Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
97. Ahli Waris


__ADS_3

Karima diam sejenak. Ia berpikir panggilan apa yang pantas untuk Daniel. Karima teringat Mia memanggil Daniel dengan sebutan Mas Daniel. Jadi ia mengikuti Mia saja.


“Ya, Mas,” jawab Karima.


Senyum Daniel mengembang ketika Karima memanggilnya Mas. Walaupun dia lebih muda dari Karima tapi dengan  dipanggil Mas oleh Karima, ia merasa dihargai sebagai calon suami Karima.


Tiba-tiba datang seorang karyawan restaurant membawa pesanan mereka. Karyawan itu menaruh makanan di atas meja.


“Terima kasih,” ucap Karima kepada karyawan tersebut. Lalu karyawan itu pergi meninggalkan meja mereka. Mereka pun menyantap makanan mereka.


Setelah selesai makan Daniel mengantarkan Karima kembali ke kantor. Mobil Daniel berhenti di depan kantor.


“Nanti kalau sudah jam lima langsung pulang! Pekerjaan yang belum selesai diteruskan besok lagi,” ujar Daniel.


“Baik, Mas,” jawab Karima.


“Assalamualaikum.” Karima turun dari mobil.


“Waalaikumsalam,” jawab Daniel.


Karima berjalan masuk ke halaman kantor. Daniel memperhatikan dari dalam mobil. Setelah Karima masuk ke dalam gedung kantor, Daniel baru meninggalkan kantornya. Daniel tidak kembali ke kantor karena ia masih ada urusan lain.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit. Karima bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba ponselnya berdering. Karima mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Tertera sebuah nomor yang tidak dikenal meneleponnya.


Nomor siapa ini? tanya Karima di dalam hati.


Angkat jangan, ya?


Karima ragu untuk menjawab telepon tersebut. Karima meletakkan ponselnya dan membiarkan telepon itu terus berdering. Akhirnya ponselnya berhenti berdering. Karima pun merasa lega.


Setelah beberapa menit ponselnya kembali berdering. Masih dari nomor yang sama. Terpaksa Karima menjawab panggilan tersebut. Ia takut ada berita penting.


“Hallo,” sapa Karima.


“Selamat sore, Bu. Apakah Ibu adalah Ibu Karima?” tanya si penelepon.


“Iya, betul,” jawab Karima.


“Kenalkan saya Asep Supandi. Saya pengacara Pak Yarfin,” ujar Pak Asep.


“Iya, ada apa?” tanya Karima.


“Apakah Ibu besok bisa datang ke kantor saya?” tanya Pak Asep.

__ADS_1


“Ada yang harus saya sampaikan mengenai warisan Pak Yarfin untuk anak-anak Pak Yarfin,” lanjut Pak Asep.


Karima menghela napas. Dia enggan berurusan dengan warisan Yarfin. Namun, demi hak anak-anaknya Karima terpaksa akan datang ke pengacara Yarfin.


“Baiklah, saya akan datang,” ujar Karima.


“Jam berapa saya harus datang ke kantor Bapak?” tanya Karima.


“Besok pagi bisa?” tanya Pak Asep.


“Bisa,” jawab Karima.


“Nanti saya kirim lokasi kantor saya,” kata Pak Asep.


“Satu lagi pesan dari Pak Yarfin. Ibu harus datang bersama dengan calon suami Ibu yang bernama Pak Daniel!” ujar Pak Asep.


“Mengapa calon suami saya dibawa-bawa? Apa hubunganya?” tanya Karima.


“Ada hubungannya, Bu. Nanti Ibu Karima akan tau sendiri,” jawab Pak Assep.


“Baiklah. Saya akan datang bersama dengan calon suami saya,” jawab Karima.


“Baiklah. Saya tunggu kedatangan Ibu. Selamat sore.” Pak Asep mengakhiri pembicaraannya.


