Pembantu Soleha Bos Berengsek

Pembantu Soleha Bos Berengsek
111. Berbuka Puasa


__ADS_3

Ketika menjelang magrib Karima dan Mia beserta anak-anak perempuan keluar dari kamar. Mereka bersiap-siap untuk sholat magrib. Tak lama kemudian terdengar suara adzan magrib berkumandang. Semua para tamu berbuka puasa, hanya Karima dan Mia yang tidak ikut berbuka puasa. Mereka bersiap-siap untuk sholat magrib.


Setelah para tamu membatalkan puasa, mereka pun bersiap-siap untuk sholat magrib. Terdengar suara komat yang menandakan sholat berjamaah akan segera dimulai. Para tamu berkumpul di tempat untuk sholat dan merekapun sholat magrib berjamaah.


Selesai sholat magrib para tamu dipersilahkan untuk menikmati santap malam sebelum sholat isya dan sholat tarawih.


Karima mencari makanan yang aman untuk ia makan. Ia menggunakan masker agar ia tidak mencium harum makanan yang bisa membuat perutnya mual. Setelah ia menemukan makanan yang akan ia makan, ia memutuskan untuk makan di ruang makan agar ia tidak mengganggu tamu yang sedang makan. Ia takut jika ia sedang makan tiba-tiba mau muntah, nanti bisa merusak selesra makan para tamu.


Karima mengajak Rachel ke ruang makan. Ia makan sambil menyuapi Rachel. Gathan dan Hari juga bergabung dengan mama mereka karena tempat duduk di halaman sudah penuh oleh para tamu Pak Dandi.


Daniel melihat ke sekeliling tempat makan, ia tidak melihat istri dan anak-anaknya. Daniel masuk ke dalam rumah. Ia mendengar suara Gathan dan Hari yang sedang bercanda. Ia mengikuti arah suara itu.


Akhirnya Daniel menemukan istri dan anak-anaknya yang sedang makan di ruang makan. Ia tersenyum melihat istrinya sedang makan tanpa ada rasa mual. Daniel mendekati mereka. Ia berdiri di samping istrinya lalu mengusap kepala istrinya.


“Bisa makannya?” tanya Daniel.


“Bisa, Mas,” jawab Karima.


Ia melihat berbagai macam makanan yang banyak berada di atas meja.


“Ini makanan siapa?” Daniel menunjuk makanan yang belum di sentuh sama sekali.


“Punya Abang,” jawab Hari.


“Punya Gathan,” jawab Gathan.


“Punya Lahel dan punya Mama,” jawab Rachel.


“Yang mana makanan mama?” tanya Daniel.

__ADS_1


“Yang ini, yang ini dan yang ini.” Rachel menunjuk makanan milik Karima.


Daniel tersenyum melihat makanan istrinya cukup banyak. Setidaknya istrinya tertarik untuk makan berbagai macam makanan.


“Makan yang banyak, ya! Ayah ke depan dulu,” ujar Daniel.


“Iya, Ayah,” jawab anak-anak.


Daniel meninggalkan ruang makan dan kembali bergabung dengan para tamu. Karima dan anak-anak melanjutkan makan.


Sejam kemudian terdengar suara komat adzan isya. Karima dan anak-anaknya bersiap-siap untuk ikut sholat isya dan taraweh. Selesai sholat taraweh para tamu pamit pulang.


Setelah semua tamu pulang Daniel dan istri serta anak-anaknya pamit pulang. Daniel dan Karima menghampiri Ibu Gita yang sedang berada di tengah rumah.


“Daniel kapan kamu beli rumah untuk anak dan istrimu?” tanya Ibu Gita.


“Daniel baru mau beli rumah, Bun,” jawab Daniel.


“Di belakang dan samping rumah Karima, Bun,” jawab Daniel.


Wajah Ibu Gita langsung cemberut.


“Kamu gimana, sih? Kamu kalau beli rumah di tengah kota jangan di pinggiran kota. Kejauhan kalau Bunda mau nengok menantu dan cucu-cucu Bunda,” kata Ibu Gita dengan kesal.


“Kan kantor Daniel di sana. Perusahaan milik anak-anak juga lebih dekat dari sana. Jadi Daniel beli rumah di sana juga,” jawab Daniel.


“Lagi pula kalau Bunda mau ke rumah tidak menyetir mobil sendiri. Kan ada supir yang menyetir mobil. Bunda tinggal duduk manis di belakang,” lanjut Daniel.


“Kamu pintar ngeles,” ujar Ibu Gita.

__ADS_1


“Sudah ah, Bun. Sudah malam, kami pamit pulang dulu.” Daniel mencium tangan Ibu Gita. Lalu Karima dan anak-anak juga mencium tangan Ibu Gita.


“Tunggu dulu sebentar. Bunda hampir lupa.” Ibu Gita berjalan menuju ke ruang makan. Ia mengambil kantong plastik yang berukuran besar. Isi di dalam kantong plastik itu terlihat banyak sekali. Ibu Gita memberikan kantong plastik itu kepada Daniel.


“Apa ini, Bun?” Daniel membuka kantong plastik dan melihat isi dalam kantong plastik.


“Itu makanan untuk sahur. Karima tinggal memanaskan saja, jadi tidak usah masak untuk sahur,” jawab Ibu Gita.


“Alhamdullilah. Terima kasih, Bun,” ucap Karima.


Lalu merekapun berjalan menuju ke depan rumah. Bu Gita mengantar anak dan menantunya sampai depan rumah. Mereka pamit kepada Pak Dandi.


“Pa, kami pulang dulu.” Daniel mencium tangan Pak Dandi. Karima dan anak-anak juga mencium tangan Pak Dandi.


“Hati-hati nyetir mobilnya! Ini sudah malam,” ujar Pak Dandi.


“Iya, Pa,” jawab Daniel.


Mereka juga pamit kepada Mia dan Adrian. Mia dan Adrian belum pulang karena ada yang harus Adrian bicarakan dengan Pak Dandi.


“Assalamualaikum,” ucap Daniel sebelum keluar dari rumah orang tuanya.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang. Daniel dan Karima beserta anak-anak pergi meninggalkan rumah Pak Dandi. Mereka berjalan menuju ke mobil Karima yang diparkir di depan rumah Pak Dandi. Daniel membuka kunci pintu dengan mengunakan remote. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Rachel duduk di pangkuan Karima. Gadis kecil itu masih suka duduk di pangkuan mamanya.


“Ma, ngantuk.” Rachel mengucek-ngucek matanya. Tak lama kemudian ia pun tertidur di atas pangkuan mamanya.


Daniel yang sedang fokus menyetir menoleh sebentar ke istrinya. Istrinya seperti sudah mengantuk.


“Kalau sudah ngantuk, tidur saja! Nanti kalau sudah sampai Mas bangunkan,” ujar Daniel.

__ADS_1


Karima mengatur posisi agar ia bisa tidur dengan nyaman. Tak lama kemudian Karima pun tidur sambil memangku Rachel. Daniel menoleh ke samping, Karima dan Rachel sudah tidur. Ia melihat ke kursi belakang melalui kaca spion tengah, Hari dan Gathan juga sudah tidur. Pandangan Daniel kembali fokus ke depan. Ia menyertir mobil menembus kegelapan malam menuju ke rumah mereka di Pamulang.


__ADS_2