
Pak Ratno membelokkan mobil ke sebuah hotel mewah yang berada di kawasan Mega Kuningan. Ia menghentikan mobil di depan lobby hotel. Adrian turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Mia. Mia turun dari mobil lalu mereka berjalan menuju ke lobby hotel. Seorang bellboy membukakan pintu lobby.
“Selamat malam,” ucap bellboy ketika Adrian dan Mia hendak masuk ke dalam lobby hotel.
“Malam,” jawab Adrian. Adrian dan Mia berjalan menuju ke ballroom hotel. Adrian berjalan sambil merangkul pinggul Mia. Ketika mereka berada di depan ballroom terdengar suara musik dari dalam ballroom. Adrian dan Mia masuk ke dalam ballroom. Di dalam ballroom sudah banyak tamu yang hadir sehingga menyulitkan Adrian mencari Pak Dandi dan Ibu Gita.
“Mas, dimana orang tua Pak Daniel?” tanya Mia.
“Mas juga tidak tau, Mia. Banyak tamu yang hadir jadi Mas susah mencarinya,” jawab Adrian. Adrian menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mencari yang punya hajat.
Mereka mencari Pak Dandi dan Ibu Gita di antara para tamu. Hingga akhirnya Mia melihat Daniel yang sedang berbincang-bincang dengan tamu undagan.
“Mas, itu Pak Daniel sedang ngobrol.” Mia menunjuk ke arah Daniel.
“Oh, iya.” Adrian menggandeng tangan Mia lalu mereka berjalan mendekati Daniel.
“Daniel,” panggil Adrian ketika berdiri di dekat Daniel.
“Eh, elu!” Daniel dan Adrian saling berjabat tangan. Daniel melihat Mia yang berdiri di sebelah Adrian.
“Eh, ada Mia. Apa kabar Mia?” sapa Daniel. Daniel dan Mia saling bersalaman tanpa tangan mereka bersentuhan.
“Alhamdullilah, baik,” jawab Mia.
“Dri, dicariin tuh sama nyokap gue. Nyokap gue penasaran sama istri lu,” kata Daniel.
“Bokap nyokap lu dimana? Susah gue carinya,” tanya Adrian.
“Mana, ya? Tadi ada di dekat sini.” Daniel menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan mencari kedua orang tuanya. Akhirnya ia melihat kedua orang tuanya.
“Itu.” Daniel menunjuk ke arah kedua orang tuanya.
“Gue ke sana dulu,” kata Adrian. Adrian menggandeng tangan Mia dan membawanya ke hadapan orang tua Daniel.
Adrian dan Mia sampai di dekat Pak Dandi dan Ibu Gita. Mereka sedang berbincang-bincang dengan seorang tamu.
“Selamat malam, Om Tante,” ucap Adrian. Pak Dandi dan Ibu Gita menoleh ke Adrian.
“Hei, Adrian. Apa kabar?” Pak Dandi berjabat tangan dengan Adrian.
“Alhamdullilah. Baik, Om,” jawab Adrian.
“Maaf, Om dan Tante tidak bisa datang ke pernikahanmu. Tante Gita minta jalan-jalan ke New Zealand,” ucap Pak Dandi.
“Tidak apa-apa, Om. Ada Daniel yang mewakili Om dan Tante,” jawab Adrian.
__ADS_1
“Selamat ulang tahun pernikahan, Om. Semoga selalu langgeng,” ucap Adrian.
“Aamiin. Terima kasih Adrian,” jawab Pak Dandi.
Adrian juga menyalami Ibu Gita. “Selamat ya, Tante. Semoga selalu langgeng,” ucap Adrian.
“Aamiin. Terima kasih Adrian,” jawab Ibu Gita.
“Mana istrimu? Kamu tidak mengajak istrimu?” tanya Ibu Gita.
“Ini, Tan.” Adrian menoleh ke samping. Mia tidak ada di sampingnya.
“Loh. Kemana?” Adrian menoleh ke belakang, Mia sedang berdiri di belakang Adrian.
“Sini, Mia. Salam dulu sama Om Dandi dan Tante Gita,” Adrian merangkul punggung Mia.
“Ini istri Adrian. Namanya Mia.” Adrian memperkenalkan Mia kepada orang tua Daniel.
“Selamat ya, Om.” Mia menyalami Pak Dandi. Pak Dandi kaget ketika melihat Mia. Wajahnya yang tadi sumeringah langsung berubah dan sulit diartikan. Adrian melihat perubahan wajah Pak Dandi.
