
Karima membetulkan letak kerudungnya lalu ia memastikan lagi apakah baju yang ia gunakan sudah rapih. Ia makai pakaian pemberian Daniel. Untung ia membawa kerudung yang cocok untuk pakaian itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Karima berjalan menuju pintu dan melihat dari lubang intip. Daniel sedang berdiri di depan pintu. Karima membuka pintu kamar. Daniel terpesona melihat penampilan Karima. Karima terlihat sangat cantik sekali. Pandangan Daniel tidak bisa lepas dari Karima. Karima langsung memperhatikan penampilannya. Ia takut salah dengan penampilannya.
“Apa ada yang salah, Pak?” tanya Karima.
Mendengar pertanyaan Karima, Daniel langsung tersadar.
“Tidak ada yang salah. Bu Karima pantas memakai baju itu,” jawab Daniel.
“Sudah siap? Kita berangkat sekarang,” ujar Daniel.
“Tunggu sebentar. Saya ambil tas dulu,” jawab Karima.
Karima mengambil tas dan ponselnya. Ia mengganti sandal hotel dengan sepatu. Lalu ia keluar dari kamar.
Daniel dan Karima berjalan menuju ke liff. Daniel menekan tombol liff, pintu liff langsung terbuka. Mereka masuk ke dalam liff. Liff turun menuju ke lantai dasar. Mereka keluar liff dan langsung menuju ke lobby hotel.
Di depan lobby sudah ada sebuah mobil sedan mewah first class di sebelahnya berdiri seorang supir. Ketika Daniel keluar dari lobby supir mobil itu langsung membukakan pintu untuk Daniel dan bellboy membukakan pintu untuk Karima. Karima dan Daniel masuk ke mobil. Setelah menutup pintu supir itu masuk ke dalam mobil dan mobil pun meluncur meninggalkan hotel.
Ketika di dalam mobil tanpa sengaja Karima memperhatikan bajunya yang ternyata senada dengan kemeja batik yang dikenakan Daniel.
Loh kok, bisa sama? tanya Karima di dalam hati.
Daniel menggunakan batik lengan panjang khas baju formil orang Indinesia. Ketampanan Daniel terpancar berkali lipat dari biasanya.
Lima belas menit kemudian Daniel dan Karima sampai di hotel milik teman Pak Dandi. Seorang bellboy membukakan pintu mobil untuk Karima dan Daniel. Mereka disambut oleh karyawan hotel. Mereka di antar menuju ke halaman belakang hotel. Di sana tempat para tamu berkumpul. Daniel mencari pemilik hotel di antara para tamu. Karima mengikuti Daniel dari belakang.
Akhirnya Daniel melihat Encik Ammar dan istrinya Puan Yumna. Mereka sedang menyapa para tamu yang datang. Daniel dan Karima menghampiri mereka.
“Encik Ammar,” sapa Daniel.
“Hei, Daniel! Apa kabar?” Encik Ammar menyalami Daniel. (Pake bahasa Indonesia aja, ya! Deche takut salah ngomong)
“Puan Yumna.” Daniel menyalami Puan Yumna istri Encik Ammar.
Karima hanya berdiri di belakang.
“Dengan siapa kamu datang ke sini?” tanya Encik Ammar.
“Dengan sekretaris saya,” jawab Daniel.
__ADS_1
Daniel menoleh ke Karima.
“Bu Karima!” Daniel memanggil Karima. Karima mendekati Daniel.
“Kenalkan ini Encik dan Puan Yumna. Teman Papa dan Mama saya,” kata Daniel kepada Karima.
Karima menyalami Encik Ammar dan Puan Yumna.
“Dia bukan calon istrimu?” tanya Encik Ammar sambil bercanda.
“Encik bisa saja,” jawab Daniel dengan salah tingkah.
“Kalau benar juga tidak apa-apa. Dia cantik sekali,” ujar Puan Yumna.
Daniel menoleh ke Karima sambil tersenyum.
