Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
49. Ke Rumah Emak


__ADS_3

Pak Dandi turun dari mobil. Ia berdiri dan memandangi sebuah rumah kecil dan sederhana di depannya. Rumah itu ia tinggalkan sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ibu Gita turun dari mobil berdiri di samping Pak Dandi.


Seorang gadis kecil berseragam SD dengan riang berjalan masuk ke halaman rumah tersebut. Gadis itu sepertinya baru pulang sekolah. Tapi ia langkahnya langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Memandangi Pak Dandi dan Ibu Gita satu persatu.


“Kakek mau ketemu siapa?” tanya Citra.


Pak Dandi tersenyum mendengar Citra memanggilnya kakek. Ia mendekati Citra. Pak Dandi membungkukkan badannya agar bisa dekat dengan Citra.


“Jangan panggil Om dengan sebutan kakek. Om masih muda,” ujar Pak Dandi.


“Iya, Om,” jawab Citra.


“Nama kamu siapa?” tanya Pak Dandi.


“Citra,” jawab Citra.


“Kamu tinggal di sini?” tanya Pak Dandi.


“Bukan. Rumah Citra di sebelah.” Citra menunjuk ke arah rumahnya yang berada di sebelah rumah Ibu Titin.


“Emak ada, nggak?” tanya Pak Dandi.


“Emak ada. Om mau ketemu Emak?” tanya Citra.


“Iya,” jawab Pak Dandi.


“Bilang sama Emak, ada Om Dandi di luar,” ujar Pak Dandi.


“Iya, Om,” jawab Citra.


Citra berjalan menuju ke pintu rumah Ibu Titin.


“Assalamualaikum, Mak,” kata Citra dengan suara yang keras.


“Waalaikumsalam.” Terdengar suara Emak dari dalam rumah membalas salam Citra. Ibu Titin membuka pintu rumah.


“Eh, Citra. Sudah pulang?” tanya Emak.


“Sudah, Mak.” Citra mencium tangan Ibu Titin.


“Ada tamu tuh, Mak,” kata Citra menunjuk ke luar halaman rumah Ibu Titin. Ibu Titin melihat ke arah yang ditunjuk oleh Citra. Ia memandang Pak Dandi dan Ibu Gita dengan kening berkerut. Pak Dandi dan Ibu Gita tersenyum melihat Ibu Titin. Ia tidak mengenali wajah Pak Dandi karena sudah lama tidak bertemu dengan Pak Dandi.


“Siapa?” tanya Ibu Titin ke Citra.

__ADS_1


“Namanya Om Dandi,” jawab Citra.


“Om Dandi?” Ibu Titin mengerutkan keningnya. Ibu Titin memandang lagi ke arah Pak Dandi dan Ibu Gita. Pak Dandi mengajak Ibu Gita menghampiri Ibu Titin.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Dandi.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Titin.


“Mak, maafkan Dandi.” Pak Dandi langsung bersimpuh di kaki Ibu Titin. Ia memegang tangan Ibu Titin serta mencium tangan Ibu Titin sambil menangis.


“Dandi sudah ingkar janji sama Emak dan bapak. Dandi sudah meninggalkan Erin dan menelantarkan Mia,” kata Pak Dandi sambil menangis.


“Alhamdullilah, ternyata kamu masih hidup,” ucap Ibu Titin sambil menepuk bahu sebelah kiri Pak Dandi.


“Gara-gara Dandi, Erin meninggal ketika melahirkan,” kata Pak Dandi sambil menangis.


“Dandi. Itu semua bukan salahmu. Itu semua sudah takdir Erin, usianya hanya sampai di situ,” ujar Ibu Titin.


“Mia hidup terlantar karena Dandi,” kata Pak Dandi yang masih saja menangis.


“Kamu sudah bertemu Mia?” tanya Ibu Titin.


“Sudah, Mak. Dia tumbuh menjadi anak yang cantik dan soleha,” jawab Pak Dandi.


“Sudahlah. Tidak ada yang harus disesali. Semua yang berlalu biarkan berlalu, tak perlu disesali lagi,” ujar Ibu Titin dengan berbesar hati. Tidak ada gunanya ia marah pada menantunya. Hal itu tidak akan membuat Erin hidup kembali.


Ibu Titin memegang lengan Pak Dandi. “Ayo bangun! Nanti orang mengira terjadi apa-apa di sini,” ujar Ibu Titin. Pak Dandi pun berdiri.


“Ini istrimu?” tanya Ibu Titin menunjuk ke Ibu Gita.


