Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
55. Safina Miadri Adriansyah


__ADS_3

Sejam kemudian suster keluar dari ruang operasi dengan menggendong seorang bayi. Di belakang suster berdiri seorang dokter laki-laki. Dia adalah dokter anak yang bertugas untuk memeriksa bayi Mia yang baru lahir.


“Keluarga Ibu Mia,” panggil suster.


Semua orang yang sedang menunggu Mia langsung berdiri. Adrian menghampiri suster.


“Saya suami Ibu Mia,” kata Adrian.


“Ini bayi Ibu Mia. Bayinya perempuan.” Suster memberikan bayi itu kepada Adrian.


“Alhamdullilah,” ucap Adrian. Ia mengendong putrinya. Semua orang menghampiri ingin melihat wajah bayi Mia.


“Iiihhh lucunya.” Ibu Gita mengusap-usap pipi bayi.


“Hidungnya kayak Papa,” sahut Daniel.


“Iya, dong. Kan Papa, kakeknya,” jawab Pak Dandi dengan bangga.


“Adrian nggak kebagian apa-apa.” Daniel mengejek Adrian. “Hus, nggak boleh ngomong begitu!” seru Ibu Gita.


“Dia baru lahir belum terlihat mukanya mirip siapa,” kata Ibu Gita.


Adrian diam saja, ia tidak meladeni ejekan Daniel. Semenjak Daniel tau kalau dia adalah kakaknya Mia, ia sering sekali mengganggu Adrian. Sekarang ini yang ia cemaskan adalah istrinya.


“Bagaimana dengan keadaan istri saya?” tanya Adrian dengan cemas.


“Ibu Mia dalam keadaan selamat dan sehat. Sekarang masih di ruang operasi. Bapak bisa menemui Ibu Mia kalau sudah dipindahkan ke ruang pemulihan,” jawab suster.


Adrian memandangi putrinya. Wajahnya cantik seperti Mia. Ia mengadzani putrinya setelah itu ia kembalikan kepada suster untuk dibersihkan dan diperiksa oleh dokter anak. Adrian duduk kembali menunggu Mia keluar dari ruang operasi.


Dua jam kemudian Mia keluar dari ruang pemulihan. Ia masih dalam keadaan berbaring diatas tempat tidur. Semua orang bernafas lega ketika melihat Mia dalam keadaan baik-baik saja. Mia dibawa ke ruang rawat inap. Semua orang mengikutinya dari belakang. Sesampai di dalam kamar semua orang mendekati Mia.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Pak Dandi. Ia mengusap kepala putrinya.


“Alhamdullilah Mia baik-baik saja, Pah,” jawab Mia.


“Syukurlah. Tadi Papah khawatir dengan keadaanmu. Kata Adrian kamu menahan rasa sakit dari kemarin sore,” ujar Pak Dandi.

__ADS_1


“Tapi sekarang sudah tidak sakit lagi, kan? Bayinya sudah keluar,” tanya Ibu Gita.


“Iya, Bun. Rasanya lega sekali,” jawab Mia.


“Nama bayinya siapa?” tanya Ibu Gita.


“Tanya ke Mas Adrian. Mas Adrian yang bertugas memberikan nama bayi,” jawab Mia.


Adrian meghampiri tempat tidur Mia.


“Namanya Safina Miadri Adriansyah,” kata Adrian.


“Panggilannya siapa? Sapi atau Fina?” tanya Daniel. Ibu Gita langsung memukul lengan Daniel.


“Heh! Bayi cantik begitu dipanggil sapi,” sahut Ibu Gita.


“Habis panggilannya apa, dong?” tanya Daniel dengan polos.


“Panggilannya Fina,” jawab Adrian.


“Bayinya mau minum asi,” kata suster. Suster mendorong box bayi mendekati tempat tidur Mia.


“Ibu pusing, nggak?” tanya suster.


“Nggak, Sus,” jawab Mia.


Suster menutup tirai pembatas lalu perlahan menaikkan tempat tidur sedikit demi sedikit agar Mia bisa duduk.


“Ibu belajar memberi asi, ya!” ujar suster. Mia mengangguk.


Lalu suster memberikan bayi kepada Mia. Dengan hati-hati Mia menggendong bayinya. Ia membuka kancing bajunya lalu menyusui anaknya. Bayi itu mencari susu lalu menyedot asi perlahan-lahan.


“Bisa, kan? Saya tinggal, ya,” kata suster. Suster meninggalkan kamar Mia.


Adrian mendekati Mia yang sedang menyusui anaknya. “Keluar nggak asinya?” tanya Adrian.


“Tuh, dia lagi nyedot.” Mia menunjuk ke bibir bayi yang mungil.

__ADS_1


Ibu Gita mendekati Mia. “Makan yang banyak! Biar banyak asinya,” kata Ibu Gita.


“Iya, Bun,” jawab Mia.


“Tadi Bunda menyuruh bibi untuk memasak sayur daun katuk untuk Mia. Biar asinya banyak. Nanti kalau sudah matang diantar ke sini,” kata Ibu Gita.


“Iya. Terima kasih, Bun,” jawab Mia.


***


Menjelang malam semua orang pulang ke rumah. Tinggallah Adrian, Mia dan bayi mereka yang berada di kamar rawat inap. Safina sedang tidur dengan nyenyak di box bayinya. Adrian tidur-tiduran di sofa sambil menonton televisi. Mata Mia mulai mengantuk tapi perutnya terasa lapar sekali.


“Mas!” Mia memanggil Adrian. Adrian mendengar Mia memanggilnya lalu menoleh ke arah Mia.


“Kenapa?” tanya Adrian.


“Mia lapar,” jawab Mia.


Adrian langsung bangun dari sofa dan mendekati Mia.


“Mau makan apa?” tanya Adrian.


“Mau mie goreng,” jawab Mia.


“Boleh. Tapi jangan pakai pedes, ya!” ujar Adrian.


“Nggak enak, dong.” Wajah Mia langsung cemberut tidak boleh makan yang pedes-pedes. Tadi semua orang makan malam dengan nasi Padang. Hanya dia yang tidak makan nasi Padang. Ia makan makanan dari rumah sakit yaitu nasi tim. Yang tampangnya menarik tapi rasanya anyep. Untung supir Ibu Gita datang membawa sayur daun katuk. Rasa sayur daun katuk lebih enak dibandingkan dengan nasi tim karena bibi memasaknya dengan menggunakan bumbu dapur yang banyak.


“Sabar. Demi anak kita, jangan makan yang pedes-pedes dulu,” ujar Adrian sambil mengusap rambut Mia.


“Iya, deh,” jawab Mia.


“Mas tinggal dulu ya. Jaga bayi kita baik-baik!” kata Adrian.


“Iya, Mas,” jawab Adrian. Adrian pun meninggalkan kamar Mia.


__ADS_1


__ADS_2