
Pak Asep beranjak dari kursi kerjanya dan duduk di sofa bersama Karima dan Daniel. Pak Asep mulai menceritakan mengapa Karima dan Daniel diminta datang ke kantor tersebut. Yarfin mewarisi semua harta yang dimilikinya kepada ketiga anaknya. Semua harta warisan itu berada dalam pantauan Karima sebagai wali anak-anak Yarfin yang sah.
Adapun warisannya yang diwariskan oleh Yarfin adalah rumah yang berada di Pondok Indah berserta dengan isinya. Mobil-mobil pribadi milik Yarfin. Surat-surat berharga yang disimpan di safe deposite box di sebuah bank. Uang yang berada di safe deposite box. Uang yang berada di rekening bank. Uang yang berada di deposito. Gedung yang sekarang ditempatkan sebagai kantor Yarfin. Sebidang tanah di pinggiran kota Jakarta. Dan yang terakhir sebuah perusahaan kontraktor milik Yarfin.
Semua harta yang disebutkan tersebut adalah harta milik Yarfin ketika Yarfin dan Karima masih menikah kecuali rumah di Pondok Indah. Yarfin membeli rumah itu semenjak ia dan Karima bercerai.
“Pak Asep bagaimana caranya saya bisa meneruskan perusahaan milik Bang Yarfin? Sedangkan saya tidak memiliki keahlian untuk mengelola perusahaan kontraktor,” tanya Karima.
Pak Asep tersenyum mendengar pertanyaan Karima.
“Tenang, Bu. Untuk itulah mengapa Pak Daniel saya panggil ke sini. Pak Yarfin menunjuk Pak Daniel sebagai pengelola perusahaan kontraktor milik Pak Yarfin. Karena sekarang ini Pak Yarfin memiliki proyek yang harus segera diselesaikan,” ujar Pak Asep.
Karima menghela nafas. Ia jadi merepotkan Daniel.
“Apa sangsinya jika proyek itu tidak diselesaikan?” tanya Karima.
“Ibu akan dikenakan denda yang cukup besar oleh klien,” jawab Pak Asep.
Lagi-lagi Karima menghela nafas. Ia dihadapkan masalah yang berat. Daniel menoleh ke Karima.
“Sudah, kamu tenang saja. Biar Mas yang menyelesaikan pekerjaan Bung Yarfin,” ujar Daniel.
“Maaf, kalau Rima dan anak-anak jadi merepotkan Mas Daniel,” ucap Karima dengan sedih.
Daniel tersenyum kepada Karima. “Tidak apa-apa. Mas senang bisa membantu kalian,” jawab Daniel.
Pak Asep beranjak dari sofa lalu ia membuka lemari brangkas yang berada di ruang kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam berangkas tersebut.
Pak Asep membawa kotak tersebut dan di taruh di atas meja.
“Ini barang-barang milik Pak Yarfin yang dititipkan kepada saya,” ujar Pask Asep.
Karima membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada sertifikat rumah, BPKB mobil dan motor, kunci mobil dan motor, kunci rumah, kunci safe deposite box serta beberapa buku rekening bank. Karima membuka buku rekening yang ternyata di atas nama Hari, Gathan dan Rachel.
“Ini.” Karima tidak melanjutkan perkataannya.
“Semua rekening bank milik Pak Yarfin atas nama anak-anak Pak Yarfin. Termasuk safe deposite box juga atas nama anak-anak Pak Yarfin,” ujar Pak Asep.
__ADS_1
Karima menitikan air matanya. Selama ini ia sudah salah sangka kepada mantan suaminya. Yarfin selalu mengirim uang dengan jumlah yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Namun, ternyata Yarfin menyimpannya dibeberapa rekening atas nama anak-anaknya.
Karima ingat, pernah suatu malam Yarfin datang sendirian ke rumah mereka tanpa ditemani Winny. Ia datang untuk meminta akte kelahiran ketiga anaknya.
Ketika ditanya untuk apa, Yarfin nenjawab dengan marah. “Udah, tidak usah mau tau urusan orang!” Begitu kata Yarfin. Dan yang paling menjengkelkannya. Yarfin memulangkan akte kelahiran anak-anak mereka sebulan kemudian. Itupun setelah Karima menagih terus menerus ke Yarfin.
Ternyata untuk membuka rekening bank, kata Karima di dalam hati.
