Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
52. Emak Meninggal


__ADS_3

Adrian merangkul bahu istrinya lalu mengusap-usap pangkal lengan istrinya.


“Yang sabar ya, Mia. Mas harap kamu ikhlas menerimanya. Ini semua sudah takdir dari Allah,” bisik Adrian. Mia menjawab dengan mengangguk namun ia masih terus menangis.


“Apa jenazahnya bisa dibawa pulang ke Indonesia?” tanya Mia sambil menangis.


“Pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan membawa jenazah pulang ke negara asal jamaah. Jadi dengan terpaksa emak dikuburkan di sana,” jawab Adrian.


“Mia mau ke sana, mau melihat emak untuk terakhir kali,” kata Mia dengan sesegukan.


“Tidak bisa, Mia. Kamu kehamilan kamu belum mencapai lima bulan, jadi belum boleh naik pesawat dan bepergian jauh. Lagi pula sebentar lagi jenazah emak akan kuburkan,” ujar Adrian.


“Jadi Mia tidak bisa melihat emak untuk terakhir kali?” tanya Mia.


“Tidak bisa, Mia. Kita doakan saja agar emak husnul khotimah,” jawab Adrian.


“Aamiin,” ucap Mia. Lalu Mia pun mulai mendoakan Ibu Titin agar husnul khotimah, diampuni semua dosanya dan dilapangkan kuburnya.


Tiba-tiba terdengar suara Ibu Gita mengucapkan salam, “Assalamualaikum.” Ibu Gita masuk melalui pintu garasi. “Waalaikumsalam,” jawab Mia dan Adrian.


Ibu Gita langsung menghampiri Mia dan memeluk Mia. “Bunda turut berduka cita ya, sayang. Semoga Emak husnul khotimah,” ucap Ibu Gita sambil mengusap punggung Mia.


“Aamiin. Terima kasih, Bunda,” jawab Mia.


Pak Dandi dan Daniel juga datang. Sepertinya semua orang sudah tahu lebih dulu. Hanya dia yang baru diberitahu. Mungkin karena ia sedang hamil sehingga Adrian memberitahunya dengan hati-hati.


“Papah.” Mia mengangkat kedua tangannya ingin dipeluk Pak Dandi.


Pak Dandi menghampiri Mia dan  memeluk Mia. Mia menangis dipelukan papahnya. Ia meluapkan semua rasa kesedihannya kepada papahnya. Pak Dandi mendengarkan semuanya sambil mengusap-usap punggung putrinya.


“Ikhlaskan emak pergi. Emak sudah tenang di sana,” ujar Pak Dandi.


“Iya, Papah,” jawab Mia.


Mia melepas pelukannya.


“Pah, ayo kita sholat gaib,” kata Mia.


“Ayo. Papah wudhu dulu.”

__ADS_1


“Ayo. Kita ambil wudhu dulu, kita sholat gaib untuk menyolatkan jenasah emak,” ujar Pak Dandi kepada istri, anak dan menantunya. Pak Dandi menggulung lengan bajunya lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah semua selesai wudhu mereka melakukan sholat gaib untuk menyolatkan jenasah Ibu Titin yang jauh di Arab Saudi. Pak Dandi yang menjadi imam.


Siang harinya banyak pelayat yang datang ke rumah Adrian untuk mengucapkan belasungkawa kepada Mia. Mereka adalah teman-teman Adrian dan Daniel, rekan bisnis Adrian, karyawan Adiran dan Daniel serta karyawan Pak Dandi. Rumah Adrian juga penuh dengan karangan bunga dari rekan bisnis dan teman-teman Adrian.


Mia hanya duduk di kursi ketika menerima ucapan belasungkawa dari para tamu. Ia tidak sanggup untuk berdiri. Tubuh dan kakinya terasa lemas. Ibu Gita mendekati Mia. “Mia. Makan dulu, ya!” ujar Ibu Gita.


“Nanti dulu, Bun. Mia belum lapar,” jawab Mia.


“Eh, jangan begitu! Kamu harus tetap jaga kesehatanmu, apalagi kamu sedang hamil,” bujuk Ibu Gita.


Mia menoleh ke perutnya. Ia mengusap-usap perutnya yang sudah mulai membuncit. Tadinya ia berharap melahirkan ditemani oleh Ibu Titin, namun ternyata Allah memiliki rencana lain. Allah memanggil Ibu Titin sebelum Mia melahirkan. Air mata Mia kembali berlinang.


“Bunda suapi, ya?” tanya Ibu Gita. Mia menganggukkan kepalanya.


“Sebentar, Bunda ambilkan dulu makanannya.” Ibu Gita menuju ke meja makan untuk mengambilkan makanan untuk Mia.


“Mia sudah makan, belum?” tanya Pak Dandi ketika Ibu Gita sedang mengambilkan makanan untuk Mia.