“Terima kasih,” jawab Pak Dandi.
“Selamat ya, Tante.” Mia menyalami Ibu Gita.
“Terima kasih, sayang.” Ibu Gita merangkul Mia lalu cipika cipiki dengan Mia.
“Hus, jangan ngomong begitu! Memang bukan jodoh kamu,” ujar Ibu Gita. Pak Dandi terus memperhatikan Mia.
“Kalian sudah makan belum?” tanya Tante Gita.
“Belum, Tante. Kami baru datang,” jawab Adrian.
“Kalian makan dulu! Di sana banyak pilihan makanan. Kalian pasti suka,” kata Ibu Gita.
“Iya, Tante,” jawab Adrian.
“Ayo, sayang.” Adrian merangkul pinggang Mia lalu membawa Mia ke tempat makanan disajikan. Pak Dandi memperhatikan Mia dan Adrian dari belakang. Seribu pertanyan muncul di kepalanya. Ibu Gita melihat suaminya yang sedang memperhatikan Mia dan Adrian. Ibu Gita menoleh ke arah Mia dan Adrian lalu kembali lagi menoleh ke suaminya.
“Pah.” Ibu Gita memanggil suaminya dengan lembut. Pak Dandi langsung menoleh ke istrinya.
“Iya, Bun,” jawab Pak Dandi.
“Papah kenapa?” tanya Ibu Gita.
“Papah tidak apa-apa,” jawab Pak Dandi.
__ADS_1
“Kalau ada yang dirasa Papah istirahat dulu,” kata Ibu Gita.
“Papah tidak apa-apa,” jawab Pak Dandi sekali lagi. Para tamu yang baru datang menghampiri mereka. Mereka berbincang-bincang dengan para tamu mereka, sehingga Pak Dandi lupa dengan Mia.
***
Seminggu sudah berlalu. Semenjak pesta itu Pak Dandi tidak ada reaksi apapun. Adrian menganggap kalau Pak Dandi memang tidak perduli dengan keberadaan Mia. Biarkan saja itu akan menjadi dosa Pak Dandi yang melupakan anaknya. Adrian berjanji tidak akan menyia-nyiakan Mia dan ia akan menjaga Mia sebaik mungkin.
Pada suatu hari tidak ada hujan dan tidak ada angin, Adrian dikejutkan dengan kedatangan Pak Dandi.
“Ada Pak Dandi mau ketemu Bapak,” kata Nita melalui intercom.
“Biarkan beliau masuk!” kata Adrian.
“Baik, Pak,” jawab Nita.
Beberapa detik kemudian pintu ruang kerja Adrian terbuka. Nita mempersilakan Pak Dandi masuk ke ruang kerja Adrian.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi ketika masuk ke dalam ruangan Adrian.
“Waalaikumsalam,” jawab Adrian. Adrian langsung beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Pak Dandi. Adrian menjabat tangan Pak Dandi.
“Silahkan duduk, Om,” kata Adrian. Pak Dandi dan Adrian duduk di sofa.
“Sehat, Om?” tanya Adrian.
“Alhamdullilah, Om sehat-sehat saja,” jawab Pak Dandi.
“Om mau minum apa? Teh? Kopi atau minuman yang dingin?” tanya Adrian.
“Teh saja. Tadi Om sudah minum kopi di rumah,” jawab Pak Dandi.
Adrian beranjak dari tempat duduk dan keluar dari ruangannya. Ia menghampiri Nita.
“Nit, tolong buatkan teh manis dua. Gulanya jangan terlalu banyak! Sekalian telepon istri saya. Bilang ke istri saya, bawa makanan yang banyak. Ada Om Dandi datang ke kantor!” kata Adrian.
“Baik, Pak,” jawab Nita. Adrian kembali masuk ke ruang kerja.
“Maaf, Om. Tadi Adrian menyuruh sekretaris untuk membuatkan minum.” Adrian kembali duduk di sofa.
“Om darimana?” tanya Adrian.
“Om dari rumah. Om sudah lama tidak mampir ke kantor kamu, jadi Om mampir dulu ke sini sebelum ke kantor,” jawab Pak Dandi.
“Ya, beginilah kantor Adrian. Dari dulu begini-begini saja,” kata Adrian.
__ADS_1
“Tapi kamu hebat, bisa mempertahankan perusahaan orang tuamu,” puji Pak Dandi.
“Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini. Jadi Adrian harus berusaha mempertahankan,” kata Adrian.