ada perasaan kepada Karima. Saya hanya meminta bahagiakan dia, jangan kecewakan dia. Cukup saya saja yang pernah mengecewakan dia. Jangan sampai dia dikecewakan oleh Bung Daniel!” ujar Yarfin.


“Tentu saja saya tidak akan mengecewakannya. Saya sangat mencintainya. Saya juga menyayangi anak-anaknya. Saya akan menjaga mereka dengan baik tanpa Bung Yarfin minta,” kata Daniel.


“Syukurlah kalau Bung Daniel mau menjaga mereka dengan baik. Saya menjadi merasa lega,” ujar Yarfin.


Yarfin mengalihkan pandangannya ke luar coffee shop. Ia menerawang ke masa lalunya.


“Karima adalah seorang gadis yatim piatu. Ia dibesarkan oleh kakak laki-lakinya. Sewaktu kami hendak menikah, kakaknya menitipkan kepada saya untuk dijaga dan dibahagiakan. Saya menyanggupinya. Tapi kenyataannya, saya tidak bisa menjaganya dan saya sering membuatnya menangis. Saya sudah mengecewakan kakaknya,” ujar Yarfin.


“Sekarang tugas Bung Daniel yang menjaga dan membahagiakannya. Jangan sampai Karima kecewa untuk kedua kalinya!” lanjut Yarfin.


“Tentu saja, saya tidak akan mengecewakan wanita saya,” kata Daniel.


Seorang pelayan coffee shop datang membawa pesanan kopi mereka. Pelayan itu manaruh kopi di meja mereka. Daniel dan Yarfin meminum kopi mereka.


“Bung Yarfin mau menikah dengan Winny, ya?” tanya Daniel.


“Tidak,” jawab Yarfin.

__ADS_1


“Saya sudah putus dengan Winny,” jawab Yarfin. Daniel kaget mendengarnya.


“Kenapa?” tanya Daniel penasaran.


“Dia membawa kabur uang saya,” jawab Daniel.


“Kok, bisa?” tanya Daniel.


“Bisalah. Menang dari awal dia mengincar kekayaan saya. Sampai saya menelantarkan anak dan istri saya,” jawab Yarfin.


“Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak mungkin kembali ke mantan istri saya karena dia sudah ada cinta yang lain di hatinya,” kata Yarfin.


“Bung Yarfin tidak melaporkan ke pihak berwajib?” tanya Daniel.


“Hari ini saya akan melapor ke pihak berwajib. Setelah saya mengumpulkan semua bukti-bukti yang saya dapat,” jawab Yarfin.


“Syukurlah kalau Bung Yarfin memiliki bukti-bukti yang memberatkan Winny. Semoga Winny bisa cepat di tangkap,” ucap Daniel.


“Aamiin. Semoga saja dia bisa cepat ditangkap. Karena uang itu adalah uang hak anak-anak saya. Selama ini saya hanya memberikan sedikit kepada anak-anak. Makanya Karima harus bekerja untuk mencukupi kekurangannya,” kata Yarfin.


Yarfin melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh.


“Sudah siang. Saya harus ke pengacara saya,” ujar Yarfin.

__ADS_1


Mereka pun beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka meninggalkan coffee shop dan kembali ke kantor Daniel.


__ADS_2