Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
39. Malam Pengantin


__ADS_3

Setelah selesai makan malam Mia dan Adrian kembali ke hotel. Mereka menggunakan mobil Mercedez Benz S Class milik Adrian. Sedangkan Ryan dan Pak Ratno menggunakan mobil Alpard milik Adrian. Mereka menuju ke hotel tempat Adrian menginap.


Adrian membuka pintu kamar. “Assalamualaikum,” ucap Adrian ketika masuk ke dalam kamar. Mia menyapu pandangannya ke sekeliling kamar. Kamar itu berukuran sedang. Yang jelas kamar itu bukanlah kamar khusus honeymoon. Di dalam kamar terdapat tempat tidur, sofa, meja makan, lemari pakaian serta televisi.


Adrian menyimpan tas traveling milik dirinya dan milik Mia di tempat khusus untuk menyimpan koper dan tas.


“Kita sholat isya dulu, ya! Biar kita bisa bebas mau ngapai saja,” kata Adrian. Mia langsung menoleh ke Adrian. “Kita mau apa?” tanya Mia tidak mengerti. Entah karena ia polos sehingga tidak mengerti keiginan suaminya.


“Terserah mau apa saja. Mau nonton sambil menghabiskan kue dari Emak, boleh. Mau belajar kecup, boleh. Mau main suwit, juga boleh,” jawab Adrian.


“Kalau begitu Mia wudhu dulu.” Mia berdiri hendak menuju ke kamar mandi.


“Kamu nggak ganti baju?” tanya Adrian.


“Masa mau wudhu pakai kerudung. Ini kan bukan di masjid tapi di dalam kamar bersama suami,” kata Adrian.


Mia membatalkan menuju ke kamar mandi. Ia mendekati tas travelnya. Ia mengambil pakaian rumah dari dalam tas lalu membawa bajunya menuju ke meja toilet. Mia membuka peniti lalu membuka kerudung. Adrian tersenyum melihat istrinya membuka kerudung, ia bisa melihat rambut istrinya yang indah. Adrian berpikir Mia mengganti baju di sini. Tapi perkiraannya meleset, Mia membawa pakaiannya menuju ke kamar mandi.


“Kenapa ganti bajunya di kamar mandi bukan di sini?” tanya Adrian.


“Nggak, ah. Malu,” jawab Mia. Mia masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Mia keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan baju piyama dan celana panjang.


“Mas mau wudhu dulu,” kata Adrian. Adrian berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Adrian keluar dari kamar mandi. Mia sudah menggunakan mukenah dan menggelar sajadah.


“Ayo kita sholat!” ajak Adrian. Mereka memulai sholat isya berjamaah. Ini pertama kalinya  Mia mendengarkan suara Adrian membaca surat-surat pendek Al Qur’an. Ketika sholat magrib mereka tidak berjamaah karena Adrian sholat magrib di masjid bersama Ryan dan Pak Ratno. Mia mendengarkan Adrian membaca surat-surat pendek. Adrian memilih yang mudah diingat dan terbiasa sering dibacakan. Walaupun sedikit terbata-bata namun tidak masalah buat Mia. Yang penting suaminya sudah mau berusaha untuk menjadi imam untuknya.


Akhirnya Adrian mengucapkan salam, tandanya mereka selesai sholat isya. Mia mencium tangan Adrian lalu Adrian mengecup kening Mia.


“Maafkan Mas. Mas hanya bisa surat-surat pendek yang mudah diingat,” ucap Adrian.


“Tidak apa-apa, Mas. Yang penting Mas sudah berusaha. Kedepannya Mas lebih rajin lagi menghafal Al Qur’an. Yang pendek-pendek saja dulu. Baru yang panjang,” jawab Mia.


“Terima kasih kamu sudah mau mengerti keadaan Mas,” ucap Adrian. Lalu mereka melanjutkan dengan berzikir dan berdoa.

__ADS_1


Setelah selesai sholat mereka duduk di atas tempat tidur sambil menonton televisi. Adrian memilih untuk menonton film action. Mia ikut menonton juga. Ia berusaha mencoba untuk mengerti jalan ceritanya. Jika ada yang tidak ia mengerti ia bertanya kepada Adrian. Tiba-tiba ada adegan percintaan dimana si pria mengecup  si wanita lalu mereka melakukan hal yang lebih intim. Cepat-cepat Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Adrian menoleh ke arah Mia lalu melepas tangan Mia yang menutupi wajahnya. Adrian menatap wajah Mia lalu mengecup bibir istrinya. Tidak ada perlawanan dari Mia maupun balasan dari Mia. Mia hanya membiarkan suaminya mengecup bibirnya dengan dalam dan lama. Akhirnya Adrian melepas kecupannya.


“Boleh Mas meminta hak Mas sekarang?” tanya Adrian. Mia mengangguk.


