Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
69. Sakit Kepala


__ADS_3

Daniel berdiri di depan jendela memandangi pemandanganTangerang Selatan dari ruang kerjanya. Sudah hampir sebulan ia sering berada di kantor iini semenjak kepemilikiannya berpindah tangan ke tangan papanya. Ia harus bekerja keras membenahi kantor ini karena managementnya acak-acakan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!” kata Daniel.


Pintu terbuka Karima berdiri di depan pintu.


“Pak, Pak Umar mau bertemu dengan Bapak,” ujar Karima.


“Suruh dia masuk,” kata Daniel.


Karima mempersilahkan Pak Umar masuk ke ruangan Daniel. Pak Umar masuk ke ruangan Daniel bersama dengan seorang pria yang usianya kira-kira empat puluh tahun.


“Silahkan duduk, Pak Umar,” ujar Daniel.


Pak Umar dan pria itu duduk di sofa. Daniel beranjak dari tempat duduknya lalu duduk di sofa.


“Ada apa, Pak Umar?” tanya Daniel langsung. Ia merasa kalau Pak Umar datang menghadapnya pasti ada yang hendak ia laporkan.


“Begini, Pak. Tadi malam hotel Lestari Ciater dirazia Satpol PP,” kata Pak Umar.


Daniel langsung memejamkan matanya. Ia menahan marah.


“Kenapa sampai dirazia?” tanya Daniel.


“Diduga menjadi tempat prostiituusi dan tempat sarang pegedar obat-obatan terlarang,” jawab Pak Umar.


“Mengapa bisa sampai begitu? Tanya Daniel.


Pak Umar diam tidak bisa menjawab, dia hanya menunduk.


“Dia siapa?” Daniel menujuk ke arah pria yang duduk di sebelah Pak Umar dengan dagunya.


“Dia Edwin manager hotel Lestari Ciater,” jawab Pak Umar.


Daniel langsung memandang tajam ke Edwin.


“Kenapa hotel Lestari Indah sampai dirazia? Selama ini bagaimana cara anda mengelolanya?” tanya Daniel.


Hotel tidak akan tiba-tiba dirazia jika tidak ada laporan dari masyarakat. Daniel curiga selama ini hotel tersebut telah disalah gunakan oleh tamu hotel. Dan pihak management membiarkan saja tanpa ada usaha untuk menegur para tamu


“Hotel itu kelas dua, Pak. Jadi pasti kena razia oleh Satpol PP,” jawab Edwin.


“Saya tau kalau hotel itu kelas dua tapi bukan berarti dibiarkan untuk dipakai hal yang tidak-tidak!” ujar Daniel.


Edwin diam dan menunduk.


“Sekarang kamu saya pecat! Kamu tidak becus mengelola hotel. Kalau kamu dipertahankan, bisa-bisa hotel saya dicabut ijinnya,” ujar Daniel dengan kesal.


“Pak Umar, urus pemecatan dia!” kata Daniel.

__ADS_1


“Baik, Pak,” jawab Pak Umar.


Kemudian Pak Umar dan Edward keluar dari ruang kerja Daniel. Daniel memijat-mijat kepalanya. Kepala Daniel rasanya mau pecah. Perusahaan ini benar-benar menguji kesabarannya. Semua ini terjadi karena pegawainya tidak professional.


Daniel mengambil ponselnya lalu menelepon Pak Dandi. Ia melaporkan semua apa yang terjadi kepada Pak Dandi. Pak Dandi berpikir sejenak.


“Sementara tutup dulu hotelnya. Pecat semua karyawannya. Kita renovasi dulu hotelnya,” ujar Pak Dandi.


“Berarti kita harus mengeluarkan uang yang banyak untuk membayar pesangon. Belum lagi harus merenovasi hotel,” kata Daniel.


“Mau bagaimana lagi? Kalau kita pertahankan mereka, kejadian seperi kemarin pasti terjadi lagi,” ujar Pak Dandi.


“Baik, Pa,” jawab Daniel.


Tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid di sekitar kantor.


“Sudah dulu, Pa. Daniel mau sholat jum’at,” kata Daniel.


“Assalamualaikum.” Daniel mengakhiri percakapannya. Kemudian ia keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Karima.


“Saya mau ke masjid dulu.” Daniel pamit pada Karima.


“Bapak mau makan siang dengan apa? Nanti saya siapkan,” tanya Karima.


