Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
65. Berbelanja


__ADS_3

Daniel dan Karima sedang menikmati makan siang mereka di dining room hotel. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir bibir mereka berdua, mereka hanya menikmati makan siang mereka yang sudah telat.


Tiba-tiba ponsel Karima berdering. Karima mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Ada video call dari Hari. Karima menjawab video call Hari.


“Assalamualaikum,” ucap Karima.


“Mama.” Terdengar suara teriakan dari anak-anak Karima.


“Eh. Kok salam Mama belum dijawab?” tanya Karima.


“Waalaikumsalam,” jawab anak-anak Karima dengan serempak.


“Mama lagi apa?” tanya Gathan.


“Mama lagi makan,” jawab Karima.


“Makan sama apa?” tanya Gathan.


“Sama ayam.” Karima mengarahkan ponselnya ke piringnya, memperlihatkan makan siangnya kepada anak-anaknya.


“Abang juga makan sama ayam,” kata Gathan.


Anak-anak Karima sibuk bercerita apa yang mereka lakukan ketika ibu mereka pergi. Hari menceritakan kegiatannya selama di sekolah. Karima mendengarkan celotehan anak-anaknya sambil menikmati makan siangnya. Sedangkan Daniel memperhatikan Karima sambil makan. Daniel tertawa ketika mendengar celotehan lucu dari anak-anak Karima.


“Sudah ya, neleponnya. Nanti malam disambung lagi,” ujar Karima.


“Iya, Ma,” jawab anak-anak Karima.


“Assalamualaikum.” Karima mengakhiri video callnya. Ia melanjutkan makan.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Hari ini mereka tidak ada kegiatan apa-apa. Besok siang mereka baru pergi ke acara pembukaan hotel milik teman Pak Dandi.


Sore hari setelah sholat ashar Daniel mengajak Karima berjalan-jalan mengelilingi kota Penang. Mereka pergi dengan menggunakan mobil tour milik hotel. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Penang Hill. Daniel mengajak Karima menuju ke sebuah bukit dengan naik kereta. Di atas bukit mereka menikmati pemandangan alam di sore hari. Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.

__ADS_1


Setelah dari dari Penang Hill Daniel mengajak Karima menuju ke sebuah mall mewah yang berada di pinggir laut. Daniel mengajak Karima ke sebuah toko mainan. Karima berpikir Daniel akan membelikan oleh-oleh untuk keponakannya. Ternyata dugaan Karima meleset.


“Saya mau membeli oleh-oleh untuk anak-anak Bu Karima. Tapi saya tidak tau seperti apa mainan kesukaan mereka,” ujar Daniel.


“Tidak usah, Pak!” jawab Kairma.


“Tidak apa-apa. Ini sebagai ucapan tanda terima kasih saya karena mereka telah mengijinkan ibu mereka pergi menemani saya,” ujar Daniel.


Terpaksa Karima mengikuti perintah Daniel. Karima mencari mainan yang disukai anaknya. Ia memilih mainan yang harganya murah. Daniel memperhatikan Karima dari jauh. Ia melihat Karima mencari mainan yang harganya murah. Ia langsung mendekati Karima.


“Cari mainannya yang bagus, jangan yang murah! jangan bikin malu saya di depan anak-anak Ibu!” bisik Daniel. Karima langsung tertegun mendengarnya.


“Baik, Pak,” jawab Karima. Karima menyimpan kembali mainan itu dan mencari mainan yang sama dengan harga yang lumayan.


Karima membawa mainan yang ia pilih ke kasir. Daniel membayar semua mainan tersebut. Karima kaget ketika mendengar jumlah nominalnya. Ia menghitung ke rupiah, hasilnya fantastis. Bahkan mantan suaminya belum pernah membelikan mainan untuk anak-anak mereka dengan jumlah nominal sebesar itu.


Setelah dari toko mainan Daniel masih berkeliling di mall tersebut.


“Tidak, Pak,” jawab Karima.


Daniel langsung menoleh ke Karima. “Belilah yang Ibu inginkan! Nanti saya yang bayar. Sebagai rasa terima kasih saya karena Ibu sudah menemani saya,” ujar Daniel.


“Tidak usah, Pak. Memang sudah tugas saya untuk mendampingi Bapak,” jawab Karima.


Daniel menghela napas mendengarnya. Wanita yang berjalan di sampingnya memang seorang wanita yang mempunyai prinsip, bukan wanita yang gampangan. Jika wanita lain yang ditawari oleh Daniel mungkin akan membeli semua barang-barang yang ada di mall tersebut.


Akhirnya sampailah mereka sebuah butik busana muslim. Daniel memperhatikan baju yang dipakai mannequin butik tersebut.


“Ibu suka baju itu, nggak?” Daniel menunjuk ke mannequin. Karima menoleh ke arah Daniel tunjuk. Ia tertegun melihat baju muslim yang terlihat sederhana namun terkesan mewah. Ia diam tidak menjawab apa-apa.


“Baju itu cocok jika dipakai sama Bu Karima,” ujar Daniel.


“Tidak usah, Pak. Saya tidak ingin beli apa-apa,” jawab Karima.

__ADS_1


Tapi Daniel tidak mengindahkan perkataan Karima. Ia langsung berjalan masuk toko tersebut. Tanpa basa basi Daniel menyuruh karyawan toko itu mengambilkan baju seperti yang digunakan mannequin. Karyawan toko langsung mengambilkan baju yang ditunjuk Daniel lalu diberikan kepada Daniel. Daniel memberikan baju tersebut kepada Karima.


“Cobalah!” ujar Daniel.


“Tapi, Pak.” Karima tidak melanjutkan perkataannya.


“Coba dulu! Saya mau lihat cocok tidak kalau dipakai sama Bu Karima,” ujar Daniel.


Dengan terpaksa Karima mengikuti permintaan bosnya. Ia membawa pakaian tersebut ke ruang ganti. Tak lama kemudian ia keluar dengan menggunakan baju tersebut. Daniel memandanginya dari atas sampai bawah.


“Cocokkan kalau dipakai Ibu,” ujar Daniel.


“Atau Ibu mau model yang lain?” tanya Daniel.


“Yang ini saja, Pak,” jawab Karima.


Kalau ia memilih model yang lain ia takut harganya lebih mahal. Tadi ia melihat harga yang menempel di baju tersebut. Harganya cukup mahal jika dihitung ke rupiah.


Karima mengganti baju kembali. Ia memberikan baju itu kepada karyawan toko. Daniel membayar baju tersebut.


“Terima kasih, Pak Daniel,” ucap Karima setelah keluar dari butik tersebut.


“Sama-sama, Bu,” jawab Daniel.


***


Pembaca yang budiman,


Mampir, yuk ke karya Deche yang berjudul Papa Untuk Bayiku!


Deche membuat novel itu untuk ikut lomba.


__ADS_1


__ADS_2