
Daniel menarik napas agar ia bersabar menghadapi kedua kakak Karima yang cukup menyebalkan.
“Om Daniel juga kerja di perusahaan milik papa,” sahut Hari.
Edwin menoleh ke Hari. “Oh, ya? Sejak kapan dia bekerja di perusahaan papa Hari?” tanya Edwin.
“Semenjak papa meninggal. Kata mama, sekarang Om Daniel yang mengganti kedudukan papa di kantor papa,” jawab Hari.
“Kok bisa Om Daniel bekerja di sana?” tanya Edwin.
“Bisa, Angku. Kata mama, papa yang menitipkan perusahaannya ke Om Daniel,” jawab Hari.
“Oh, berarti buaya titip ke buaya lagi,” ujar Edwin.
“Hmprtprt.” Adrian menahan mulutnya untuk tidak tertawa.
“Mas!” Mia melotot ke Adrian. Adrian cepat-cepat kembali seperti biasa lagi.
Aziz menoleh ke Edwin.
“Sudah Edwin. Jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Ingat, di sini banyak anak-anak!” ujar Aziz.
Aziz kembali menghadap ke depan. “Maafkan adik-adik saya, Pak Dandi. Mereka bersikap begitu karena kami pernah dikecewakan oleh mantan suami Karima,” kata Aziz.
Pak Dandi tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak Aziz. Biar anak saya tau kalau dia tidak boleh semena-mena terhadap Karima,” ujar Pak Dandi.
“Mengenai lamaran Daniel, hanya Karima yang berhak menjawab. Kami hanya ingin Karima bahagia. Itu saja,” kata Aziz.
“Iya, kami mengerti maksud Pak Aziz,” ujar Pak Dandi.
Tiba-tiba Reni dan seorang ART datang membawa minuman dan kue untuk para tamu. Ia menaruh makanan dan minuman di atas meja.
“Silahkan diminum, Pak Bu,” ujar Reni.
“Terima kasih,” ucap Ibu Gita.
Aziz menoleh ke Reni.
“Ma, tolong panggil Rima. Suruh dia ke sini!” kata Aziz.
“Iya, Pa,” jawab Reni.
Reni masuk ke dalam rumah untuk memanggil Karima. Tak lama kemudian Karima datang bersama dengan Reni. Daniel tersenyum ketika melihat Karima. Karima menggunakan gamis hadiah dari Ibu Gita. Beberapa hari sebelum Daniel datang melamar, Ibu Gita memberi hadiah sebuah gamis lengkap dengan kerudungnya untuk Karima. Gamis itu rancangan designer ternama. Karima terlihat cantik menggunakan gamis tersebut. Daniel menatap kekasihnya.
“Sini, Rim. Duduk di sebelah Abang,” ujar Aziz.
Karima duduk di antara ketiga abangnya.
“Karima, Daniel dan keluarganya datang ke sini melamar kamu. Abang serahkan jawabannya ke kamu,” ujar Aziz.
“Kamu pikirin baik-baik. Kalau sekiranya ragu, tolak saja lamarannya!” kata Edwin.
“Abang!” bisik Mila istri Edwin. Ia mencubit pinggang suaminya dari belakang agar suaminya diam.
“Karima menerima lamaran Mas Daniel,” kata Karima.
“Alhamdullilah,” ucap Daniel dan keluarganya.
__ADS_1
“Mengenai tanggal pernikahannya.” Pak Dandi belum selesai bicara disela oleh Reni.
“Pa, membicarakan tanggal pernikahannya nanti saja! Sekarang kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin makanannya,” ujar Reni.
“Waduh, kami jadi merepotkan Pak Aziz dan Bu Reni,” kata Pak Dandi.
“Tidak merepotkan, Pak. Hanya makanan sederhana saja,” ujar Aziz.
“Pak-Bu, ayo kita makan!” kata Reni,
Mereka semua beranjak dari tempat duduk. Aziz dan Reni mengajak keluarga Pak Dandi menuju ruang makan. Reni mempersilahkan Pak Dandi dan keluarga untuk mengambil makan.
Karima menghampiri Mia yang sedang mengendong Safina.
“Sin, biar saya yang menggendong Safina.”
Karima mengambil Safina dari gendongan Mia. Melihat mamanya menggendong adik kecil. Rachel mendekati mamanya. Rachel memegang kaki Safina. “Ade,” kata Rachel. Rachel mengajak Safina bermain. Safina senang diajak main oleh Rachel.
Pak Dandi dan Ibu Gita mengambil makanan yang dihidangkan di atas meja makan.
“Kelihatannya enak sekali makanannya,” ujar Pak Dandi.
“Karima yang memasak makanannya,” kata Reni.
“Oh, ya?”
Pak Dandi menoleh ke Ibu Gita. “Bun, kita cicipi masakan calon menantu,” ujar Pak Dandi.
“Wah, nanti Bunda bisa dimasakin setiap hari sama Karima,” kata Ibu Gita.
Daniel menoleh ke Karima yang berdiri di samping meja makan. “Kamu yang masak?” tanya Daniel.