“Mas akan malakukannya perlahan. Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang saja. Mas akan menghentikannya,” kata Adrian. Mia mengangguk. Ia seperti anak kecil yang menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya. Adrian memulai menyentuh istrinya dengan lembut dan perlahan. Bagaimanapun juga ia harus hati-hati karena takut Mia masih trauma. Akhirnya bukan mereka yang menonton televisi tetapi televisi yang menonton mereka


Keesokan harinya Adrian dan Mia tidak pergi ke mana-mana. Mereka hanya berdiam diri di dalam kamar. Bahkan sarapan pagi Adrian minta diantar ke kamar. Adrian menonton televisi sambil mengusap rambut istrinya. Mia sedang berbaring di atas tempat tidur.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar.


“Room service.” Terdengar suara orang dari luar kamar.


“Sepertinya makanan sudah datang,” kata Adrian. Adrian beranjak dari tempat tidur hendak membukakan pintu.


“Mas, nanti dulu! Mia belum pakai kerudung,” kata Mia. Adrian berhenti dan membiarkan istrinya untuk mengancingkan bajunya dan memakai kerudung. Setelah Mia menutup auratnya, Adrian membuka pintu kamar. Seorang karyawan hotel berdiri di depan pintu kamar. Ia membawakan makanan yang dipesan oleh Adrian. Adrian mempersilahkan masuk. Karyawan itu masuk ke dalam kamar.


“Permisi, Bu,” ucap karyawan itu ketika melihat Mia yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang tutupi oleh selimut. Mia menjawab dengan anggukan. Karyawan itu menaruh nampan di atas meja makan. Adrian memberi tip kepada karyawan tersebut.


“Terima kasih, Pak,” ucap karyawan itu. Lalu karyawan itu keluar dari kamar Mia.


“Kelihatannya enak, Mas,” kata Mia sambil memandangi makanan yang berada di atas meja. Lalu Mia duduk di kursi makan.


“Makan yang banyak! Biar nanti malam ada tenaga,” ujar Adrian sambil mengelap sendok dengan tissue.


“Masih sakit, Mas,” kata Mia.


“Tenang saja, Mas akan melakukannya perlahan,” jawab Adrian.


“Besok kamu boleh tidur seharian di rumah Emak. Mas mau pergi ke Bandung,” lanjut Adrian.


“Mas jadi membeli perkebunan teh?” tanya Mia.


“Jadi. Makanya besok Mas dan Ryan pergi ke Bandung untuk bertransaksi,” jawab Adrian.


“Apa Mas sudah pikirkan kembali?” tanya Mia.

__ADS_1


“Sudah. Prospeknya bagus,” jawab Adrian. Mia menghela nafas. Suaminya memang berjiwa bisnis. Tidak masalah harus mengeluarkan modal besar yang penting kedepannya akan mengutungkan.


Mia mencicipi makanan itu.


“Enak, Mas,” kata Mia.


“Kalau enak makan yang banyak! Kalau kurang pesan lagi,” ujar Adrian. Adrian dan Mia menikmati makan siang mereka.


***


Keesokan harinya Adrian mengantarkan Mia ke rumah Ibu Titin. Ia tidak mengijinkan Mia sendiri di kamar hotel, takut terjadi apa-apa.


“Mak, Adrian titip Mia. Adrian mau pergi ke Bandung,” ujar Adrian.


“Iya. Kamu hati-hati di jalan. Bilang sama Pak Ratno, jangan ngebut nyetirnya!” kata Ibu Titin.


“Iya, Mak,” jawab Adrian.


Adrian menghampiri Mia. “Mas pergi dulu, ya,” pamit Adrian.


“Iya, Mas.” Mia mencium tangan Adrian.


“Assalamualaikum,” ucap Adrian.


“Waalaikumsalam,” jawab Mia dan Ibu Titin. Mia mengantar suaminya sampai ke mobil. Tiba-tiba Pak Kardi tetangga sebelah rumah Ibu Titin lewat di depan rumah Ibu Titin.


“Mau kemana Mas Adrian?” tanya Pak Kardi.


“Mau ke Bandung, ada yang urusan yang harus diselesaikan,” jawab Adrian.


“Oh, begitu. Selamat jalan hati-hati di jalan,” ujar Pak Kardi lalu Pak Kardi berjalan menuju ke rumahnya. Tiba-tiba Adrian mengecup bibir Mia.


“Mas, malu. Nanti ada yang lihat,” bisik Mia.


“Nggak apa-apa. Kan sudah halal,” jawab Adrian. Lalu Adrian masuk ke dalam mobil Mercedes Benz miliknya. Ia duduk sendirian di belakang. Sedangkan Ryan duduk di depan di samping Pak Ratno. Adrian melambaikan tangannya ke Mia. Mia membalas lambaian tangan suaminya hingga mobilpun meluncur meninggalkan rumah Ibu Titin.

__ADS_1



__ADS_2