“Belum. Ini baru Bunda ambilkan makanannya,” jawab Ibu Gita. Setelah selesai mengambil makanan, Ibu Gita membawa makanan itu ke Mia. Ibu Gita duduk di sebelah Mia lalu ia menyuapi Mia. Mia mengunyah makanannya.


Adrian melihat Mia sedang disuapi Ibu Gita, lalu ia menghampiri Mia.


“Tidak apa-apa. Biar Mia disuapi Bunda. Kamu temani tamu saja!” jawab Ibu Gita. Ibu Gita melanjutkan menyuapi Mia.


Ketika menjelang sore masih banyak tamu yang datang. Kebanyakan para tamu baru pulang kerja dan mampir ke rumah Adrian untuk mengucapkan belasungkawa. Setelah sholat isya Adrian mengadakan tahlilan di rumahnya yang dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terdekat.


***


Tak terasa sudah waktunya Ibu Ecin pulang umroh. Mia dan Adrian datang ke bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Ibu Ecin. Di Bandara sudah ada Mulyana dan Eti serta Citra untuk menjemput Ibu Ecin. Mulyana dan Eti menghampiri Mia.


“Mia, Akang turut berduka cita. Semoga Emak husnul khatimah,” ujar Mulyana.


“Terima kasih, Kang. Maafkan Emak kalau Emak punya salah sama Akang, Ceuceu dan Citra,” ucap Mia. Tak terasa air mata Mia kembali mengalir.


“Emak tidak pernah berbuat salah Akang, Ceuceu apalagi Citra. Emak selalu baik kepada kami,” jawab Mulyana.


Citra mendekati Mia. “Teteh, Citra sedih. Emak sudah meninggal. Citra jadi nggak bisa jagain Emak.” Citra memeluk Mia.


“Terima kasih, Citra sudah menjaga Emak. Doakan Emak semoga diampuni segala dosa-dosanya dan dilapangkan kuburnya,” ujar Mia sambil mengusap kepala Citra.

__ADS_1


“Iya, Teh,” jawab Citra.


“Sudahlah, Mia. Jangan bersedih lagi. Ikhlaskan Emak pergi,” ujar Eti sambil mengusap punggung Mia.


“Iya, Ceu,” jawab Mia. Mia menghapus air matanya.


Terdengar suara pemberitahuan kalau pesawat dari Arab Saudi sudah mendarat.


“Tuh, pesawat Enin sudah mendarat,” ujar Mulyana kepada Citra.


“Hore, Enin pulang,” kata Citra dengan senang.


“Ayo, Pah! Kita ke Enin,” kata Citra dengan tidak sabar. Ia menarik-narik tangan Mulyana.


“Tunggu dulu. pesawatnya juga baru mendarat,” ujar Mulyana.


Lima belas menit kemudian terlihatlah rombongan jamaah umroh keluar dari terminal kedatangan. Mulyana, Eti dan Citra menunggu di depan terminal kedatangan. Sedangkan Mia dan Adrian berdiri agak menjauh dari terminal kedatangan. Tak lama kemudian terlihat Ibu Ecin keluar dari terminal kedatangan. Keluarga Ibu Ecin langsung menghampiri Ibu Ecin. Mereka nampak bahagia menyambut kedatangan Ibu Ecin. Mulyana membawakan trolley yang dibawa Ibu Ecin. Barang-barang Ibu Ecin lebih banyak dari jamaah lainnya karena Ibu Ecin membawa barang-barang Ibu Titin. Ibu Ecin menghampiri Mia. Mia langsung memeluk Ibu Ecin. Ia menangis dipelukan Ibu Ecin.


“Ibuuuuu. Emak sudah nggak adaaaa,” kata Mia sambil menangis.


Ibu Ecin mengusap punggung Mia. “Sabar ya, Mia. Semuanya sudah takdir dari Allah,” ujar Ibu Ecin. Mia melepaskan pelukannya.


“Kita pulang sekarang?” tanya Adrian. Mia menjawab dengan mengangguk.


“Ibu naik mobil Mia,” ujar Mia.


“Iya, Ibu naik mobil Mia,” jawab Ibu Ecin.


“Citra mau naik mobil Teteh?” tanya Mia.


“Nggak. Citra mau naik mobil Papah aja,” jawab Citra.


Mulyana berjalan menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobil. Sedangkan yang lainnya menunggu di teras bandara. Adrian menelepon Pak Ratno untuk menjemput ke depan bandara. Lima menit kemudian mobil Adrian datang. Adrian membukakan pintu belakang. Ibu Echin lebih dulu masuk ke dalam mobil.


“Duluan ya, Teh. Sampai ketemu di rumah,” pamit Mia kepada Eti.


“Iya,” jawab Eti.


Kemudian Mia masuk ke dalam mobil. Adrian menutup pintu mobil lalu ia duduk di sebelah supir. Mobil Adrian melaju meninggalkan bandara Soekarno Hatta.

__ADS_1



__ADS_2