
Pak Eko datang kembali dengan membawa beberapa tas kertas yang bertuliskan label tas yang cukup terkenal serta label sepatu yang cukup terkenal di kalangan menengah ke atas. Pak Eko menaruh di sebelah bingkisan yang lain. Ibu Titin kaget melihatnya.
“Mak, bingkisannya banyak sekali,” bisik Citra.
“iya,” jawab Ibu Titin.
“Semuanya sudah dikeluarkan, Bu,” kata Pak Eko.
“Terima kasih, Pak Eko,” ucap Ibu Gita. Pak Eko kembali ke mobil.
“Itu semua untuk Emak?” tanya Ibu Titin yang kebingungan.
“Iya, itu oleh-oleh dari saya untuk Emak,” jawab Ibu Gita.
“Tapi jangan terlalu banyak. Untuk Emak cukup satu saja,” ujar Ibu Titin.
“Hanya sekali-sekali, Mak. Tidak terlalu sering,” jawab Ibu Gita.
“Diminum dulu tehnya!” ujar Ibu Titin.
Pak Dandi dan Ibu Gita meminum teh yang telah disediakan.
“Mak, kedatangan Dandi ke sini hendak menceritakan kenapa Dandi memutuskan tali silahturahmi dengan Erin,” kata Pak Dandi.
“Sudahlah, Dandi. Tidak usah kamu ceritakan! Emak mengerti kenapa kamu berbuat seperti itu. Biarlah cerita itu terkubur bersama kenangan masa lalu Erin. Yang penting Mia sudah bertemu dengan ayahnya,” jawab Ibu Titin.
“Kasihan Mia, ia pasti sedih karena tidak bisa merasakan seperti anak-anak yang lain,” kata Pak Dandi dengan nada menyesal.
“Kamu tidak usah khawatir. Mia selalu ceria walaupun hidupnya tidak sama dengan anak-anak seusianya. Ia tidak pernah rendah diri dengan keadaannya yang seperti itu. Ia menerima semuanya keadaan dengan lapang dada karena itu sudah takdir yang Allah berikan kepadanya,” ujar Ibu Titin.
Pak Dandi dan Ibu Gita sedih mendengar perkataan Ibu Titin.
“Sudahlah, jangan membicarakan yang sedih-sedih! Yang penting Mia sudah bahagia,” ujar Ibu Titin.
“Bagaimana dengan keadaan Daniel? Apa dia sudah mendapatkan calon istri?” tanya Ibu Titin.
“Jangankan calon istri, pacar saja dia belum punya. Adiknya sudah menikah dan akan memiliki anak. Dia masih betah membujang,” jawab Ibu Gita.
“Mungkin memang belum bertemu jodohnya,” ujar Ibu Titin.
__ADS_1
“Doakan agar Daniel cepat dapat jodoh, Mak,” kata Ibu Gita.
“Iya, nanti Emak doakan,” ujar Ibu Titin.
“Mak, Emak sudah makan?” tanya Ibu Gita.
“Kenapa? Gita lapar?” tanya Ibu Titin.
“Emak hanya masak makanan yang sedarhana,” ujar Ibu Titin.
“Kita makan di restaurant, yuk!” ajak Ibu Gita.
“Kalian saja yang makan di restaurant. Emak makan di rumah saja,” jawab Ibu Titin.
“Mak. Mas Dandi ingin bareng makan dengan Emak. Katanya ia sudah lama tidak makan bareng dengan Emak,” bujuk Ibu Gita.
Ibu Titin menghela nafas.
“Kalau begitu Emak sholat dzuhur dulu,” ujar Emak.
“Kami juga mau ikut sholat di sini,” kata Pak Dandi. Pak Dandi beranjak dari tempat duduk hendak mengambil wudhu ke kamar mandi.
“Citra ikut ke restaurant, ya. Tapi harus ijin dulu sama mamah! Biar mamah tidak mencari Citra,” kata Ibu Gita.
***
Tak terasa kehamilan Mia sudah memasuki bulan ke empat. Pak Dandi akan mengadakan selamatan empat bulan Mia di rumahnya namun Mia menolak karena ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Mia ingin acara syukuran empat bulan diadakan di rumahnya sendiri.
Ibu Titin, Ibu Ecin dan Citra datang ke Jakarta untuk menghadiri acara syukuran empat bulan. Mereka di jemput oleh Pak Ratno. Mulyana dan Eti tidak bisa datang karena kebun Ibu Ecin sedang panen sehingga mereka harus mengurusi kebun.
Ibu Gita sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara syukuran. Walaupun acara diadakan di rumah Mia tapi beliau ingin yang menyiapkan semuanya. Pagi-pagi sekali ia sudah datang ke rumah Mia bersama dengan Pak Dandi dan Daniel.
