
Hari ini adalah hari ke tiga puluh bulan Ramadhan. Anak-anak, menantu dan cucu-cucu Pak Dandi berkumpul di rumah Pak Dandi untuk merayakan malam takbiran.
Daniel dan keluarga kecilnya berangkat siang hari dari rumah mereka.
"Assalamualaikum, " ucap Hari dan Gathan ketika masuk ke dalam. rumah Pak Dandi
Mereka masuk melalui garasi.
"Waalaikumsalam.Eh, ada Den Hari, " jawab Bi Suti.
"Nenek dan Kakek mana, Bi?" tanya Hari.
"Ada di kamar," jawab Bi Suti.
Hari dan Gathan berjalan menuju ke ruang tengah. Namun, di ruang tengah nampak sepi. Hari dan Gathan duduk di kursi sofa menunggu Kakek dan Nenek mereka keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Karima dan Daniel datang menyusul anak-anak mereka. Seperti biasa Rachel digendong oleh Daniel, gadis kecil itu selalu tidur di mobil jika bepergian kemana-mana.
"Kakek dan nenek sedang di kamar," kata Hari.
"Mungkin kakek dan nenek sedang sholat, " ujar Karima.
Daniel menurunkan Rachel di sofa.
'"Ayah mau ambil koper di mobil, " ujar Daniel.
"Abang bantu, Yah, " Hari beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri Daniel.
"Ayo.* Daniel merangkul bahu Hari. Mereka berjalan menuju keluar rumah..
Beberapa menit kemudian Daniel dan Hari datang sambil membawa dua buah koper dan tas dua buah travel bag. Malam ini mereka akan menginap di rumah. Pak Dandi.
Di ruang tengah nampak Karima sedang berbincang-bincang dengan Pak Dandi dan Ibu Gita.
"Eh, ada Bang Hari, " ujar Pak Dandi ketika melihat Hari.
Hari menaruh travel bag di sofa lalu menghampiri Ibu Gita dan Pak Dandi. Ia mencium tangan Pak Dandi dan Ibu Gita.
"Bagaimana puasanya udah bolong, belum?" tanya Pak Dandi.
__ADS_1
"Belum, Kek," jawab Hari.
"Hebat cucu Kakek. Nanti dapat hadiah dari Kakek, " ujar Pak Dandi.
Daniel menghampiri kedua orang tuanya lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
Pak Dandi melihat koper yang dibawa oleh Daniel.
"Jadi menginap di sini?" tanya Pak Dandi.
"Jadi, Pa, " jawab Daniel.
"Nah gitu, dong. Papa kan bisa main sama cucu-cucu," kata Pak Dandi.
"Daniel ke kamar dulu mau menyimpan koper dam tas, " ujar Daniel.
"Ayo, Bang!" kata Daniel.
Hari mengambil kembali tas yang ia simpan di atas sofa lalu ia membawa tas tersebut.
Hari berjalan mengikuti Daniel. Mereka menuju ke kamar tamu. Daniel menyimpan tas dan koper miliknya di kamar tersebut.
Menjelang sore Adrian dan Mia beserta putri mereka datang ke rumah Pak Dandi untuk merayakan malam takbiran bersama-sama.
"Assalamualaikum," ucap Adrian ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang.
"Eh, ada orang jauh," kata Adrian ketika melihat Daniel beserta anak dan istrinya.
"Ade." Rachel memanggil Safina yang berada di gendongan mamanya.
"Kaka, " kata Safina.
Adrian dan Mia menghampiri Pak Dandi dan Ibu Gita. Mereka mencium tangan Pak Dandi dan Ibu Gita. Lalu menyalami Daniel dan Karima. Anak-anak Karima mencium tangan Adrian dan Mia. Rachel mengajak Safina bermain. Adrian duduk di sebelah Daniel.
"Datang jam berapa, Pak?" tanya Adrian.
"Jam dua," jawab Daniel.
__ADS_1
"Gue denger elo mau beli rumah di sebelah dan di belakang rumah Karima," kata Adrian.
"Tau darimana, lu?" tanya Daniel.
"Dari bunda. Bunda cerita sewaktu buka puasa bersama di rumah Bunda. Waktu itu elo sudah pulang," jawab Adrian.
"Baru rencana, gue juga belum nanya ke pemilik rumah, " ujar Daniel.
"Kenapa beli di sana? Kenapa nggak beli di Pondok Indah atau Tanah Kusir?" tanya Adrian.
"Elo kan tau, salah satu perusahaan milik Papa ada, di sana. Belum lagi perusahaan milik anak-anak dekat sana. Jadi gue memutuskan untuk beli rumah di sana. Kebetulan di dekat rimah Karima ada yang mau menjual rumah mereka," jawab Daniel.
"Kan Pondok Indah dan Tanah Kusir juga dekat ke kantor anak-anak dan kantor lu, " ujar Adrian.
Adrian menoleh ke arah Karima. Karima sedang berbincang-bincang dengan Mia.
"Karima." Adrian memanggil Karima.
Karima menoleh ke Adrian.
"Jangan mau dibohongin sama Daniel! Uangnya banyak. dia sanggup membelikan rumah di daerah ini, " ujar Adrian.
Mendengar perkataan Adrian, Karima menoleh ke Daniel. Seolah-olah ia bertanya ada apa.
"Nanti ya, kita bicarakan," kata Daniel. Karima kembali berbicara dengan Mia.
"Jangan ngomong macam-macam, lu! Nanti Karima menyangka gue punya selingkuhan," ujar Daniel
"Salah lu sendiri pelit sama bini, " kata Adrian.
"Gue bukan pelit, anak-anak gue sudah besar. Kalau pindah rumah berarti pindah sekolah. Masalahnya mau tidak mereka pindah sekolah? Nanti kalau gue pindahin sekolahnya tapi mereka nggak mau masuk ke sekolah. Gue yang repot, " ujar Daniel.
"Gaya lu sudah mirip bapak-bapak aja," kata Adrian.
"Iya, lah. Anak gue kan banyak, jadi harus bisa, bersikap seperti seorang ayah. Bukan bersikap seperti Daniel yang masih remaja, " ujar Daniel.
Tak lama kemudian terdengar suara adzan magrib dari mesjid di sekitar rumah Pak Daniel.
"Hore buka!" kata Hari dengan kegirangan.
__ADS_1