Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
88. Ketegangan Mencair


__ADS_3

Rachel dan Gathan yang sedang asyik menonton film kartun menoleh ke arah pintu.


“Papa!” seru mereka dengan senang. Mereka menghampiri Yarfin. Satu persatu mereka mencium tangan Yarfin.


“Papa napa ngga pelnah ke cini lagi?” tanya Rachel.


Yarfin mengusap kepala Rachel. “Papa sibuk sayang,” jawab Yarfin.


Yarfin melihat ke seluruh ruangan ia tidak melihat Karima.


“Mama kemana?” tanya Yarfin.


“Ada di kamar,” jawab Hari.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Karima keluar dari kamar. Ia menggunakan baju yang sopan dan menggunakan kerudung. Yarfin tersenyum ketika melihat Karima. Karima masih terlihat cantik seperti dulu walaupun sudah mempunyai tiga anak.


“Sudah makan, Bang?” tanya Karima.


“Belum. Abang juga belum sholat magrib,” jawab Yarfin.


“Sholat dulu. Karima siapkan makan malam,” ujar Karima.


“Iya.” Yarfin berjalan menuju ke kamar mandi untuk wudhu. Sementara itu Karima menyiapkan makan malam.


Setelah Yarfin selesai sholat mereka pun makan malam bersama. Anak-anak terlihat senang karena bisa merasakan makan bersama dengan kedua orang tuanya. Hal ini jarang mereka rasakan setelah papa mereka mengenal Winny. Winny sudah merusak kebahagiaan mereka.


Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Anak-anak menceritakan kegiatan mereka sehari-hari kepada papa mereka, Yarfin mendengarkan semua cerita anak-anaknya.


Hingga pada pukul delapan Rachel dan Gathan sudah mulai mengantuk. Karima menyuruh Rachel dan Gathan tidur, tapi mereka tidak mau. Mereka masih mau bersama dengan papa mereka. Akhirnya mereka tidur di atas pangkuan Yarfin.


Yarfin menggendong Rachel dan Gathan satu persatu, ia memindahkan mereka ke kamar. Kini tinggal mereka bertiga di ruang keluarga. Hari terlihat sudah mengantuk, namun Karima tidak menyuruh Hari tidur di kamar. Karena ia dan Yarfin tidak boleh berdua harus ada orang lain diantara mereka.


“Hubungan kamu dengan Daniel sudah sampai mana?” tanya Yarfin.


Karima menoleh ke Yarfin. “Maksud Abang apa?” tanya Karima dengan tidak mengerti.

__ADS_1


“Maksud Abang apakah kalian serius sampai jenjang pernikahan?” tanya Yarfin.


Karima menundukkan kepalanya. Ia jadi teringat dengan lamaran Daniel dan sampai sekarang ia belum menjawab lamaran Daniel. Ia takut akan terluka seperti dulu.


Yarfin memandangi mantan istrinya. Terlihat dari wajah Karima, hubungan Karima dengan Daniel bukan sekedar hubungan atasan dan bawahan tapi lebih dari itu.


“Pak Daniel sudah melamar Rima, tapi Rima belum menjawab lamaran Pak Daniel,” jawab Karima.


“Loh, kenapa? Dia kan baik sama kamu dan anak-anak,” tanya Yarfin.


“Karima takut, Karima tidak ingin terluka lagi,” jawab Karima.


Yarfin menghela nafas mendengar jawaban Karima. Akibat perbuatannya, Karima jadi menutup diri jika ada lelaki yang mendekatinya.


“Rima, jangan samakan dia dengan Abang. Daniel adalah orang yang baik,” kata Yarfin.


Karima menoleh ke mantan suaminya.


“Abang kenal dengan Pak Daniel?” tanya Karima dengan tidak percaya.


“Tapi kelihatannya ia tulus kepadamu dan anak-anak,” lanjut Yarfin.


“Abang dukung kalau kamu mau menikah dengan Daniel.” Yarfin mengacungkan dua jempol sambil tersenyum.


“Abang, iiihhh. Lebay,” kata Karima sambil tertawa.


Sudah lama ia tidak pernah bercanda dengan mantan suaminya. Biasanya jika mereka bertemu hanyalah ketegangan diantara pembicaraan mereka.


“Semoga Abang juga mendapatkan jodoh yang terbaik untuk Abang,” kata Karima.


“Aamiin,” jawab Yarfin dengan tulus.


Karima menoleh ke Yarfin. “Bukankah Abang sudah punya Ibu Winny?” tanya Karima.


“Abang sudah putus sama dia,” jawab Yarfin. Karima kaget mendengarnya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Karima.


“Dia membawa kabur uang Abang,” jawab Yarfin.


“Abang sudah lapor polisi?” tanya Karima.


“Belum. Biarkan saja dia makan uang haram,” jawab Yarfin dengan tenang.


“Terus Abang bagaimana?” tanya Karima.


“Abang tidak apa-apa. Abang masih bisa usaha dari nol,” jawab Yarfin.


“Tapi Abang minta pengertian kamu, Abang hanya bisa memberi sedikit uang untuk anak-anak,” ujar Yarfin.


“Tidak apa-apa, Bang. Karima mengerti,” jawab Karima.


“Alhamdullilah kalau kamu mengerti,” kata Yarfin.


Yarfin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.


“Sudah malam, Abang pamit pulang,” ujar Yarfin.


Yarfin beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Hari yang sedang berbaring di depan televisi. Ia menepuk bahu Hari.


“Hari, bangun! Papa pulang dulu,” kata Yarfin.


Hari bangun dari tidurnya lalu berdiri. Terlihat matanya yang sudah mengantuk.


“Papa pulang, ya,” ujar Yarfin. Hari mengangguk lalu mencium tangan papa nya.


Yarfin berjalan keluar rumah. Hari menemani mamanya mengantar papanya sampai depan rumah.


“Assalamualaikum,” ucap Yarfin.


“Waalaikumsalam,” jawab Hari dan Karima.

__ADS_1


Yarfin masuk ke dalam mobil tak lama kemudian mobil Yarfin meluncur meninggalkan rumah Karima.


__ADS_2