“Iya, Mak,” jawab Pak Dandi. Ibu Gita mencium tangan Ibu Titin. “Saya Gita, Mak.” Ibu Gita memperkenalkan diri.


“Ayo, kita masuk ke dalam. Tidak baik bicara di depan pintu,” ujar Ibu Titin. Ibu Titin masuk ke dalam rumah. Citra mengikuti Ibu Titin. Pak Dandi dan Ibu Gita mengikuti dari belakang.


“Silahkan duduk. Rumah Emak dari dulu begini-begini saja,” ujar Ibu Titin. Pak Dandi dan Ibu Gita duduk di kursi tamu yang sudah usang ditelan jaman.


“Sebentar Emak buatkan minum dulu,” ujar Ibu Titin.


“Tidak usah repot, Mak,” kata Ibu Gita.


“Tidak apa-apa, cuma teh saja,” ujar Ibu Titin. Ibu Titin pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Citra ikut ke dapur dengan Ibu Titin.


Pak Dandi memperhatikan sekeliling rumah Ibu Titin. Suasananya masih tetap seperti dulu. Foto pernikahannya bersama Erin masih tetap menempel di dinding. Ada juga foto Ibu Titin bertiga bersama dengan suaminya dan seorang bayi. Pak Dandi belum pernah melihat foto ini. Sepertinya bayi itu adalah Mia karena di foto itu Ibu Titin dan suaminya sudah terlihat tua.

__ADS_1


Air mata Pak Dandi menggenang di pelupuk matanya. Ia sedih melihat foto tersebut. Biasanya seorang bayi berfoto bersama dengan kedua orang tuanya. Tetapi Mia hanya berfoto bersama dengan kakek dan neneknya karena hanya mereka orang tua yang ia punya. Kalau saja saat itu ia sanggup memberi pengertian kepada orang tuanya dan sanggup berterus terang kepada istrinya kejadiannya tidak akan seperti ini.


Pak Dandi menghela nafas. Ibu Gita menoleh ke suaminya yang sedang bersedih dan menyesal. “Pah.” Ibu Gita memegang tangan suaminya untuk memberi kekuatan suaminya. Pak Dandi tersenyum kepada Ibu Gita seperti mengatakan kalau ia baik-baik saja.


Pak Dandi menelepon supirnya. “Pak Eko, bawa ke sini bingkisan yang ada di bagasi!”.


“Baik, Pak,” jawab Pak Eko.


Ibu Titin datang dari dapur sambil membawa dua buah cangkir teh lalu diletakkan di atas meja.


“Emak tidak punya apa-apa. Hanya punya teh saja,” ujar Ibu Titin.


“Tidak apa-apa, Mak,” jawab Pak Dandi.


Pak Eko datang membawa parsel buah yang ukurannya besar. “Pak, ini parcelnya mau ditaruh mana?” tanya Pak Eko.


“Taruh di dekat meja tengah!” jawab Pak Dandi. Pak Eko masuk ke dalam rumah lalu menaruh parcel di dekat meja tengah. Lalu Pak Eko kembali ke mobil.


“Mak, parselnya besar sekali,” bisik Citra.


“Iya,” jawab Ibu Titin.


“Parselnya besar sekali. Emak kan hanya sendiri di rumah,” ujar Ibu Titin.


“Tidak apa-apa, Mak. Lagipula kan ada Citra,” jawab Ibu Gita.


“Citra disuruh Mia untuk menengok Emak setiap hari. Setelah pulang sekolah Citra selalu mampir dulu ke rumah Emak untuk melihat keadaan Emak,” ujar Ibu Titin.


Pak Eko datang kembali dengan membawa plastik besar yang berisi dus kue yang besar. Serta beberapa tas kertas yang bertuliskan label baju musilm yang cukup terkenal di kalangan orang-orang menengah ke atas.


“Taruh di dalam, Pak!” kata Ibu Gita. Pak Eko membawa bingkisan itu ke dalam rumah Ibu Titin dan menaruhnya di atas kursi tengah.


“Apa itu, Dan?” tanya Ibu Titin yang terheran-heran melihat bingkisan yang begitu banyaknya.


“Itu bingkisan untuk Emak dari Gita,” jawab Pak Dandi.


“Masih ada lagi kan, Pak?” tanya Ibu Gita.


“Iya, Bu. Masih banyak,” jawab Pak Eko. Pak Eko kembali ke mobil.


“Haduh. Emak jadi merepotkan Gita,” ujar Ibu Titin.


“Tidak apa-apa, Mak,” jawab Ibu Gita.

__ADS_1


__ADS_2