***


Karima menaruh tas selempang dan tas kain di atas meja. Hari ini ia ada janji dengan Daniel untuk pergi ke pengacara Asep Supandi. Tadi malam Karima menelepon Daniel dan mengatakan semua yang dikatakan oleh Pak Asep. Daniel bersedia untuk datang. Bahkan walaupun ia tidak diminta untuk datang, ia tetap akan datang untuk menemani Karima. Karena ia tahu Karima kurang mengerti mengenai hukum.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya. Karima mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Di layar ponselnya tertulis Daniel calling. Ia menjawab telepon dari Daniel.


“Assalamualaikum,” ucap Karima.


“Waalaikumsalam. Kamu sekarang dimana?” tanya Daniel.


“Sudah sampai di kantor,” jawab Karima.


“Mas baru keluar dari jalan tol. Sebentar lagi sampai di kantor. Kamu tunggu di lobby, ya! Biar kita langsung pergi,” ujar Daniel.


“Baik, Mas. Karima tunggu Mas Daniel di lobby,” jawab Karima.


“Sudah dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Daniel. Daniel mematikan ponselnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Karima. Karima mengambil tas selempang dan tas kain lalu ia beranjak menuju liff.


Ketika sampai di lantai dasar, Karima langsung keluar dari liff. Ia berjalan menuju ke lobby kantor. Ia melihat mobil Daniel memasuki halaman kantor. Karima langsung menghampiri mobil Daniel. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Karima duduk di sebelah Daniel.

__ADS_1


“Pak, langsung ke jalan Fatmawati!” kata Daniel.


“Baik, Pak,” jawab Pak Min. Mobilpun keluar dari halaman kantor.


Daniel memandangi Karima sambil tersenyum. Wanita itu selalu saja terlihat cantik di matanya. Tapi penampilannya hari ini kelihatan berbeda. Kalau dilihat sepintas penampilan Karima sama saja seperti hari-hari biasa. Tapi ini terlihat berbeda, dimana perbedaannya Daniel juga tidak tau.


“Kamu cantik sekali hari ini,” puji Daniel. Wajah Karima merona dan ia pun tersipu malu.


“Kamu sudah sarapan belum?” tanya Daniel.


“Sudah,” jawab Karima.


Tiba-tiba Karima teringat sesuatu. “Oh, iya. Hampir Rima lupa.” Karima memberikan tas kain kepada Daniel.


“Apa, ini?” Daniel melihat isi tas kain. Di dalam tas tersebut ada kotak makan dan tumbler.


“Itu french toast. Kebetulan hari ini Hari dan Gathan bekal french toast, jadi Rima sekalian buatkan french toast untuk Mas Daniel,” jawab Karima.


Daniel mengeluarkan kotak makan dari dalam tas lalu membuka kotak makan tersebut. Ia memakan french toast. Daniel mengunyah makanannya lalu memberi tanda jempol kepada Karima. Sebagai tanda rotinya yang ia makan sangat enak. Ia memakan roti itu sampai habis.


“Ini apa?” Daniel menunjuk ke tumbler yang berada di dalam tas.


“Itu kopi,” jawab Karima.


“Kebetulan Mas belum minum kopi,” ujar Daniel.


Daniel membuka tumbler dan meminum kopi buatan Karima.


“Kopi buatan kamu memang enak,” puji Daniel.


Setelah Daniel menghabiskan semua makanan dan minumannya, Karima memasukkan kembali kotak makan dan tumbler ke dalam tas kain.


Akhirnya mereka sampai di kantor pengacara Asep Supandi. Pak Min memarkirkan mobil di depan kantor pengacara. Karima dan Daniel turun dari mobil. Mereka langsung masuk ke dalam kantor pengacara tersebut.


Seorang resepsionis menerima kedatangan mereka dan mengantarkan ke ruangan Asep Sopandi. Resepsionis itu mengetuk pintu ruang kerja Pak Asep.


“Masuk.” Terdengar suara dari dalam ruanga tersebut.


Resepsionis membuka ruangan itu.


“Pak, Ibu Karima dan Pak Daniel sudah datang,” kata resepsionis itu.


“Suruh mereka masuk!” ujar Pak Asep. Karima dan Daniel masuk ke ruangan Pak Asep.


“Silahkan duduk!” kata Pak Asep. Mereka duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2