“Bunda duduk saja. Nanti Bunda kecapean,” kata Mia ketika melihat Ibu Gita sibuk mengatur meja dan kursi untuk tempat makan para tamu.
“Tidak apa-apa. Cuma ngatur-ngatur meja dan kursi tidak membuat Bunda cape,” jawab Ibu Gita.
“Banyak nggak tamu yang diundang?” tanya Ibu Gita.
“Lumayan banyak, Bun. Sekitar dua ratus orang,” jawab Mia.
__ADS_1
“Banyak juga, ya. Mudah-mudahan diantara tamu yang datang ada jodoh untuk Damiel,” ujar Ibu Gita.
“Bunda mau punya menantu nenek-nenek?” tanya Daniel dengan tiba-tiba. Ibu Gita dan Mia menoleh ke belakang. Rupanya Daniel berdiri di belakang Ibu Gita dan Mia.
“Bukan begitu, Daniel! Siapa tahu saja ada tamu yang diantar oleh anak gadisnya. Atau ada yang mau menjodohkan anak gadisnya dengan kamu,” jawab Ibu Gita.
“Nggak mau ah, nanti kalau jelek bagaimana?” kata Daniel.
“Iiihhh kamu tuh ya, belum melihat orangnya sudah bilang jelek,” ujar Ibu Gita dengan gemas.
Ibu Titin dan Ibu Ecin keluar dari dalam rumah. “Ada apa ini ribut-ribut? Suaranya sampai terdengar ke dalam rumah?” tanya Ibu Titin.
“Bunda tuh, Mak. Masa Daniel mau dijodohkan dengan orang yang tidak Daniel kenal,” kata Daniel. Ia mengumpet di balik punggung Ibu Titin.
“Bukan begitu, Mak. Maksud saya siapa tau diantara tamu yang hadir ada jodoh untuk Daniel,” ujar Ibu Gita.
“Kita doakan saja semoga Daniel cepat bertemu dengan jodohnya dan diberikan jodoh yang terbaik,” ucap ibu Titin.
“Aamiin,” jawab Ibu Gita dan Mia.
Pukul sepuluh para ibu-ibu pengajian sudah datang. Acara syukuran empat bulan kehamilan Mia dimulai. Acara syukuran hanya diisi dengan pengajian dan ceramah dari Pak Ustad. Setelah selesai ceramah para tamu dipersilahkan untuk menyicipi hidangan yang sudah disediakan. Mia menyediakan berbagai macam hidangan dalam jumlah yang banyak agar tamunya puas memakannya.
Ibu Gita nampak sedang berbicara dengan ibu-ibu pengajian. Beliau memperkenalkan diri sebagai bundanya Mia. Acara pengajian selesai pada pukul satu siang. Mia bersyukur karena acaranya berjalan dengan lancar.
Pada malam harinya setelah sholat magrib Adrian dan Mia berkumpul bersama dengan Ibu Titin, Ibu Ecin serta Citra. Sengaja Adrian mengajak semuanya berkumpul di ruang keluarga karena ada yang ingin Adrian sampaikan.
“Mak, Bu Ecin ada yang ingin Adrian sampaikan kepada Emak dan Ibu Ecin.” Adrian berhenti sejenak. Ia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan.
“Adrian hendak memberangkatkan Emak dan Ibu Ecin umroh,” kata Adrian. Ibu Titin dan Ibu Ecin kaget mendengarnya.
“Mia pernah bercerita kalau ia ingin sekali menyenangkan Emak dengan memberangkatkan Emak umroh. Sekarang Mia sudah menjadi istri Adrian, jadi Adrian yang memberangkatkan Emak umroh. Tentu saja Ibu Ecin juga ikut. Pokoknya Adrian ingin membahagiakan wanita-wanita hebat yang sangat berarti di dalam hidup Mia,” lanjut Adrian. Ibu Titin dan Ibu Ecin terharu mendengarkan perkataan Adrian.
“Mas Adrian. Citra boleh ikut, nggak?” tanya Citra.
“Nanti ya, kalau sudah besar. Nanti Citra ketinggalan pelajaran karena umroh biasanya lama. Bisa sampai sepuluh hari,” jawab Adrian. Citra mengangguk tanda mengerti.
“Untuk pendaftaran umroh dan pembuatan paspor, Emak dan Ibu Ecin tidak perlu khawatir. Ryan yang akan mengurus semuanya. Emak dan Ibu Ecin hanya menunggu hasilnya saja,” kata Adrian.
“Alhamdullilah. Terima kasih, Adrian. Akhirnya emak bisa berangkat umroh,” ucap Ibu Titin dengan senang .
__ADS_1
“Terima kasih, Adrian. Terima kasih, Mia,” ucap Ibu Ecin.
“Sama-sama, Bu Ecin,” jawab Mia.