Setelah mengambil makanan mereka kembali ke tempat duduk semula. Mereka memakan makanan mereka. Karima duduk di sebelah Daniel sambil memangku Safina. Rachel berdiri di depan Karima sambil mencolek-colek pipi Safina. Dari tadi Rachel tidak berhenti mengajak main Safina. Safina tertawa ketika diajak main Rachel.
“Kamu tidak makan?” tanya Daniel kepada Karima.
“Tadi sudah makan sambil nyuapin anak-anak,” jawab Karima.
Pak Dandi dan Ibu Gita menikmati makanan mereka.
“Rim, masakan kamu enak. Bunda jadi tidak sabar untuk dimasakin sama kamu setiap hari,” ujar Ibu Gita. Karima hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibu Gita.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan lagi pembicaraan mereka yang tertunda.
“Kami ingin Daniel dan Karima segera menikah. Kalau bisa sebelum bulan puasa mereka sudah menikah,” ujar Pak Dandi.
“Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana kalau setelah bulan puasa?” tanya Aziz.
“Bundanya Daniel sudah tidak sabar untuk punya menantu baru. Katanya mau pamer punya mantu baru pas acara open house nanti,” jawab Pak Dandi.
“Pak Aziz tidak usah khawatir. Semua biaya pernikahan akan kami tanggung. Karima tinggal atur mau nikah dimana, konsepnya mau seperti apa, mau hidangan yang bagaimana. Nanti wedding organizer yang bekerja mewujudkan keinginan Karima dan keluarga,” lanjut Pak Dandi.
Aziz menoleh ke Karima.
“Bagaimana? Kamu siap tidak menikah sebelum bulan puasa?” tanya Aziz.
“Karima terserah Mas Daniel saja,” jawab Karima.
__ADS_1
Lalu Aziz menoleh ke Anton dan Edwin.
“Kalian setuju tidak kalau Karima nikah secepatnya?” tanya Aziz.
“Kalau mau mereka mau membiayai semuanya silahkan saja! Pokoknya kita tidak tidak mau repot!” jawab Anton.
Aziz kembali menghadap ke depan.
“Kata Karima terserah Mas Daniel saja. Kalau kami terserah Karima, karena dia yang akan berumah tangga,” ujar Aziz.
“Alhamdullilah. Kalau begitu secepatnya kami akan mempersiapkan semuanya,” ucap Pak Dandi.
“Kalau Pak Dandi dan Ibu Gita membutuhkan bantuan, saya dan istri siap untuk membantu,” kata Aziz.
“Baiklah. Akan kami pertimbangkan,” jawab Pak Dandi.
Pak Dandi melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
“Sudah malam. Kami permisi pulang,” ujar Pak Dandi.
Pak Dandi dan keluarga beranjak dari tempat duduk. Keluarga Pak Dandi bersalaman dengan keluarga Aziz.
“Kami permisi dulu. Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi.
“Waalaikumsalam,” jawab Aziz dan keluarganya.
Pak Dandi dan keluarga keluar dari rumah Aziz. Aziz mengantar mereka sampai ke depan pintu pagar. Tiba-tiba Karima dan Reni keluar rumah sambil membawa rantang dan bingkisan. Di belakang mereka ada dua orang ART membawa parsel buah dan kotak kue.
Karima mendekati Daniel.
“Mas Daniel, ini untuk Mas Daniel dan keluarga,” kata Karima sambil memberikan rantang kepada Daniel. Daniel mengambil rantang dari Karima.
“Terima kasih, Rima,” ucap Daniel.
Karima mengambil bingkisan dari tangan Reni. Lalu memberikan bingkisan itu kepada Daniel.
“Mas, masih banyak yang harus dibawa,” kata Karima sambil menunjukkan bingkisan yang berada di tangannya.
“Sebentar Mas masukkan dulu ini ke dalam mobil.”
Daniel menyimpan rantang di dalam mobil karena kalau di seimpan di bagasi takut jatuh. Kemudian ia membuka pintu bagasi mobil. Daniel memasukkan bingkisan ke dalam bagasi mobil. ART memberikan parcel buah kepada Daniel.
“Rim, ini juga?” Daniel menunjuk ke parcel buah yang dipegangnya.
“Iya, Mas,” jawab Karima.
Daniel memasukkan parsel ke dalam bagasi. ART yang lain memberikan kotak kue kepada Daniel.
“Banyak sekali,” kata Daniel. Daniel memasukkan kotak kue ke dalam bagasi lalu Daniel menutup bagasi.
“Terima kasih atas bingkisannya, Bu Reni. Banyak sekali,” ucap Ibu Gita.
“Sama-sama, Bu,” jawab Ibu Reni. Ibu Gita dan Pak Dandi masuk ke dalam mobil.
Daniel mendekati Karima. “Besok mau dijemput, nggak?” tanya Daniel.
“Tidak usah! Karima bawa mobil sendiri,” jawab Karima.
__ADS_1
“Ya sudah. Mas pulang, ya.” Daniel membuka pintu mobil lalu ia masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobil. Sebelum ia menjalankan mobilnya Daniel melambaikan tangannya ke pada Karima. Mobil pun berjalan meninggalkan rumah Aziz.