“Mengenai uang yang diambil oleh Ibu Winny, kami sedang mengupayakan untuk pengambilan uang tersebut dari rekening Ibu Winny,” ujar Pak Asep.
Karima menyerahkan urusan uang tersebut kepada Pak Asep. Pasti ada cara agar uang itu bisa kembali.
Setelah selesai Karima dan Daniel pamit pulang. Daniel membawa kotak pemberian dari Pak Asep. Karima dan Daniel masuk ke dalam mobil dan mobilpun meluncur meninggalkan kantor pengacara tersebut.
Karima menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Ia memijat kepalanya yang terasa sakit. Daniel menoleh ke Karima.
“Kamu kenapa?” tanya Daniel.
“Kepala Karima pusing mikirin perusahaan milik Bang Yarfin,” jawab Karima.
“Kenapa harus dipikirin? Lebih baik teruskan saja proyeknya. Nanti kalau sudah selesai kamu dan anak-anak akan mendapatkan uang. Kan pihak klien belum sepenuhnya membayar kepada perusahaan Bung Yarfin. Nanti kalau proyeknya selesai baru mereka harus membayar sisa kekurangannya,” ujar Daniel.
“Sekarang kamu jadi tau,” ujar Daniel.
Karima dan Daniel kembali memandang ke depan. Karima melihat ke jalan sambil berpikir. Setelah lama ia menoleh lagi ke Daniel.
“Mas!” panggil Karima.
Daniel menoleh lagi ke Karima. “Kenapa?” tanya Daniel.
“Kalau proyek sudah selesai, apakah perusahaan milik Bang Yarfin bisa dijual?” tanya Karima.
“Bisa,” jawab Daniel.
“Tapi siapa yang mau beli perusahaan?” tanya Karima.
“Kenapa tidak kamu jual ke Mas?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Kan perusahaan Mas Daniel sudah banyak. Untuk apa beli perusahaan lagi?” tanya Karima.
“Mas belum punya perusahaan milik sendiri. Yang Mas kelola selama ini adalah perusahaan milik papa, bukan milik Mas pribadi,” jawab Daniel.
“Mas mau beli perusahaan milik Bang Yarfin?” tanya Karima.
“Tentu saja. Mengapa tidak? Jadi Mas punya perusahaan sendiri,” jawab Daniel.
“Kalau kebanyakan perusahaan yang Mas pegang, nanti Mas kecapean,” kata Karima.
“Tidak apa-apa. Mas tinggal menyimpan orang kepercayaan Mas di setiap perusahaan. Hanya Mas belum menyimpan orang kepercayaan di PT Cipta Kerja Utama. Supaya Mas bisa bertemu dengan kamu setiap hari,” ujar Daniel.
Wajah Karima langsung merona mendengar gombal Daniel.
“Gombal!” kata Karima lalu ia mengalihkan wajahnya ke arah jendela. Ia malu karena wajahnya merona.
“Bener. Kalau tidak percaya tanya sama Pak Min,” ujar Daniel.
“Mas!” Karima melotot ke arah Daniel. Daniel malah tertawa melihat Karima yang melotot.
“Udah, ah. Tidak usah dibicarakan lagi!” kata Karima.
Karima kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Daniel masih menatap Karima.
“Jadi, apakah kamu akan menjual perusahaan milik anak-anak?” tanya Daniel.
Karima menoleh Ke Daniel.
“Kalau perusahaan itu tidak bermasalah Karima mau menjual perusahaan itu. Tapi kalau bermasalah, lebih baik Karima biarkan bangkrut begitu saja," kata Karima.
“Jangan dibuat bangkrut, dong! Kan sayang kalau sudah punya nama dibiarkan bangkrut,” ujar Daniel.
“Serius Mas Daniel mau membeli perusahaan itu?” tanya Karima.
“Iya. Mas akan membelinya dengan harga bagus. Nanti kamu masih tetap memiliki perusahaan itu. Tapi uang hasil penjualannya masuk ke rekening anak-anak. Dan Mas punya perusahaan sendiri yang akan diwariskan kepada anak-anak kita nanti,” jawab Daniel.
“Kalau begitu Karima diskusikan dulu dengan Hari,” kata Karima.
__ADS_1
“Oke. Mas tunggu jawabannya,” ujar Daniel.