
“Saya pamit pulang.” Daniel pamit pada Karima.
“Terima kasih sudah mengajak anak-anak jalan-jalan dan main,” ucap Karima.
“Sama-sama, Bu,” jawab Daniel.
“Besok saya jemput jam berapa?” tanya Daniel.
“Terserah Pak Daniel. Pak Daniel bisa jemput jam berapa?” jawab Karima.
“Enak kalau berenang pagi-pagi. Saya jemput jam setengah sembilan, ya?” ujar Daniel.
“Baik, Pak,” jawab Karima.
“Saya pulang dulu. Assalamualaikum,” ucap Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab Karima.
Daniel keluar dari rumah Karima. Karima mengantar Daniel sampai depan pagar. Daniel masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya. Sebelum ia menjalankan mobilnya Daniel membuka kaca jendela.
“Dah.” Daniel melambaikan tangannya ke Karima lalu menjalankan mobilnya. Mobil Daniel meluncur meninggalkan rumah Karima.
***
Daniel memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Ia melihat mobil Adrian terparkir di halaman rumahnya. Ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah melalui garasi.
“Assalamualaikum,” ucap Daniel.
Semua orang yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arah Daniel.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Daniel menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah. Ia mencium tangan Pak Dandi dan Ibu Gita. Lalu ia mendekati Safina yang sedang di gendong Ibu Gita.
“Safina. Om kangen sama Safina.” Daniel mencium-cium pipi Safina. Safina tertawa kegelian karena dicium-cium Daniel. Daniel menggendong Safina lalu ia duduk di sebelah Mia.
“Bagaimana Daniel? Sudah ketemu sama Pak Erdi?” tanya Pak Dandi.
“Sudah, Pah,” jawab Daniel. Safina duduk dipangkuan Daniel sambil memainkan kancing kemeja Daniel.
“Dia minta minta waktu sebulan untuk membuat design hotel,” ujar Daniel.
“Apa tidak bisa lebih cepat?” tanya Pak Dandi.
“Papa ingin segera hotel itu di renovasi. Kalau kelamaan dibiarkan nanti Papa rugi,” ujar Pak Dandi.
“Mau bagaimana lagi, Pa. Dia sedang membuat design rumah,” jawab Daniel.
Mia mendekati badan Daniel sambil mengendus-ngendus. “Mas, darimana?” tanya Mia.
Daniel menoleh ke Mia. “Memang kenapa?” tanya Daniel.
“Masa, sih?” Daniel mencium bajunya. Baju Daniel bau parfum Karima serta bau baby cologne dan minyak kayu putih anak-anak Karima serta bau parfumnya. Semua wewangian numpuk jadi satu di tubuh Daniel.
“Tadi pergi sama siapa, Mas?” tanya Mia curiga.
“Pergi sama Ibu Karima dan anak-anaknya,” jawab Daniel.
“Siapa Karima?” tanya Ibu Gita penasaran.
“Sekretaris Daniel yang baru. Yang menemani Daniel ke Penang Malaysia,” jawab Daniel.
Ibu Gita menoleh ke Pak Dandi.
__ADS_1
“Papa sudah pernah ketemu sekretaris baru Daniel?” tanya Ibu Gita.
“Belum. Kata Encik Ammar sekretaris Daniel cantik. Tadinya ia menyangka kalau ia adalah calon istri Daniel. Eh, tidak taunya sekretaris Daniel,” jawab Pak Dandi.
“Kalau begitu kenalkan ke Bunda,” kata Ibu Gita.
“Istri orang, Bun. Tadi Daniel bilang dia sudah punya anak,” ujar Mia.
“Oh, udah punya suami dan anak?” tanya Ibu Gita kepada Daniel.
“Sudah cerai dengan suaminya,” jawab Daniel.
“Nanti bawa ya, ke ulang tahun Fina. Bunda mau lihat secantik apa, sih,” ujar Ibu Gita.
“Baik, Bunda. Mudah-mudahan Bu Karima mau diajak ke ulang tahun Fina,” kata Daniel.
“Gampang. Tinggal ancam akan dipecat kalau dia nggak mau ikut,” sahut Adrian.
“Jangan! Nanti kalau dia benar-benar keluar bagaimana?” kata Daniel.
“Dasar bucin,” celetuk Adrian.
Safina sudah mengantuk ia mengucek-ngucek matanya.
“Mama.” Safina ingin pindah ke pangkuan Mia.
Mia mengangkat tubuh Safina dari pangkuan Daniel. Daniel melihat beberapa kancing kemejanya terlepas dari lubangnya.
“Yah, Fina. Kenapa kancing kemeja Om dilepas?” Daniel memasang kembali kancing bajunya.
Mia nyengir kuda melihat ulah putrinya.
__ADS_1
“Fina memang begitu. Kalau dipangku Mas Adrian pasti kancing kemeja Mas Adrian dia lepas semua,” kata Mia.
“Biarkan saja. Dia lagi belajar eksplore,” ujar Ibu Gita.