Setelah menyapa tuan rumah, Daniel dan Karima mencari tempat duduk yang nyaman karena sebentar lagi acara akan dimulai.
Akhirnya acara pun dimulai. Daniel dan Karima mengikuti sampai selesai. Setelah acara selesai para tamu dipersilahkan untuk menyantap makanan sambil dihibur oleh alunan lagu.
Berbagai macam makanan dihidangkan. Karima bingung memilih makanan. Akhirnya ia memilih mengambil seafood karena terlihat menggugah selera. Karima dan Daniel mencari meja yang kosong. Akhirnya mereka mendapatkan meja yang kosong. Ketika Daniel hendak duduk di kursi itu, tiba-tiba Encik Ammar memanggil Daniel agar bergabung dengan Encik Ammar dan teman-temannya.
“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Karima.
Daniel pun menghampiri meja Encik Ammar dan duduk bergabung dengan Encik Ammar. Karima pun duduk sendiri.
Ketika Karima sedang menikmati makanannya seseorang menghampiri mejanya.
“Maaf, bolehkan saya duduk bergabung di sini?” tanya orang itu.
Karima menoleh ke orang itu. Seorang pria tampan sedang berdiri di depan meja, ia membawa piring yang berisi makanan dan segelas air putih.
“Semua meja sudah penuh. Hanya meja Nona yang masih kosong,” kata pria tersebut.
Karima menoleh ke sekelilingnya. Semua meja nampak penuh.
“Silahkan,” jawab Karima.
Pria tersebut duduk di hadapan Karima dan menyimpan piring dan gelasnya di atas meja.
“Kenalkan saya Ashraf.” Pria itu mengulurkan tangannya mengajak Karrima untuk bersalaman.
__ADS_1
“Saya Karima.” Karima hanya mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Pria itu mengerti Karima tidak ingin bersentuhan tangannya dengan lawan jenis.
“Apakah Nona orang Indonesia?” tanya Ashraf.
“Iya. Saya orang Indonesia. Bagaimana anda bisa tau?” tanya Karima.
“Dari logat dan wajah Nona,” jawab Ashraf.
Daniel sedang makan sambil mendengarkan pembicaraan Encik Ammar dan rekan bisnisnya. Tanpa sengaja ia menoleh ke arah meja Karima. Ia melihat Karima sedang makan sambil berbincang-bincang dengan seorang pria. Sesekali Karima tertawa mendengar perkataan pria tersebut.
Siapa pria itu? tanya Daniel di dalam hati.
Daniel sudah menghabiskan makanannya, ia hendak mengambil makanan pencuci mulut. Ketika ia melewati meja Karima, pria tersebut sudah tidak ada. Sepertinya ia sudah pindah ke meja yang lain. Daniel mendekati Karima.
“Bu Karima sudah makan?” tanya Daniel.
“Sudah, Pak,” jawab Karima.
“Sudah ambil dessert?” tanya Daniel.
“Belum, Pak,” jawab Karima.
“Ayo, ambil dessert dulu,” ujar Daniel.
Karima pun berdiri dan berjalan mengikuti Daniel untuk mengambil dessert. Setelah itu mereka kembali ke meja mereka.
Setelah selesai makan Daniel mengajak Karima berjalan-jalan di pinggir pantai. Kebetulan hotel itu berada di pinggir pantai. Mereka melepas sepatunya dan berjalan di atas pasir. Mereka menikmati pemandangan laut dan tiupan angin laut yang sepoi-sepoi.
“Anak-anak pasti akan suka kalau dibawa ke sini,” ujar Daniel sambil memandang lurus ke depan.
Karima menoleh ke Daniel.
“Saya dengar anak-anak mengajak berenang,” lanjut Daniel.
“Kapan Ibu akan membawa mereka berenang?” tanya Daniel.
“Nanti minggu depan kalau Hari tidak ada acara di sekolah,” jawab Karima.
“Oh.” Daniel menanggapi begitu saja.
__ADS_1