“Tidak usah disiapkan! Nanti kita makan di luar,” jawab Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Karima.


***


Karima sedang membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai ia print. Tiba-tiba intercom di mejanya berbunyi. Karima menjawab panggilan intercom itu.


“Ya, Uri,” kata Karima.


“Mbak, ditunggu Pak Daniel di lobby kantor. Katanya mau makan siang di luar,” ujar Uri.


“Baik. Saya segera ke sana,” kata Karima.


Karima mengambil tasnya beranjak menuju ke liff. Beberapa detik kemudian Karima sampai di lantai dasar. Daniel sedang berbicara dengan security di depan kantor. Mobil Daniel sudah siap di depan lobby kantor. Karima menghampiri Daniel. Daniel merasa Karima menghampirinya lalu ia menoleh ke Karima.


“Sudah siap? Ayo kita berangkat,” tanya Daniel.


“Sudah, Pak,” jawab Karima.


Daniel pamit kepada security,” Ayo Pak Gatot. Saya makan siang dulu.”


“Silahkan, Pak,” jawab Pak Gatot.


Daniel dan Karima masuk ke dalam mobil kemudian mobil pun melaju meninggalkan kantor Daniel.


“Mau makan apa?” tanya Daniel.

__ADS_1


“Terserah Bapak,” jawab Karima.


“Kalau bisa di sekitar sini saja. Setelah makan kita ke hotel. Saya mau lihat keadaan hotel. Saya belum pernah ke sana,” ujar Daniel.


“Bagaimana kalau kita makan soto ayam? Di sini ada soto ayam yang enak,” kata Karima.


“Boleh,” jawab Daniel.


“Pak, nanti di depan puter balik,” kata Karima kepada Pak Min.


“Baik, Bu,” jawab Pak Min.


Pak Min menyalakan lampu sein ke kanan dan mobil pun belok ke kanan. Setelah itu Pak Min menyalakan sen ke kiri dan mobil mengarah ke sebelah kiri lalu belok ke sebuah rumah makan soto ayam.


Setelah mobil berhenti Daniel dan Karima turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah makan. Rumah makan terlihat penuh karena jam makan siang. Daniel memilih tempat yang kosong lalu mereka duduk di tempat itu. Seorang pegawai rumah makan menghampiri mereka dan menaruh daftar menu di atas meja.


Daniel mengambil daftar menu tersebut lalu membacanya. Ia memesan soto ayam beserta berbagai macam sate. Karima juga memesan makanan yang sama dengan Daniel. Lalu Karima memberikan daftar pesanan mereka kepada pegawai tadi.


Daniel dan Karima menunggu pesanan mereka datang.


“Hari minggu besok Ibu mau pergi kemana?” tanya Daniel.


“Mau mengantar anak-anak berenang,” jawab Karima.


“Berangkat jam berapa?” tanya Daniel.


“Belum tau. Sesiapnya anak-anak saja,” jawab Karima.


“Oke. Saya ke rumah ibu jam sembilan pagi,” kata Daniel.


Karima langsung bengong mendengar perkataan Daniel. Dia mau mengantar anak-anak berenang tapi kenapa Daniel yang akan menjemput? Daniel tersenyum melihat Karima bengong.


“Bapak mau apa ke rumah saya?” tanya Karima.


“Mau mengantar anak-anak berenang,” jawab Daniel.


“Tidak usah, Pak! Saya bisa mengantar anak-anak. Nanti merepotkan Pak Daniel!” kata Karima.


“Tidak apa-apa. Saya senang mengantar anak-anak,” jawab Daniel.


Seorang pegawai rumah makan datang membawa pesanan mereka. Ia menaruh pesanan di atas meja.


“Terima kasih,” ucap Karima kepada pelayan. Mereka pun menyantap pesanan mereka.


Setelah selesai makan Daniel mengantarkan Karima kembali ke kantor. Mobil Daniel berhenti di depan jalan masuk ke gedung kantor.


“Terima kasih, Pak,” ucap Karima sebelum turun dari mobil.


“Sama-sama, Bu. Sampai ketemu besok minggu,” ujar Daniel.


“Baik, Pak.” Karima turun dari mobil namun Daniel tidak ikut turun. Ia memutuskan untuk pulang. Kepalanya sakit memikirkan hotel.

__ADS_1


***


__ADS_2