Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
116. Sakit Perut


__ADS_3

Kehamilan Karima sekarang sudah memasuki bulan kesembilan. Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Kakinya sudah terasa lemas dan pegel seperti orang hendak datang haid. Namun perutnya belum terasa mulas. Daniel mengosok pangkal kaki Karima dengan minyak kayu putih agar rasa pegalnya berkurang. Karima juga enggan berjalan sehingga ia hanya rebahan di atas tempat tidur.


Daniel kebingungan melihat istrinya yang serba salah. Ini pertama kalinya Daniel melihat istrinya akan melahirkan. Karima gonta-ganti posisi berbaring karena merasa tidak nyaman. Daniel tidak tau harus berbuat apa agar istrinya merasa nyaman.


“Kita ke rumagh sakit saja, ya!” ujar Daniel sambil menggosok pangkal kaki Karima.


“Percuma ke rumah sakit. Nanti disuruh pulang karena belum waktunya melahirkan,” kata Karima


“Mungkin dokter dan suster tau cara mengurangi rasa lemas dan pegal di kaki,” ujar Daniel.


“Tidak bisa dikurangi rasa lemas dan pegalnya, Mas. Ini tanda-tanda Rima mau melahirkan,” kata Karima.


“Kalau begitu mendingan kamu tidur saja. Sini Mas usap-usap punggung dan kepala kamu biar kamu tidur.” Daniel berbaring di sebelah Karima lalu mengusap kepala dan punggung Karima secara bergantian hingga akhirnya Karima tertidur dengan pulas. Daniel mengangkat badannya dan menoleh ke Karima. Ia langsung bernapas lega melihat istrinya tidur.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka Rachel masuk ke dalam kamar. “Sssttt.” Daniel memberi tanda agar Rachel jangan berisik. Rachel mendekati tempat tidur.


“Mama bobo?” tanya Rachel dengan suara berbisik.


“Iya,” jawab Daniel sambil berbisik.

__ADS_1


Daniel mengajak Rachel keluar dari kamar.


“Rachel mau apa?” Daniel bertanya setelah mereka keluar dari kamar.


“Lahel mau puding lagi. Tadi Lahel cudah mamam puding dua,” kata Rachel.


“Boleh. Rachel boleh makan puding lagi,” ujar Daniel.


“Aciiikkkk.” Gadis kecil itu berlari ke dapur sambil berteriak, “Mbak. Kata ayah, Lahel boleh mamam puding lagi.”


***


Karima berjalan menuju ke tempat tidur lalu ia naik ke tempat tidur. Ia melihat suaminya tidur dengan lelap. Karima berbaring di sebelah suaminya. Ia memejamkan matanya. Namun, matanya enggan untuk terpejam. Karena perut Karima masih terasa mules. Karima mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit. Ia bisa merasakan kalau perut bagian atas sudah kosong. Sepertinya anaknya sudah turun ke bawah.


Lama kelamaan rasa mulesnya semakin bertambah. Karima terpaksa membangunkan Daniel karena mereka harus pergi ke rumah sakit.


“Mas! Bangun, Mas!” Karima menepuk lengan Daniel. Namun, Daniel tidak bangunn juga. Sekali lagi Karima membangunkan Daniel.


“Mas, bangun!” kata Karima sambil menepuk-nepuk lengan Daniel.

__ADS_1


Akhirnya Daniel membuka mata. “Ada apa, sayang?” tanya Daniel dengan suara khas orang bangun tidur.. Matanya masih terasa ngantuk.


“Perut Karima mules sekali, Mas,” jawab Karima.


Daniel megusap-usap perut Karima. Terasa bayinya bergerak tidak bisa diam.


“Tenang ya, Nak! Jangan bergerak terus!” ujar Daniel.


Namun, bayi di dalam kandungan terus saja bergerak.


“Mas! Bukannya usap-usap perut Rima! Tetapi Mas harus siap-siap. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang,” kata Karima dengan gemas.


“Sebentar, Mas mau cuci muka dulu,” ujar Daniel.


Daniel beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Daniel keluar dari kamar mandi. Karima sudah mengganti baju ketika Daniel sedang di dalam kamar mandi.


Karima mengedarkan pandangannya, ia mencari koper miliknya dan tas bayi. Namun, ia tidak juga menemukan koper. Daniel mendekati istrinya yang sedang mencari koper.


“Cari apa, Sayang?” tanya Daniel.

__ADS_1


__ADS_2